Loading

Catatan Bangsa Yang Aneh - Khusni Mustaqim

Alkisah ada dua orang mahasiswa yang sedang sibuk belajar. Sebut saja Si Putih dan Si Hitam. Besok ujian akhir semester tetapi mereka belum belajar sama sekali. Malamnya mereka belajar mati-matian untuk mengahadapinya. Namun alangkah sialnya, malam itu tiba-tiba mati listrik. Kabel listrik di dekat rumah mereka putus tertimpa pohon.

Si Putih marah-marah tidak karuan. Dia menyalahkan segala sesuatu yang menyebabkan ini terjadi. Mulai dari PLN yang lama mengatasinya. Pemkot yang tidak mengantisipasi kejadian tersebut dan menebag pohonya terlebih dahulu. Menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa memperbaiki kabel itu sendiri. Dan sebagainya. Malam itu dia sama sekali tidak bisa belajar . Tetapi apa yang dilakukan SI Hitam malam itu? Mudah saja. Dia menyalakan lilin.

***

Memang bukan matahari yang dapat menerangi seisi dunia. Namun lilin kecil sudah cukuplah untuk menghiasi kegelapan dengan cahaya. Daripada mengutuki kegelapan dan menunggu datangnya pagi, lebih baik menyalakan lilin untuk menghilangkan kegelapan. 
Bagitu pula buku ini mungkin tidak akan dapat mengubah seisi dunia, namun saya harap buku ini dapat membantu mereka yang membacanya untuk mendapatkan pencerahan dan inspirasi. 
Buku ini berisi tulisan-tulisan yang ada di benak saya ketika melihat fenomena-fenomena tertentu. Tulis tersebut saya bentuk menjadi semacam prosa, terkadang semacam monolog dalam diri.

Hanya saja dalam penulisannya mungkin bagi beberapa orang terkesan sedikit kasar dan menyinggung. Namun ini semua hanya agar kita dapat lebih memahami cara pikir yang berbeda dari yang selama ini kita lakukan.

Bagaimanapun juga penulis percaya bahwa segala macam keburukan adalah sebuah efek samping dari sebuah kebaikan. Tidak ada orang-orang yang benar-benar buruk dan tidak ada orang yang benar-benar baik. Segala macam keburukan yang terjadi merupakan ketidaksengajaan.

Karena itu penulis mencoba untuk mengajak para pembaca memahami cara berpikir yang cukup berbeda, dimana apa yang selama ini kita anggap baik sebenarnya tidaklah sepenuhnya baik dan apa yang kita anggap buruk sebenarnya tidak buruk sepenuhnya tergantung darimana kita memandangnya. 

Hanya saja dalam buku ini penulis memberi sedikit penjelasan agar nantinya tidak terjadi kesalahpahaman antara penulis dan pembaca.

Engkau lilin-lilin kecil
sanggupkah kau mengganti
sanggupkah kau memberi seberkas cahaya
Engkau lilin-lilin kecil
sanggupkah kau berpijar
sanggupkah kau menyengat seisi dunia


Benarkah kita ingin seperti mereka ?


Ah, orang Indonesia memang pemalas. Coba lihat di jam kerja seperti ini banyak pegawai yang hanya duduk-duduk saja mengobrol dengan teman sebelahnya. Herannya lagi, hal seperti ini berlangsung setiap saat dari pagi hingga pagi lagi.

Kita yang dalam bekerja pun tidak maksimal. Kerja hanya setengah-setengah yang penting selesai. Etos kerja yang sangat rendah. Datang terlambat, istirahat molor, pulang duluan. Di kantor pun tak tahu apa yang dikerjakan. Bekerja dengan sangat cepat bagai kura-kura. Bekerja segan, nganggur pun tak mau. Meremehkan pekerjaan kita, dan meremehkan masalah yang ada. Terlambat menjadi nama julukan yang telah meresap ke sendi-sendi.

Kerja bagi kita hanya berbatas pada uang bukan ambisi atau citacita. Tak ada kah semangat dari dalam diri kita untuk bekerja sepenuh hati mengorbankan, jiwa, raga, harta, dan waktu demi pekerjan kita?

Pelajar dan mahasiswa pun sama saja. Kita di kelas yang sibuk bermain hape dan tidak memperhatikan apa yang dijelaskan. Kita yang belajar hanya semalam sebelum ujian dan karena ujian,bukan karena mereka ingin tahu. Kita yang mencari angka-angka dalam selembar kertas dan bukan pengetahuan. Kita yang rela membolos untuk urusan kita di luar sementara tidak rela masuk untuk menuntut ilmu.

Begitu pula kita yang mengerjakan tugas sehari sebelum dikumpulkan. Tidak ada keinginan dan ketertarikan sama sekali dalam diri mereka. Tugas adalah beban. Itu saja. Dan hasil dari pendidikan semacam ini ya pegawai semacam itu.

Hukum pun dianggap sebagai sebuah formalitas dan bukan kesepakatan bersama demi kebaikan bersama. Kita memakai helm karena takut kena tilang. Menerobos lampu merah pun tak apa asal jalanan sepi. Polisi pun menilang berdasar tanggal di kalender.

Tata tertib dianggap sebagai banyolan. Hukum ada untuk dilanggar menjadi slogan dimana-mana bahkan di kalangan aparat hukum. Bahkan kalangan terpelajar pun menjadi golongan anti-sistem.

Andai orang Indonesia itu memiliki totalitas dalam bekerja dan belajar, tentu negara ini tidak akan jauh berbeda dari negaranegara Barat dan Amerika. Ah coba kita seperti mereka.

Benarkah kita ingin seperti mereka?

Coba kita lihat. Mereka bekerja keras, dari pagi hingga malam penuh totalitas. Lalu siapa yang mengurus anak-anak mereka jika pagi hingga malam mereka bekerja? Lalu untuk apa suami istri tinggal serumah jika tidak pernah bertemu? Lalu untuk apa keluarga?

Mereka membangun rumah-rumah indah untuk pembantu mereka, Mereka melahirkan putra-putri mereka untuk diasuh oleh sekolah. Itu biasa saja sebenarnya, tapi apakah kita memang ingin demikian?

Mereka bekerja sangat keras. Belajar dengan penuh pengorbanan. Menaati aturan dengan kaku. Stress mejadi makanan sehari-hari mereka. Masalah menebabkan mereka bunuh diri. Dan hari libur mereka habiskan untuk mabuk-mabukan melepaskan segala masalah yang hinggap dikepala mereka. Mereka yang menjalani hidup seperti dikejar setan. Hidup mereka dihabiskan untuk masalah-masalah yang mereka besar-besarkan sendiri. Sedangkan kita melihat masalah hanya sebagai lalat terbang di antara indahnya pemandangan alam dengan usus yang panjang. Benarkah kita ingin seperti mereka itu?

Meyer Friedman berkata bahwa mereka orang tipe A, kita tipe B.  Mereka hidup untuk bekerja. Kita hidup untuk menikmatinya. Lalu kamu hidup untuk apa? Jadi orang pragmatis emang lebih enak daripada jadi orang perfeksionis.


( Password : Novel I-One )



Artikel Terkait:

18 komentar:

August 8, 2012 at 10:35 AM zyi share said...

Ijin Download dulu sob...
:D

August 9, 2012 at 10:57 AM eflianda BlogzZz said...

setiap mampir kesini selalu ada yang baru,,
mantap lah sob,,

August 9, 2012 at 9:48 PM lisgold said...

Good evening, here visiting..

August 10, 2012 at 9:55 PM Em Albar said...

Mantap nih,,,rugi saya kalo tidak download, izin uduh yooo

August 11, 2012 at 2:01 PM Motamatika said...

Mantep bukunya ;D

August 12, 2012 at 10:50 PM Oboy said...

ijin sedot ya sob,,,,sangat menarik sekali neh,,,,

September 6, 2012 at 3:54 PM menithealth said...

baca - baca artikel dulu disini sambil ninggalin jejak ahh..salam kenal sob?

September 7, 2012 at 9:14 AM ketagihan baca said...

Menurut saya bangsa kita lebih dari bangsa yang aneh... :D

Tetapi bangsa yang sangat aneh :D

September 12, 2012 at 1:44 PM Adu - Gadget said...

langsung ane downld aja gan...

tanks...salam.

September 12, 2012 at 2:35 PM Diary Online said...

Menarik kawan,semangat

September 12, 2012 at 7:17 PM Tulisan dan Curhatku said...

Izin sedot :D

Maknyus ini :D

September 12, 2012 at 7:33 PM blogunix said...

ijin donlot.. makasih untuk ebooknya

September 13, 2012 at 12:54 PM anak baik said...

iijin download buat baca baca

September 13, 2012 at 4:09 PM Herman Bagus said...

keren sob... mampir..

September 14, 2012 at 11:23 PM Motamatika said...

Novelnya terupdate terus, mantap..

September 28, 2012 at 4:38 PM Tulisan dan Curhatku said...

Benarkah kita ingin seperti mereka ?? Maknyuss

Post a Comment

 
Subscribe to Novel I-One

Enter your email address: