Loading

Bidadari Menara Ketujuh - Yasmi Munawwar

Senja telah mengukir kejayaannya di ufuk barat. Di antara warna pelangi yang merekah seperempat lingkaran singgasananya terbangun. Renai hujan di pucuk-pucuk pinus menjadi rahmat bagi semut merah yang lama merindukan air dari langit. Wajah hutan pinus yang berdebu perlahan tersaput tetesan air dari pasukan awan sore itu. Namun, istana senja dengan mahligai mega-meganya tetap menawan tak terkalahkan.
 
 “Tantri! Tantri,” dari dalam bilik bambu yang reot samar-samar terdengar seorang wanita kurus yang sudah setengah baya memanggil anak gadisnya. “Ya, Bu,” jawabnya singkat. Lalu gadis kecil berumur enambelas tahun itu melangkah menuju bilik ibunya,”ada apa ibu memanggil saya?” 
 
“Duduklah di sini, nduk.” Kata wanita setengah baya itu sambil memandang tepian ranjang bambu tempatnya terbaring lemah. 
 
Tantri adalah anak semata wayang bagi bu Diah yang sudah satu tahun ini terbaring lemah karena penyakit jantung. Kemiskinan yang membelenggu kehidupannya memaksanya harus terkurung di dalam bilik bambu itu tanpa dapat berbuat banyak. Untuk menghidupi anak semata wayangnya pun dia sudah tak mampu. Padahal mencari nafkah untuk puterinya itu harusnya sudah menjadi tanggung jawabnya setelah setengah tahun yang lalu pak Rahman suaminya meninggal karena jatuh dari pohon Enau saat ia hendak mengambil air nira hasil deresan-nya. 
 
“nduk, apakah kamu sudah selesai mencari kayu bakar untuk pesanan pak Karman?” 
“sudah bu, Alhamdulillah masih ada juga persediaan jika nanti ada tetangga yang memesan kayu bakar lagi.” 
“Terimakasih nduk, kamu anak yang sangat berbakti. Maafin ibu, karena ibu tidak bisa berbuat yang terbaik untuk kehidupanmu semoga Allah menempatkanmu di tempat yang mulia di sisiNya karena baktimu pada orang tua.” Ujar bu Diah sambil meneteskan air matanya. 
 
Gadis kecil itu pun kembali terkenang masa-masa indah saat ayahnya masih hidup, dia leluasa untuk bermain bersama teman-teman sebayanya. Tapi, semua itu kini hanya tinggal sebuah jejak kenangan yang hanya dapat di selipkan dalam hatinya. Saat ini dia di hadapkan dengan kehidupan yang keras, ia harus mencari kayu bakar setiap hari untuk sekedar dapat membeli beras dan ikan asin. Malam harinya dia musti belajar ngaji pada seorang ustadz di langgar timur. “Tantri, Tuhan tidak akan memberi cobaan pada hamba-Nya melainkan Dia sudah memperhitungkan kemampuan hamba-Nya itu.” Pesan ustadznya itulah yang selalu menguatkan hatinya untuk menjalani kerasnya hidup dalam kemiskinan. Apalagi di zaman edan ini susah mencari kerja bagi wanita yang hanya tamatan MTS seperti Tantri. Kehidupan yang miskin itu tak membuatnya terpuruk, malah di sela-sela malam dia masih sempat terbangun sekedar untuk bersujud pada Sang Pencipta. 
.
“Bu, jangan pernah berkata itu lagi. Tantri tidak merasa disusahkan oleh ibu, ya smoga kedepannya kita dapat hidup lebih mapan dari sekarang ini. Bukankah Dia Maha Kaya yang kekayaan-Nya meliputi seluruhnya?” 
“Benar nak, tak ada satupun mahluk di bumi ini yang terlewatkan dari menerima rahmat-Nya.” 
 
Bilik itu kembali sunyi, ada beberapa tetes air mata di pipi ibu dan anak itu. Kemiskinan telah menyeret mereka dalam kepedihan relung hati. Namun, jauh di dasar jiwa mereka masih tersimpan semangat dalam melewati duri-duri perjuangan untuk mempertahankan hidup. Peluh telah berpadu dengan do‟a, lelah telah bersatu dengan ikhtiar. 
 
Perlahan malam telah merayapi tanah jawa, gedung-gedung pemerintahan di kota Nampak terang dengan aneka macam bolam. Ruangan tanpa penghuni di malam haripun tak lepas dari cahaya yang begitu terang, tetapi tidak dalam gubuk kecil itu karena yang ada hanyalah sebuah pelitad yang mulai redup kehabisan minyak. 
 
Di sebuah surau pun hanya ada dua buah lampu Petromak yang digunakan menerangi ayat-ayat suci Al Qur‟an ketika santri-santri itu belajar untuk membacanya. Seorang kyai yang sudah sepuh tampak membaca ayat-ayat Al Qur‟an dengan tenang. Jenggot dan kumisnya yang sudah memutih dengan surban yang dikalungkan seolah berpadu mendukung kearifannya. Suaranya masih nyaring ketika ia mulai membaca ayat-ayat suci tersebut. Makhraj dan tajwidnya juga terdengar fasih, hati akan menjadi bergetar saat melafadzkan firman Allah itu. Pengajian itu di bagi menjadi sembilan kelompok dimana tiap kelompok itu terdiri dari lima sampai tujuh santri yang dipimpin serta diajar langsung oleh santri yang dianggap sudah mumpuni dalam ilmu baca Al Qur‟an dan juga ilmu-ilmu lain yang diajarkan oleh sang kyai. Jadi tampak jelas sekali di dalam surau tersebut meskipun sederhana system organisasinya sudah terlihat jelas. 
 
“Tantri!” kyai itu memanggil santrinya yang baru saja usai membaca surah Annisa yang di simak oleh ustadz Heru sebagai pemimpinnya. 
 “Dalem Kyai,” jawab gadis itu sambil menghadap pada Kyai Rahman. Beberapa pasang mata memandang ke arahnya, betapa tidak. Kejadian itu sangat jarang dilakukan oleh Kyai Rahman. Biasanya beliau kalau ada keperluan langsung memanggil salah satu pemimpin santri. Namun, saat Tantri sudah berada di hadapan Kyainya secara perlahan santri-santri yang lain sudah memalingkan wajahnya dan juga telinganya. Mereka semua ingat pesan sang Kyai, “mendengar pembicaraan yang bukan menjadi haknya itu tidak baik, apalagi mengatakan hal-hal yang bukan haknya untuk mengatakannya. Karena telinga itu akan menjadi sumber malapetaka ketika lidah juga sudah mencuri apa yang sudah di dengar oleh telinga.” 
 
“Tantri, ketahuilah nak keabadian itu tidak ada di dunia ini. Kekayaan dan juga kemiskinan itu sejatinya hanyalah sebuah bahan ujian yang diberikan Tuhan bagi mahluknya,” Tantri yang tidak biasanya mendapat wejangan seperti itu hatinya terasa damai, apalagi wejangan itu di dapatnya langsung dari Kyainya sendiri. Ada setetes rona kebahagiaan di wajahnya mendengarkan wejangan tersebut, tak terasa beberapa tetes air mata telah membasahi pipinya. “aku sudah sering melihat dan mendengar baktimu kepada orang tuamu, itu semua sudah menjadi bukti bahwa kamu sudah menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah. Jangan bersedih dengan keadaan yang slama ini kau alami karena segala sesuatunya sudah tertulis sebelum engkau dilahirkan di bumi ini. Dan ketahuilah bahwasanya Tuhan juga memberikan ujian karena Dia juga tahu kepada siapa dia harus memberikan ujian tersebut. Banyak rahasia-rahasia-Nya di balik apa yang sudah menjadi ketentuan-Nya oleh karena itu bersabarlah dan selalu belajar untuk merasa ikhlas atas tiap-tiap sesuatu yang engkau terima, karena dengan anugrah keikhlasan dalam hati nabi Ibrahim AS tidak dapat terbakar oleh panasnya api, karena anugrah keikhlasan dalam hati juga, nabi Ayyub AS tetap beribadah dalam sakitnya dan karena anugerah keikhlasan dalam hati itu juga nabi yusuf terhindar dari perbuatan Zina yang oleh moral tidak dibenarkan. Ikhlas juga yang mendasari ketabahan Rosulullah Muhammad ketika beliau kehilangan istrinya Siti Khadijah. Ingatkah kamu ketika Rosulullah Muhammad mengganjal perutnya dengan batu karena menahan lapar? Semua itu menggambarkan bahwasanya orang yang dicintai Allah sekalipun tidak pernah luput dari yang namanya ujian. Namun, tidak ada beban yang mampu meggoyahkan kedamaian hati meskipun azab dan sengsara yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada Beliau. Beliau malah menganggap azab dan sengsara itu sebagai bukti kekuasaan Dia Yang Maha Bijaksana, karena sejatinya tidak ada yang sia-sia dari apa yang pernah di ciptakan-Nya.”

“Matur nuwun Yai Atas nasehatnya,” suaranya melemah. Lalu katanya, “memang kemiskinan yang selama ini saya rasakan teramat berat yai. Namun, disisi lain saya bersyukur karena Allah masih tidak henti-hentinya merahmati saya dengan nikmat batin.” 
 
“Syukurlah kalau kamu juga memahaminya, nak. Sekarang pulanglah! Biar kamu diantar oleh empat orang ustadzmu. Bersabarlah! Karena kesabaran itu tidak ada batasnya dan kesabaran.” 
 
Mendengar petuah kyainya yang terakhir itu, dadanya menjadi sesak seketika. Banyak pertanyaan keanehan yang ia rasakan menghunjam jantungnya,”Malam ini aku tiba-tiba dipanggil oleh yai untuk mendapatkan petuah yang sangat jarang dilakukan. Dan tiba-tiba juga aku diperkenankan untuk pulang dan diantar langsung oleh ustadz, apa maksud yai sebenarnya?” Katanya dalam hati. 
 
Di sepanjang jalan ia masih merenungi kejadian yang terasa janggal itu. Berbagai syak wasangka di hatinya mulai menggerayangi. Keempat ustadz yang sengaja diperintahkan untuk mengiringinyapun di sepanjang jalan tak berkata apa-apa. Hanya suara langkah kaki mereka berlima saja yang sejak tadi berusaha memecah kesunyian.

Sesampainya dihalaman gubuk yang menjadi tempat tinggalnya, Tantri menjadi sadar dan mulai mengerti arah Wejangan kyainya. Dan tanpa pikir panjang lagi dia langsung masuk kedalam gubuk yang gelap gulita itu.


( Password : Novel I-One )





Artikel Terkait:

1 komentar:

October 25, 2015 at 10:33 AM adysanghamba said...

Assalamu'alaykum!
Pingin baca ful v gak di download! Carax g mana ya?

Post a Comment

 
Subscribe to Novel I-One

Enter your email address: