Loading

Yang Kedua - Ali N


BENIH ITU DITANAM
RIS duduk di dekat jendela ruang kelasnya yang ada di lantai tiga. Senyum-senyum sendiri. Entah kenapa, warna biru langit dan kumpulan gas putih yang menghiasinya selalu tampak menarik bagi gadis sembilan belas itu. Sudah tiga puluh menit ia duduk di sana dan belum merasa bosan sedikitpun. Iris melihat banyak bentuk-bentuk awan yang menyerupai sesuatu. Mobil, beruang, kelinci. Bahkan, Iris kadang melihat awan yang menyerupai mendiang ayahnya. Ayah Iris tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Motornya disambar truk yang oleng karena supirnya mengantuk. Iris tak pernah punya ayah lagi sejak itu. Usianya baru tujuh tahun. Sejak saat itu, Iris sangat merindukan figur seorang ayah.

“Ris, udahan kek bengongnya..” Eta menyikut bahunya pelan, “Gue laper tau.. nyari makan kek..”

Iris ngikik melihat wajah Eta yang manyun gara-gara kelaparan. Persis warga Ethiopia yang busung lapar itu. Ia akhirnya mengangguk dan meninggalkan spot favoritnya.

Eta adalah sahabat Iris sejak mereka pertama kali berkenalan tepat di hari ujian masuk kampus. Kala itu, Iris lupa membawa alat tulis. Eta yang duduk di sebelahnya dengan baik hati menawarkan alat tulis cadangan miliknya untuk Iris pakai. Setelah mengobrol lama, rupanya Iris dan Eta berdomisili di daerah yang sama. Hanya beda wilayah kompleks saja. Ketika mereka sama-sama lulus ujian masuk, keduanya pun memutuskan untuk mencari kamar kos berbarengan. Akhirnya, kedua gadis itu malah menyewa satu kamar kos untuk berdua agar lebih murah.

“Makan apa kita?” sebelum Eta menjawab, Iris buru-buru menambahkan, “Gue nggak mau makan soto depan kampus lagi ah.. bosen gue, ta..”

“Airis, sebenernya gue juga bosen, tapi, satu-satunya tempat makan yang pemandangannya bagus cuma di situ doang! Serasa ada di taman bunga gitu kan. Warna-warninya bikin seger mata... hahahaha!” Iris paham betul arti „pemandangan bagus‟ bagi sahabatnya bukan bunga warna-warni yang kebetulan ada di toko bunga di seberang tukang soto itu, tapi pegawainya!

Pegawai toko bunga itu bernama Egi, lelaki berusia akhir dua puluhan, berkacamata, agak gemuk, dan sedikit berwajah oriental. Eta memang selalu suka cowok-cowok yang agak berdaging. Bikin gemas, katanya. Kalau menurut Iris, Eta suka cowok berdaging hanya untuk memperbaiki keturunan. Ya, tentu saja karena Eta berbadan kecil dan tinggi. Mengingat Egi, membuat Iris ingin tertawa. Cara Eta mengajaknya berkenalan benar-benar konyol sekali. Kala itu, kebetulan Egi sedang membeli soto. Eta pura-pura menanyakan soal bunga-bunga padanya, seolah ingin memesan karangan bunga. Di akhir obrolan, Eta akhirnya menanyakan namanya dan berkenalan. Konyolnya, Eta juga mengatakan: saya mesen karangan bunganya kapan-kapan ya, Koh. Kalau temen saya ini udah dapet jodoh.

“Soto dua ya, pak! Pake nasi!” Suara Eta mengembalikan Iris dari lamunannya.

Tukang soto manggut-manggut dan langsung meracik dua porsi untuk Eta dan Iris. Iris menyenggol kaki Eta pelan, “Kalo nasi nya aja bisa nggak, ta? Enggak usah pake soto...” bisiknya.

“Bisa, kalo lu yang dagang sotonya!”

Lima belas menit kemudian, dua piring nasi sudah tak bersisa, soto pun sudah tinggal kuahnya saja. Eta melirik Iris yang masih sibuk mengais sisa-sisa daging di mangkuk sotonya.

“Bosen-bosen abis juga!!” katanya meledek. Iris cuma nyengir. “Balik yuk, Ta. Sebelum gue berubah pikiran dan mesen satu porsi lagi...”

“Bentar dulu, gue kok belum liat si ndut yaa..” Eta menjulur-julurkan lehernya, berusaha melihat penampakan Egi di seberang sana. Tapi, yang dicari tak kunjung terlihat. Iris ikut menjulur-julurkan lehernya, memicingkan mata. Ia lalu geleng-geleng kepala, “Lagi cuti kali, ta..”

“Tunggu-tunggu.. itu siapa tuh??” Seorang pria keluar dari dalam toko bunga itu, membawa ember yang penuh bunga berwarna kuning. Pria itu bukan si ndut yang ditaksir Eta. Dia lebih tua. Iris merasa belum pernah melihatnya.

“Ndut lu kurusan kali, ta..” kata Iris asal saja. Eta menghadiahkan pukulan di paha Iris atas kata-kata asalnya barusan.


“Beda, odong! Itu mah bapak-bapak!”

“Nyari si ngkoh ya, neng?”

Asisten tukang soto yang sedari tadi memperhatikan mereka sibuk menjulurkan leher, akhirnya bersuara. Eta dan Iris menoleh dengan muka merah. Saling injak kaki. Mereka cuma terkekeh saja, tidak menyahut.

“Dia lagi pulang kampung, neng. Bapaknya sakit. Nggak tau baliknya kapan. Sekarang yang punya jadi ngurus tokonya sendiri dah tuh.”

Iris dan Eta melirik lagi toko bunga itu. Si Pria sedang melihat ke arah mereka. Panik, Iris dan Eta buru-buru beralih lagi ke asisten tukang soto.

“Ini jadi berapa, bang?” Eta cepat-cepat mengeluarkan dompet.

“Delapan belas ribu, neng.” “Nih, makasih ya, bang!” Setelah menyerahkan uangnya, Eta langsung menarik Iris meninggalkan tempat itu.

“Kalo tuh bapak-bapak tau kita nyariin si Egi, trus bilang ke si Egi nya, tengsin gue!!” katanya. Iris cuma mengangguk-angguk. Sebelum pergi, Iris melirik toko bunga itu sekali lagi. Pria tadi sudah berbalik masuk ke tokonya. Pemilik toko bunga?

***** 

Detik itu, tersimpan dalam benakku secara tak sengaja.
Sekelebat bayangmu, kekal dalam memori di kepala.
Aku terpesona…

Pulpen dalam genggaman Iris belum juga berkurang tintanya. Kertas di hadapannya pun masih kosong meski jam kuliah sebentar lagi berakhir. Tak sedikitpun ceramah dosen masuk dalam kepalanya. Ia melanglang buana di dunianya sendiri. Wajah pria yang dua jam lalu ia lihat di toko bunga masih terbayang dalam ingatannya. Ada perasaan aneh dalam hati Iris. Dia tak tahu apa nama rasa itu.

“... yaaa, jadi saya minta makalahnya dikumpulkan minggu depan ya!! Kuliah hari ini cukup sampai di sini, sampai ketemu minggu depan.”
Suara ribut kursi yang bergeser mengembalikan Iris ke kelasnya. Dia melirik Eta,
“Makalah apaan, ta??” Eta geleng-geleng kepala, “Bengong aja sih lu dari tadi!” sahutnya, “Makalah Patofisiologi !”
“Oohh..” Iris mengangguk-anggukkan kepalanya. “Sendiri-sendiri ta?”
Eta melotot kesal, “Berdua, Ris!! Elu sama gue!! Isshhhh...”

“Sip sipp.. jangan melotot gitu lah, ta.. mata lu mau loncat keluar tuh!” Iris cekikikan. “Abis ini lu langsung balik, kan? Hari ini jatah lu beresin kosan!”

“Oh iya! Soriiiii banget, Ris..” Eta yang sedari tadi sibuk merapikan buku-bukunya menoleh dengan wajah penuh penyesalan, “Gue ada praktek susulan di lab, gantiin dulu ya, nanti jatah lu gue yang ngerjain deh.. bawa motor gue sana nggak papa..soriii banget ya ngerepotin..” Eta menyerahkan kunci motor matic nya pada Iris.

Iris bengong. “Gue kan nggak gitu lancar bawa matic, ta..”

“Bisa dehh, gampang kok.. gas-rem-gas-rem doangan.. okee?? okeee?? Gue ke lab dulu yaaaa!!!”

Eta meninggalkan Iris yang masih memandangi kunci motor dalam genggamannya dengan tampang cemas. Teringat saat terakhir ia mengendarai motor matic, kandang ayam dekat kosannya menjadi korban. Iris menarik napas perlahan. Berusaha untuk tenang. Sudah lima menit ia berdiri di parkiran kampus sambil memandangi motor matic Eta. Gampang, Ris.. gasrem-gas-rem doang.

Iris menyalakan motor, sukses. Sekarang, diarahkannya motor itu keluar dari area parkir, sukses. Sedikit menyenggol kaca spion motor orang, tapi tak masalah. Kini ia berhenti di depan gerbang kampus. Ia harus melawan arus sebentar untuk pindah jalur ke seberang kampusnya. Segumpal ludah tertelan sudah. Gas-rem-gasrem.. gumamnya dalam hati.

Gas diputar dan wuuuuuuuuusssssssssshh, saking gugupnya Iris lupa menekan rem. Motor melaju cepat menyeberang jalur. Tidak berhenti, terus bergerak maju dengan sangat cepat!

“MINGGIIIIIIIIIIIIRRRRR!!! AWAAAAASSS AWAAAAAAASSSS!!!” Bunyi roda-roda kendaraan berdecit di jalanan. Semua dihentikan paksa oleh pengendaranya untuk menghindari motor matic yang melaju dengan gila-gilaan.
“AWAAAAAAAAAAAAAAAASSSSSSS!!!!!!!! MINGGIR WOIIIIIIII!!!” Dan..
BRUAKKKKKK!!!! Ember-ember bunga terguling di sana-sini. Bunga-bunga yang berwarna-warni itu pun berserakan ke mana-mana. Iris mengelus-elus lutut dan sikunya yang lecetlecet.

Ia meringis kesakitan. Orang-orang mengerubunginya. Tiba-tiba seseorang menyeruak kerumunan itu,
“IRISSSSS!!! ASTAGA IRISSSS!!!” Eta memegangi pipinya sendiri dengan panik.
“LU NGGAK PA-PA KAN???? ASTAGAAA!!!” “Kan gue udah bilang taaa, gue nggak lancar bawa matic..” sahut Iris masih sambil mengelus-elus lutut dan sikunya yang kini terasa sangat perih. Iris bersyukur ia tak lupa memakai helm tadi. Seorang petugas polisi datang dan membubarkan kerumunan orang yang menontoni kekacauan akibat kecerobohan Iris itu. Pria pemilik toko bunga tampak syok melihat bunga yang akan ia jual sudah menjadi sampah jalanan.

“Anda butuh ke rumah sakit, mbak?” si petugas polisi berjongkok di samping Iris. Eta menyingkirkan motor matic nya ke trotoar.

Iris menggeleng, “Enggak usah, pak.. nanti diobatin teman saya aja..” katanya. “Pak, bunga-bunga saya nasibnya gimana ini?” pria pemilik toko bunga tiba-tiba bersuara. Petugas polisi yang berjongkok di samping Iris menoleh ke arahnya. “Diselesaikan secara kekeluargaan saja, pak..” kata petugas polisi itu, ia melirik Iris, “gimana, mbak?” Iris bengong. Eta menoleh ke arahnya. Mulutnya komat-kamit tanpa suara, gue enggak ada duit.. Iris merasakan bulir keringat mengalir dari dahi ke dagunya. “Duh, maaf Pak..untuk sekarang saya lagi enggak ada uang.. saya anak kosan, Pak..” Iris meratap, melirik ke arah si pemilik toko bunga, seorang pria berambut pendek dengan kumis dan janggut tipis seperti habis dicukur kasar. Cukup tampan jika dilihat dari jarak sedekat ini. Cu-kup. Pria itu menggeleng, “Terus nasib bunga saya gimana, Mbak? Saya pasti rugi kalau enggak diganti..”

Iris menggigit bibir bawahnya sedikit. Bingung. Dia tak mungkin menghubungi orang tuanya di rumah dan minta uang untuk ganti rugi. Ibunya pasti akan sangat marah sekali. Tapi, dia sendiri juga tak ada uang lebih untuk mengganti bunga-bunga yang ia lindas barusan.

“Begini saja Pak, Mbak, ” si petugas polisi tampaknya memahami posisi Iris yang seorang anak mahasiswi kosan berkantong pas-pasan, “Mbak bisa meninggalkan identitas Mbak ke Bapak ini biar gampang dihubungi, selebihnya mau bagaimana, bisa mbak dan bapak bicarakan lagi baik-baik nanti.. kondisi mbak juga kan sedang kurang baik seperti ini ya.. ini sih sekadar saran saja dari saya, bagaimana, Mbak? Pak?”

Iris melirik Eta yang langsung angguk-angguk kepala tanda setuju. Ia beralih ke si pemilik toko bunga yang tampak berpikir. Lantas pria itu mengangkat bahunya,

“Ya sudah, mau bagaimana lagi.. saya rasa cuma itu satu-satunya jalan keluar untuk saat ini..”

Iris lalu mengeluarkan secarik kertas dan pulpen dari dalam tasnya, menuliskan nama dan nomor ponselnya di sana. Ia menyerahkan kertas itu pada si pemilik toko bunga, “Maaf banget ya, Pak.. pasti saya ganti kok, Pak.. sekali lagi, maaf ya, Pak..”

Petugas polisi memapah Iris untuk berdiri, “Lain kali hati-hati, Mbak..” Kali ini, Eta yang mengendarai motor sementara Iris duduk di belakangnya.

Kata „maaf‟ masih keluar dari mulutnya. Ia merasa sangat tidak enak hati. Eta menyalami petugas polisi dan pemilik toko bunga, “Maaf Pak, atas kecerobohan teman saya ini..mari..” Dari kejauhan, Iris sempat melirik lagi ke arah si pemilik toko bunga itu. Pria itu masih memperhatikannya. Tampan..

Ikuti Cerita Selanjutnya....!!!!


Password : Novel I-One






Artikel Terkait:

2 komentar:

May 31, 2013 at 12:32 AM TrafikID.com said...

TrafikID.com The Best Auto Trafik Exchange, 7 Seconds Surfing Web http://trafikid.com

May 31, 2013 at 8:44 AM Uda Awak said...

Novel yang bagus dan enak dibaca. Mudah2an menjadi salah satu novel yg menjadi sumber inspirasi buat pembaca.

Post a Comment

 
Subscribe to Novel I-One

Enter your email address: