Loading

Suro Buldog - Pandir Kelana

Suro Pranoto nama aslinya, tetapi karena penampilannya yang mampu menggugah imajinasi akan “anjing buldog” itu, ia memperoleh nama panggilan Suro Buldog dari teman-temannya. Ia bangga akan nama itu.
Seusai mengikuti pendidikan teknik pada Europese Ambacht School, idam-idamannya untuk bekerja di Staats Spoorwegen, Jawatan Kereta Api, terkabul dan ia mulai meniti karir sebagai montir di bengkel lokomotif Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia menikah dengan seorang mojang Priangan. Namun nasib menentukan lain. Di luar kehendaknya, ia mencederai kepala bengkel yang Belanda totok itu dan memperoleh ganjaran hukuman 20 tahun, di penjara darurat Boven Digoel, Tanah Merah, Irian Jaya.
Ternyata, kepala bengkel yang semula dinyatakan akan menjadi lumpuh seumur hidup itu sembuh. Suro Buldog memperoleh keringanan hukuman dan dipindahkan ke Penjara Nusakambangan.

Sesudah dinyatakan bebas hukuman, ia bekerja sebagai mandor kebun, di sebuah perkebunan dan pabrik gula, dengan menyandang nama Mandor Darmin. Di tempat itulah Mandor Darmin merasa terpanggil untuk dapat berbuat sesuatu bagi bangsanya. Perjalanan hidupnya mempertemukan Darno Kusir yang Suro Buldog itu, dengan suami bekas istrinya, Chudancho Tardana, yang perwira PETA dan untuk selanjutnya ia bergerak di bawah tanah, sampai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, untuk kemudian menghilang begitu saja.
Apakah para pembaca akan berjumpa kembali dengan Suro Buldog, Mandor Darmin, Darno Kusir dalam novel lain, hanya Pandir Kelana yang mengetahuinya.




Artikel Terkait:

1 komentar:

Post a Comment

 
Subscribe to Novel I-One

Enter your email address: