Loading
Showing posts with label Novel Remaja. Show all posts
Showing posts with label Novel Remaja. Show all posts

Ksatria Negeri Salju - Sujoko

Yu Liang Pay

Pegunungan Fan Cing san merupakan pegunungan yang sangat terkenal di Cina Tengah.Salah satu daya tarik pegunungan ini adalah puncak awan merah atau Hung Huang Teng yang merupakan salah satu dari tiga puncak pegunungan yang berada di sebelah utara kota Kwei Yang yang termasuk propinsi Kwei chow (Guizhou). Jika ada awan yang berarak ke puncak ini pawa waktu fajar atau sore, tampaklah semburat kemerah-merahan pada awan itu. Pada jaman kisah ini dituturkan yaitu masa dinasti Sung utara, puncak ini juga dikenal dengan nama puncak Tiong Kiam atau pedang tengah, karena memiliki pemandangan yang unik di puncak yaitu adanya bukit pagoda, yang menjulang di antara bebukitan. Pada waktu awan berarak dan menyelimuti bebukitan, maka puncak ini dilihat dari kejauhan seperti pedang raksasa yang tinggi menembus langit.

Memandang jauh kebawah dari puncak ini terlihat bentang alam yang sungguh mempesona. Bagian dasar pegunungan yang hijau rapat oleh belantara hutan subtropis, bagian atasnya ditumbuhi hutan campuran luruh daun, bagian tengah yang ditumbuhi pohon pinus dan bagian puncak tumbuh pohonan yang mulai jarang diselingi semak dan rerumputan disela-selanya yang pada musim panas menghijau bak beludru.

Pucak Tiong Kiam berketinggian 340 m dan diameter 50 m dari pangkal punggung suatu bukit. Puncak ini dikelilingi bebukitan. Bukit-bukit di sebelah barat dan di sebelah timur dibelah oleh sungai Wu (anak sungai Yang Ce Kiang) yang mengalir dari pegunungan Shao Tong san di wilayah Kwei chow selatan menuju ke kota Chuan Sing, dan bertemu dengan sungai Yang Ce Kiang di timur kota ini, terlihat dari puncak seperti lekuk tubuh naga. Sungai ini pula yang memisahkan propinsi Hunan disebelah timur dengan Propinsi Kwei chow di sebelah barat. Dari puncak ini di sebelah timur meski berjarak ribuan li masih terlihat kota Shao Yang, di sebelah selatan terdapat kota Kwei Yang, yang merupakan kota terbesar di wilayah Kwei chow.

Berlawanan dengan tamasya alam disekelilingnya yang demikian penuh pesona. Pemandangan di bukit pedang itu sendiri sungguh mengerikan. Pada akhir jaman Tang, orang-orang Tionggoan sangat gemar membentuk sekte-sekte magis. Sekte-sekte seperti ini belum mengenal mengubur mayat atau membakarnya secara layak. Mereka memang mengubur badan namun setelah sepuluh tahun lebih, kuburan tersebut dibongkar, dan tengkoraknya dibuatkan lubang-lubang pada dinding bukit pedang, dan menjadikan puncak pedang sebagai berhala sesembahan. 
 
Karena letaknya yang ditengah-tengah dan dianggap strategis, selama ratusan tahun pengunungan ini dijadikan rebutan untuk menjadi markas perkumpulan kaum bulim dan kangouw. Sudah berpuluh perkumpulan atau partai muncul dan runtuh di pegunungan ini. Karena selalu jadi rebutan, tak terhitung pula berapa ribu manusia telah binasa menjadi korban nafsu angkara ingin mendapatkan posisi di tengah ini, meski pada kenyataannya dibandingkan keuntungan lebih banyak kerugian yang ditangguk oleh mereka yang tinggal di pegunungan ini. Satu dapat, yang lain beramai-ramai mengeroyoknya bagaikan seekor harimau dikeroyok puluhan serigala. Dengan melihat deretan relung tengkorak di bukit pedang yang sangat tinggi bagai jendela-jendala pagoda, orang akan tahu betapa di tempat yang mestinya damai itu telah banyak nyawa manusia melayang. Maka lambat laun karena sudah terlalu bosan dan lelah, puncak ini akhirnya ditinggalkan oleh rombongan penghuni terakhir dari sekte Shin.

Setelah puluhan tahun kosong, di akhir dinasti Tang puncak ini kembali di datangi oleh berbagai golongan karena terjadi pergolakan di mana-mana. Kelompok yang tidak ingin terlibat dalam pertikaian akhirnya kembali berbondong-bondong ke Fan Cing san. Salah satu rombongan yang kembali datang adalah orang-orang dari sekte Shin yang dipimpin oleh Huang Shin. Dulu Huang Shin muda dan kawan-kawannya termasuk yang menolak untuk meninggalkan Fan Cing san, namun tak mampu menolak keputusan tetua. Rombongan lainnya berasal dari berbagai kota. Dua rombongan yang terbesar adalah golongan Duang yang dipimpin oleh Tan Hong Bu dari Siang Tan dan golongan Im Yang Pay yang dipimpin Kang Kiu Yang dari Kwei Yang. Untuk menghindari perebutan demi perebutan Huang Shin, memutuskan untuk menyatukan berbagai golongan yang berebut itu. Huang Shin membagi wilayah-wilayah yang bisa ditempati dengan cukup adil, dan menawarkan kepada tiga kelompok terbesar untuk menyatu membentuk satu perkumpulan besar. Huang Shin membangun pusat perkumpulan di puncak bukit di sebelah selatan Tiong Kiam. Singkat cerita terbentuklah satu perkumpulan besar gabungan beberapa golongan yang dipimpin tiga golongan, yang bernama Yu-liang-pay.

Untuk menghindari bentrokan maka Huang Shin membuat peraturan bahwa ketua partai harus dijabat secara bergiliran dari ketiga golongan. Dengan urutan sekte Ming, Duan dan Im Yang. Adapun para anggota dibebaskan untuk mempelajari ilmu dari ketiga perkumpulan itu. Untuk menyatukan berbagai kelompok, maka selama beberapa tahun Huang Shin bersama kedua tetua yang lain menciptakan suatu ilmu pedang baru yang dinamakan Yu Liang Kiamhoat. Pada masa inilah tradisi menyimpan tengkorak di dinding bukit dihapuskan. Itulah sekilas sejarah Yuliang-pay, tempat kisah ini dimulai.

Pagi itu, tanggal ke enam bulan ke lima, tahun 978 merupakan suatu pagi yang cerah di musim semi. Burung-burung yang beterbangan, kupu-kupu yang menari disela-sela semak dan bunga-bunga yang bermekaran, kesegaran udara musim semi yang melapangkan dada dan urat-urat kepala.

Beberapa pepohonan yang semula tinggal batang dan ranting seperti bayi yang bugil, kembali dihiasi daun-daun baru. Sedangkan pohon yang lain menyambut datangnya musim semi  dengan menumbuhkan kuncuk-kuncup bunga yang sebagian telah bermekaran. Bagi mereka yang pernah mengujungi keindahan musim semi di puncak ini tak heranlah mengapa tempat ini menjadi rebutan. Fan Cing san adalah gunung yang menyimpan keragaman bunga yang paling tinggi seluruh daratan Cina waktu itu, lebih dari empat per lima bunga yang ada di Tionggoan dapat dijumpai di sini, mulai bunga siang, bunga lee, bunga kiok, bunga anggrek, bunga jit dan yang lainnya. Namun kedamaian pagi itu terusik dengan suara kaki-kaki manusia yang menapaki puncak secara berombongan. Berbondong-bondong rombongan orang berpakaian singsat menaiki dari berbagai jurusan. Sebagian naik dengan berjalan lambat sambil menikmati wisata alam gunung Fan Cing san yang sangat indah. Kelompok yang datang belakangan menaiki punggung bukit dengan gerakan yang sangat gesit. Beberapa orang dari setiap kelompok terlihat membawa pedang atau golok. Dari gerakan dan dandanan, tampak mereka adalah orang-orang kangouw yang berkepandaian. Ada apakah yang terjadi di puncak sana?
 
Di awal musim semi ini, Yu-liang-pay mengadakan pesta ulang tahunnya yang ke 100. Ulang tahun yang spesial sehingga dirayakan cukup meriah oleh Yu-liang-pay. Tamu dari berbagai golongan semua diundang dalam pesta itu. Dari rombongan putih terlihat tamu dari Siauw-lim Pay, Kun-lun-pay, dan Kong Thong Pay, ketiga perguruan ini merupkan perguruan tua yang sudah berdiri pada masa itu. Dari rombongan lain dari berbagai golongan, sedangkan dari golongan hitam juga ikut menghadiri pesta yang berasal dari kelompok Pek Tung Pang, Ang Lian Pang, Hek In Pang, dan Tok Nan-hai Pang. Saat itu di halaman depan Yu-liang-pay yang luas telah dipasang tenda, dan ditata kursi secara setelah lingkaran. Tanpa dipersilakan para tamu langsung mengambil posisi duduk masing-masing, seolah-oleh sudah tahu dimana tempat mereka seharusnya. Kelompok hitam dan putih tanpa dikomandopun mengambil posisi yang memisah, kelompok pendekar berada di sebelah kanan sedang kelompok penjahat berada di sebelah kiri. Riuh rendah obrolan yang diucapkan oleh semua orang seperti pasar. Harap maklum mereka jarang sekali dapat kesempatan bertemu dengan anggota partai atau perguruan lain, apalagi dalam jumlah yang boleh dikatakan lengkap seperti saat itu. Obrolan paling hangat tentu saja kabar burung mengenai ilmu pedang Yu Liang Kiamhoat yang berhasil disempurnakan oleh Yu Liang Pangcu. Seperti apakah gerangan ilmu pedang Yu Liang Kiamhoat itulah yang membuat penasaran kaum kangouw, sehingga mereka rela berlelah-lelah menempuh perjalanan ribuan li. Di tengah-tengah ruangan yang bertenda berdiri sebuah panggung, tempat berbagai pertunjukan.

Pada waktu itu Yu-liang-pay dipimpin oleh Kwan Liong Ping, generasi ke empat dari golongan Duang. Jika melihat betapa besarnya Yu-liang-pay yang memiliki banyak anggota, area gedung-gedung yang luas dan usia yang cukup tua untuk ukuran partai saat itu, maka para tetamu memandang heran dengan penampilan Yu Liang Pangcu Kwan Liong Ping ini. Usia Liong Ping saat itu tidak lebih dari lima puluh lima tahun, suatu umur yang termasuk sangat muda untuk ukuran pemimpin partai besar saat itu. Sebagai perbandingan ketua Siauw-lim Pay sudah berusia seratus sepuluh tahun, sedangkan ketua Kong Thong Pay berusia sembilan puluh lima tahun.

Setelah tamu berdatangan Liong Ping memasuki ruangan dan duduk di kursi yang telah disediakan. Ia memakai jubah sutera biru tua yang bersulam, tampak gagah berwibawa. Sinar matahari pagi yang mulai terang membuat wajah ketua ini tampak dengan jelas oleh seluruh hadirin. Meskipun sudah berusia di atas lima puluh tahun, namun wajah itu masih tampak tampan dan padat. Janggut dan kumis pria yang agak kurus dan jangkung tetapi masih kelihatan gagah bersemangat ini dicukur rapi. Rambutnya disisir rapi dan kelimis, disanggul ke belakang, dan ditali kain yang menjuntai. Di sebelah kirinya duduk Sam Pangcu Siong Hok Cu seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun yang bermuka mulus, berjenggot tipis dan bertubuh tinggi gagah. Kepalanya ditutup kopyah pada bagian belakang terlihat mencuat ke samping khas gaya Tang. Sedangkan di sebelah kanan duduk Ji Pangcu Lauw Kian Bu, pria berusia lima puluh tiga tahun, berwajah dusun berbaju hijau tua sederhana dari kain katun. Di belakang ketiga orang ketua ini duduk para tetua yang berusia lebih dari enampuluh tahun dengan sikap keren, semuanya berbaju hitam dan berpenutup kepala kain warna merah. Mereka tokoh kawakan dari generasi tua. Setelah hampir semua perwakilan yang diundang datang, Ji Pangcu menaiki panggung dan berkata dengan lantang:

“Cuwi sekalian, mewakili tuan rumah kami mengucapkan terima kasih yang sangat mendalam atas kehadiran cuwi memenuhi undangan kami. Perkenalkanlah saat ini kami bertiga adalah pimpinan di Yu-liang-pay, toa pangcu kami adalah Kwan Liong Ping, aku sendiri ji pangcu dan yang duduk di samping kiri toa pangcu adalah sam pangcu Siong Hok Cu. Berbahagia sekali pada kesempatan yang baik ini kami dapat merayakan ulang tahun Yu-liangpay yang ke seratus. Pertama-tama perkenankanlah kami untuk menghormati leluhur kami terutama adalah sucouw kami Huang Shin.”

Dengan dipimpin oleh Kwan Liong Ping yang membawa tiga biting dupa, para murid Yuliang-pay kemudian berlutut menghormat meja sembah yang di atasnya masih disimpan abu Huang Shin dan kedua pendiri lainnya. Pada bagian yang biasa ditempati cermin pada meja itu ditempel gambar Huang Shin dalam ukuran cukup besar. Setelah selesai bersembahyang ji pangcu berseru:
 
“Silahkan dicicipi hidangan arak dan makanan yang telah kami siapkan, dan hiburan tari-tarian yang sebentar lagi akan kami panggungkan.”

Setelah semua tamu menghaturkan selamat dan memuji keberhasilan Yu-liang-pay membentuk partai yang besar dan kuat, mereka kembali duduk ke tempat masing-masing sambil  terus saling bercerita tentang pengalaman mereka di dunia persilatan. Dengan cekatan pelayan mengedarkan arak dan makanan. Mereka semua makan minum dengan gembira sambil menikmati hiburan tari-tarian baik tarian yang berasal dari timur maupun dari barat. Sampai kemudian terdengan celetukan dari salah seorang tamu. 

“Wahh...kapan pertunjukkan Kiamhoatnya?”

Celetukan itu segera ditingkahi berbagai cecowetan tamu lainnya. Toa pangcu memberi kode pada seorang murid. Selanjutnya seorang murid wanita maju ke atas panggung. Ia berumuran tigapuluh tahunan, wajahnya terlihat cukup cantik dan montok, namun baju hitam dan pedang yang berwarna gelap pekat yang dikenakannya membuat kesan yang menggiriskan. Setelah memberi hormat ke semua sisi dengan bersoja, mulailah ia memainkan ilmu pedang Yu Liang Kiamhoat. Gerakannya mula-mula lembut dan indah, seperti tarian bidadari, tapi lama-kelamaan gerakannya makin hebat, amat sukar diduga perubahannya sehingga pandang mata penonton yang tingkat ilmunya rendah berkunang-kunang dan silau dibuatnya. Sinar pedang gelap itu bergulung-gulung dan membentuk lingkaran-lingkaran panjang dan luas seperti seekor naga hendak membelit tubuh mangsanya. Ujung pedangpun seolah berubah menjadi puluhan banyak saking cepat dan tak terduga. Gerakan itu seakan-akan memancarkan hawa magis yang dasyat sehingga penonton yang jaraknya jauh terlihat menggoyang kepala dan badannya karena seakan-akan serangan pedang itu mengarah ke dirinya. Pada jurus ke enampuluh setelah bersalto dua kali secepat kilat wanita itu berteriak sambli melontarkan pedangnya ke belakang.


Ikuti Cerita Selanjutnya....!!!


( Password : Novel I-One )



Kau Tak Perlu Mencintaiku - Almino Situmorang

Hanya ada satu pria yang mampu membuat hatinya bergetar.
Tapi, hingga kini, entah mengapa, ia masih ragu menerima cintanya.
 Tolong beri tahu aku nomor teleponnya. Siapa saja, seseorang di dunia ini yang tak punya masalah. Kenalkan aku padanya. Akan kuberikan dia medali.

Di kantor aku tak menemukannya.

Layla yang cantik sedang bergumul dengan kanker payudara.

Pak Bowo sedang setengah mati ketakutan akan diceraikan istrinya, karena penyakit selingkuhnya yang tidak kunjung sembuh.

Ibu Jim yang sedang sekarat karena narkoba, hidup segan mati tak mau.

Bortje dijauhi orang karena kabarnya mengidap AIDS. Malah, ia dicurigai AC/DC alias biseksual.

Farrah bertengkar melulu dengan suaminya dan terancam perceraian.

Jean yang punya suami kaya raya belum bisa punya anak.

Bosku, Pak Rudy, tak bisa menghentikan hobinya berjudi.

Takeda San, sang bos Jepang yang punya banyak istri, senang menghambur-hamburkan uangnya. Dan, itu selalu membuatnya mabuk. Karen sakit jiwa.
 
Karen tidak sakit jiwa, sebenarnya. Tapi, semua orang setuju bahwa dia sedang bermasalah. Entah apa. Tapi, dia selalu mencari masalah denganku. Mungkin, akulah masalah baginya. Dan, dia memang potensial untuk menjadi masalah bagiku, walau aku merasa tak ada yang perlu dipermasalahkan.

Entahlah, tapi akhir-akhir ini dia makin seperti orang sakit jiwa saat menghadapiku. Dia lebih senior, walaupun usiaku lebih tua. Dia cantik. Tetap cantik, walaupun tengah hamil. Hamilnya besar hingga dia yang dulunya model, tinggi dan langsing, kini bagaikan babon, king kong, gajah gemuk atau sebutlah raksasa. Dia lumayan cerdas dan pekerja yang bagus. Tapi, itu mulai berubah akhir-akhir ini. Dia selalu mencari gara-gara padaku. Sering marah-marah tanpa sebab yang jelas, dan bicara dengan pedas tentang soal-soal yang tak berhubungan dengan pekerjaan. Aku mencoba memaklumi, mungkin itu gejala penyakit ibu muda yang sedang hamil pertama. Kata orang, bisa jadi, kelak bila anaknya lahir akan mirip denganku. Jadi, kuabaikan keganjilan sikapnya itu.

Tapi, makin lama makin menjadi.

Banyak hal yang tidak masuk akal dan tidak edukatif serta tidak pantas diucapkan keluar dari mulutnya tanpa sebab yang jelas. Tapi, jelas-jelas ditujukan padaku. Tak ada angin, tak ada hujan. Kata-kata yang dilontarkannya tajam-tajam, sampai bisa untuk memotong semangka!

“Kamu sadar nggak, sebentar lagi kamu akan jadi satu-satunya perawan tua di kantor ini?”

Astaga! Seumur hidupku, baru pertama kalinya aku mendengar kata-kata itu. Perawan tua? Aku baru 28 tahun, kok. Sebentar lagi 29, sih. Baru dua delapan? Baru? Entah kenapa, aku tak suka mendengarnya. Aku merasa ada yang sakit di dalam hatiku. Kusadari, di satu sisi dia benar. Tinggal aku yang belum menikah. Layla sedang bertunangan. Padahal, setelah Jean, aku lebih tua dari semua wanita di kantor ini. Tapi, aku kan tak menghendaki hal itu. Itu terjadi di luar kuasaku, bukan?

Tapi, aku menganggap dia ada benarnya. Rasanya, dia juga tak sengaja menyakiti perasaanku. Anggaplah itu bentuk perhatiannya padaku. Jadi, segera kulupakan. Atau, kalau dia memang sengaja, kumaafkan saja. Aku terlalu sibuk untuk marah.

Tapi, ketika aku memutuskan untuk diam, mulutnya malah makin beraksi. Sering sekali dia menyebut kedua kata itu: perawan dan tua. Yang lebih parah lagi, ia menyebutkan istilah baru lagi.

“Jangan-jangan kamu lesbian, Ra. Temen pria kamu kan banyak. Banyak pula yang mengejar-ngejar kamu. Tapi, kok, kamu cuek aja, sih?”

Saat itu aku ingin menamparnya. Tapi, untunglah, tidak jadi. Aku hanya yakin bahwa aku tidak seperti yang dia sebutkan. Kumaafkan. Anggap saja angin lalu.

Begitulah hidup. Semua orang punya masalah, disadari atau tidak, diakui atau ditutupi. Sedangkan aku? Masalahku apa? Mungkin hanya satu.

Taka.

Itulah yang terbesar. Letak kesalahannya adalah aku telanjur mencintainya dan belum bisa pindah ke lain hati. Padahal, kisah itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu.

Terus terang, aku mulai pusing. Mulai agak panik. Panik? Ya! Aku tak suka menghitung usiaku. Aku takut seperti Jean yang terlambat menikah dan sampai kini setengah mati mengusahakan punya anak. Aku takut seperti Farrah yang menyesal menikah dengan pria pilihannya sendiri. Padahal, dulu pria itu dianggapnya ideal sekali. Aku takut ini dan takut itu….

Aku juga selalu pusing jika Mama dan Papa mulai berbicara soal keinginan mereka memiliki cucu. Hanya aku yang sedang ditunggunya untuk mengabulkan keinginan itu.

Aku bingung dengan semua hubungan yang sudah dan sedang kucoba jalani. Ada Nathan, Yoel, Aba, Ferry, Ibem, dan yang lain. Tapi, rasanya, belum ada yang mampu merebut hatiku seperti Taka. Kehadiran mereka justru makin membuatku merindukan Taka. Bukannya aku tak membuka hati. Tapi, bersama dengan pria-pria yang baik itu malah membuatku merasa tidak nyaman, sehingga aku lebih memilih untuk menikmati kebebasanku dalam kesendirian.

Apa dari Taka yang begitu istimewa? Tidak banyak. Dia hanyalah pria keturunan petani buah dari sebuah kampung pedalaman Tokyo, masih jauh dari Hachioji, kampus almamaternya.

Jalan hidup kami berpapasan ketika aku mengikuti program pertukaran mahasiswa ke kampusnya, dan dia mendaftar sebagai salah seorang relawan bagi mahasiswa asing. Kebetulan, dia salah satu mahasiswa teladan. Tapi, bukan itu daya tarik utamanya, walaupun, aku sangat beruntung memiliki dia sebagai guru bahasa Jepang pribadi dan gratis!

Aku tidak berencana berjalan-jalan di negeri mantan penjajah itu. Mencari kekasih juga tidak. Bahkan, aku bertekad untuk tidak tertarik pada seorang pria pun keturunan penganut Shinto itu. Aku bahkan tiba di sana dengan berat hati. Berkali-kali kuyakinkan orang tuaku bahwa Tuhan akan menjagaku di negeri asing itu. Masa lalu keluarga kami membuat mereka berat melepas kepergianku, walau hanya satu tahun.

Aku tidak peduli padanya sejak pertama melihat ia menjemputku di Bandara Narita itu. Instingku berkata bahwa dia adalah orang yang memiliki sesuatu yang istimewa dalam dirinya. Dan, meski hampir tiap hari dia menemaniku pergi, perlu berbulan-bulan untukku berjuang menyangkal pesona pria ini. Akhirnya, aku kalah. Terpanah Dewa Cupid. Tak berdaya mengelak.
 
Aku tak tahu apakah itu yang namanya jatuh cinta.

Serasa jatuh, tak berdaya. Semua mengalir begitu saja. Alami dan tanpa rekayasa.

Aku tak tahu apakah itu yang dikhawatirkan oleh kedua orang tuaku.

Ternyata, aku salah. Kami berdua salah. Sebab, sejauh apa pun kami berpisah, sejauh apa pun aku melarikan diri, biarpun samudra luas membatasi kami, aku terus membawa dia dalam hatiku. Aku belum bisa melepas segala kenangan tentangnya.

Hebat sekali dia, pesonanya. Dulu, kukira pertemuan kami beberapa tahun lalu di Bandara Narita adalah pertemuan terakhir, sekaligus menjadi akhir dari satu babak perjalanan hidup yang mungkin paling manis. Kupikir, setelah menginjakkan kaki di Bandara Soekarno-Hatta, aku akan segera menemukan orang lain dan melupakan pria bernama Taka. Dia juga mengharapkan hal serupa, yang ditegaskannya dalam sorot mata yang dalam, tapi teduh dan penuh kasih, jabatan tangan, serta rangkulan erat, ketika dia berbisik semoga aku selalu bahagia. Sebab, bila aku bahagia, dia juga akan bahagia.

Selalu bahagia.

Aku setuju dan selalu mengusahakannya. Selalu bahagia, kapan, di mana pun, dan dalam kondisi apa pun. Tapi, tampaknya tak semudah itu. Selalu bahagia? Maaf, ada yang bisa menjelaskan definisinya? Sebab, selama ini selalu bahagia tak ada artinya. Selalu dan bahagia, tanpa dia? Maaf sekali lagi, sampai kini aku belum berhasil memenuhi harapannya itu.

Kesepian. Itulah oleh-oleh yang masih tertinggal, yang kubawa pulang dari Negeri Sakura itu. Yang kian terasa mencekam, seiring debur ombak yang memantulkan kelap-kelip lampu dari Hard Rock Café, ditambah langit mengguntur, serta bunyi jangkrik-jangkrik nakal yang menyiuli turis-turis hampir telanjang, yang sedang melintas pulang.

Pulang.
 
Aku juga harus pulang ke masa kini. Tak mungkin pulang ke masa lalu.
Entah karena kesepian, tiba-tiba aku jadi sangat merindukan masa lalu itu. Merindukan Taka. Sangat. Teramat.

“Bagaimana weekend-nya? Ada kekasih baru atau masih berkumpul dengan teman-teman lesbi?”

Karen, dengan perutnya yang makin membesar, menaruh setumpuk berkas di mejaku, sambil mengucapkan kalimat yang tajam itu. Lesbi.

Huff. Kalau setumpuk berkas itu mendarat di kepalanya, bisa nggak, ya, dia menahan keseimbangan tubuhnya? Tapi, jangan. Kasihan si janin. Aku menimbang-nimbang.

“Karen,” tegur Jim yang sedang lewat, “your mouth sounds like hell.”
“I’m not talking to you,” sergah Karen.
Kubuka segera berkas-berkas itu.
“Karen, ini berkas yang minggu lalu, ‘kan?” ujarku. “Sudah beres, ada di meja Pak Rudy.”
Wajahnya menyemburat merah. “Semuanya?”
 
Aku mengangguk. Menatap lurus matanya yang tajam. Bagaimanapun, dia lebih senior.
Farrah mengedipkan mata padaku. “Dia kan belum hamil, Ren. Jadi, masih gesit mengerjakan setumpuk kerjaan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.”
“Belum punya pacar pula,” sambung Karen, yang sengaja membalikkan sindiran Farrah. “Tapi, lain kali lapor ke saya dulu, dong, sudah selesai atau belum. Jadi, saya bisa memonitor. Jangan langsung ke Pak Rudy. Bisa-bisa kredibilitas saya dipertanyakan.”
Memang kamu siapa? Memangnya kamu punya kredibilitas? Cuma menang senioritas dan perut buncit saja! Aku memaki dalam hati. Untunglah, lampu merah kecil di ujung boks teleponku berkedip-kedip.

Terdengar suara khas Layla.

“Mbak Rara, line satu dari orang Jepang. Maaf, namanya kurang jelas. Kawa atau siapalah.” Klik.

Kuangkat. “Moshi-moshi, Rara degozaimasu.” (Halo, di sini Rara.)

“Ogawa desu. Hisashiburi ne, Rara chan. Genki?” (Ini Ogawa. Lama tak bertemu, Rara, apa kabar?)
“Takaaa…,” seruku, membuat banyak kepala di ruangan ini menoleh.

Ikuti cerita selanjutnya....!!!


( Password : Novel I-One )



Reff. ac-zzz.blogspot.com

Yang Kedua - Ali N


BENIH ITU DITANAM
RIS duduk di dekat jendela ruang kelasnya yang ada di lantai tiga. Senyum-senyum sendiri. Entah kenapa, warna biru langit dan kumpulan gas putih yang menghiasinya selalu tampak menarik bagi gadis sembilan belas itu. Sudah tiga puluh menit ia duduk di sana dan belum merasa bosan sedikitpun. Iris melihat banyak bentuk-bentuk awan yang menyerupai sesuatu. Mobil, beruang, kelinci. Bahkan, Iris kadang melihat awan yang menyerupai mendiang ayahnya. Ayah Iris tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Motornya disambar truk yang oleng karena supirnya mengantuk. Iris tak pernah punya ayah lagi sejak itu. Usianya baru tujuh tahun. Sejak saat itu, Iris sangat merindukan figur seorang ayah.

“Ris, udahan kek bengongnya..” Eta menyikut bahunya pelan, “Gue laper tau.. nyari makan kek..”

Iris ngikik melihat wajah Eta yang manyun gara-gara kelaparan. Persis warga Ethiopia yang busung lapar itu. Ia akhirnya mengangguk dan meninggalkan spot favoritnya.

Eta adalah sahabat Iris sejak mereka pertama kali berkenalan tepat di hari ujian masuk kampus. Kala itu, Iris lupa membawa alat tulis. Eta yang duduk di sebelahnya dengan baik hati menawarkan alat tulis cadangan miliknya untuk Iris pakai. Setelah mengobrol lama, rupanya Iris dan Eta berdomisili di daerah yang sama. Hanya beda wilayah kompleks saja. Ketika mereka sama-sama lulus ujian masuk, keduanya pun memutuskan untuk mencari kamar kos berbarengan. Akhirnya, kedua gadis itu malah menyewa satu kamar kos untuk berdua agar lebih murah.

“Makan apa kita?” sebelum Eta menjawab, Iris buru-buru menambahkan, “Gue nggak mau makan soto depan kampus lagi ah.. bosen gue, ta..”

“Airis, sebenernya gue juga bosen, tapi, satu-satunya tempat makan yang pemandangannya bagus cuma di situ doang! Serasa ada di taman bunga gitu kan. Warna-warninya bikin seger mata... hahahaha!” Iris paham betul arti „pemandangan bagus‟ bagi sahabatnya bukan bunga warna-warni yang kebetulan ada di toko bunga di seberang tukang soto itu, tapi pegawainya!

Pegawai toko bunga itu bernama Egi, lelaki berusia akhir dua puluhan, berkacamata, agak gemuk, dan sedikit berwajah oriental. Eta memang selalu suka cowok-cowok yang agak berdaging. Bikin gemas, katanya. Kalau menurut Iris, Eta suka cowok berdaging hanya untuk memperbaiki keturunan. Ya, tentu saja karena Eta berbadan kecil dan tinggi. Mengingat Egi, membuat Iris ingin tertawa. Cara Eta mengajaknya berkenalan benar-benar konyol sekali. Kala itu, kebetulan Egi sedang membeli soto. Eta pura-pura menanyakan soal bunga-bunga padanya, seolah ingin memesan karangan bunga. Di akhir obrolan, Eta akhirnya menanyakan namanya dan berkenalan. Konyolnya, Eta juga mengatakan: saya mesen karangan bunganya kapan-kapan ya, Koh. Kalau temen saya ini udah dapet jodoh.

“Soto dua ya, pak! Pake nasi!” Suara Eta mengembalikan Iris dari lamunannya.

Tukang soto manggut-manggut dan langsung meracik dua porsi untuk Eta dan Iris. Iris menyenggol kaki Eta pelan, “Kalo nasi nya aja bisa nggak, ta? Enggak usah pake soto...” bisiknya.

“Bisa, kalo lu yang dagang sotonya!”

Lima belas menit kemudian, dua piring nasi sudah tak bersisa, soto pun sudah tinggal kuahnya saja. Eta melirik Iris yang masih sibuk mengais sisa-sisa daging di mangkuk sotonya.

“Bosen-bosen abis juga!!” katanya meledek. Iris cuma nyengir. “Balik yuk, Ta. Sebelum gue berubah pikiran dan mesen satu porsi lagi...”

“Bentar dulu, gue kok belum liat si ndut yaa..” Eta menjulur-julurkan lehernya, berusaha melihat penampakan Egi di seberang sana. Tapi, yang dicari tak kunjung terlihat. Iris ikut menjulur-julurkan lehernya, memicingkan mata. Ia lalu geleng-geleng kepala, “Lagi cuti kali, ta..”

“Tunggu-tunggu.. itu siapa tuh??” Seorang pria keluar dari dalam toko bunga itu, membawa ember yang penuh bunga berwarna kuning. Pria itu bukan si ndut yang ditaksir Eta. Dia lebih tua. Iris merasa belum pernah melihatnya.

“Ndut lu kurusan kali, ta..” kata Iris asal saja. Eta menghadiahkan pukulan di paha Iris atas kata-kata asalnya barusan.


“Beda, odong! Itu mah bapak-bapak!”

“Nyari si ngkoh ya, neng?”

Asisten tukang soto yang sedari tadi memperhatikan mereka sibuk menjulurkan leher, akhirnya bersuara. Eta dan Iris menoleh dengan muka merah. Saling injak kaki. Mereka cuma terkekeh saja, tidak menyahut.

“Dia lagi pulang kampung, neng. Bapaknya sakit. Nggak tau baliknya kapan. Sekarang yang punya jadi ngurus tokonya sendiri dah tuh.”

Iris dan Eta melirik lagi toko bunga itu. Si Pria sedang melihat ke arah mereka. Panik, Iris dan Eta buru-buru beralih lagi ke asisten tukang soto.

“Ini jadi berapa, bang?” Eta cepat-cepat mengeluarkan dompet.

“Delapan belas ribu, neng.” “Nih, makasih ya, bang!” Setelah menyerahkan uangnya, Eta langsung menarik Iris meninggalkan tempat itu.

“Kalo tuh bapak-bapak tau kita nyariin si Egi, trus bilang ke si Egi nya, tengsin gue!!” katanya. Iris cuma mengangguk-angguk. Sebelum pergi, Iris melirik toko bunga itu sekali lagi. Pria tadi sudah berbalik masuk ke tokonya. Pemilik toko bunga?

***** 

Detik itu, tersimpan dalam benakku secara tak sengaja.
Sekelebat bayangmu, kekal dalam memori di kepala.
Aku terpesona…

Pulpen dalam genggaman Iris belum juga berkurang tintanya. Kertas di hadapannya pun masih kosong meski jam kuliah sebentar lagi berakhir. Tak sedikitpun ceramah dosen masuk dalam kepalanya. Ia melanglang buana di dunianya sendiri. Wajah pria yang dua jam lalu ia lihat di toko bunga masih terbayang dalam ingatannya. Ada perasaan aneh dalam hati Iris. Dia tak tahu apa nama rasa itu.

“... yaaa, jadi saya minta makalahnya dikumpulkan minggu depan ya!! Kuliah hari ini cukup sampai di sini, sampai ketemu minggu depan.”
Suara ribut kursi yang bergeser mengembalikan Iris ke kelasnya. Dia melirik Eta,
“Makalah apaan, ta??” Eta geleng-geleng kepala, “Bengong aja sih lu dari tadi!” sahutnya, “Makalah Patofisiologi !”
“Oohh..” Iris mengangguk-anggukkan kepalanya. “Sendiri-sendiri ta?”
Eta melotot kesal, “Berdua, Ris!! Elu sama gue!! Isshhhh...”

“Sip sipp.. jangan melotot gitu lah, ta.. mata lu mau loncat keluar tuh!” Iris cekikikan. “Abis ini lu langsung balik, kan? Hari ini jatah lu beresin kosan!”

“Oh iya! Soriiiii banget, Ris..” Eta yang sedari tadi sibuk merapikan buku-bukunya menoleh dengan wajah penuh penyesalan, “Gue ada praktek susulan di lab, gantiin dulu ya, nanti jatah lu gue yang ngerjain deh.. bawa motor gue sana nggak papa..soriii banget ya ngerepotin..” Eta menyerahkan kunci motor matic nya pada Iris.

Iris bengong. “Gue kan nggak gitu lancar bawa matic, ta..”

“Bisa dehh, gampang kok.. gas-rem-gas-rem doangan.. okee?? okeee?? Gue ke lab dulu yaaaa!!!”

Eta meninggalkan Iris yang masih memandangi kunci motor dalam genggamannya dengan tampang cemas. Teringat saat terakhir ia mengendarai motor matic, kandang ayam dekat kosannya menjadi korban. Iris menarik napas perlahan. Berusaha untuk tenang. Sudah lima menit ia berdiri di parkiran kampus sambil memandangi motor matic Eta. Gampang, Ris.. gasrem-gas-rem doang.

Iris menyalakan motor, sukses. Sekarang, diarahkannya motor itu keluar dari area parkir, sukses. Sedikit menyenggol kaca spion motor orang, tapi tak masalah. Kini ia berhenti di depan gerbang kampus. Ia harus melawan arus sebentar untuk pindah jalur ke seberang kampusnya. Segumpal ludah tertelan sudah. Gas-rem-gasrem.. gumamnya dalam hati.

Gas diputar dan wuuuuuuuuusssssssssshh, saking gugupnya Iris lupa menekan rem. Motor melaju cepat menyeberang jalur. Tidak berhenti, terus bergerak maju dengan sangat cepat!

“MINGGIIIIIIIIIIIIRRRRR!!! AWAAAAASSS AWAAAAAAASSSS!!!” Bunyi roda-roda kendaraan berdecit di jalanan. Semua dihentikan paksa oleh pengendaranya untuk menghindari motor matic yang melaju dengan gila-gilaan.
“AWAAAAAAAAAAAAAAAASSSSSSS!!!!!!!! MINGGIR WOIIIIIIII!!!” Dan..
BRUAKKKKKK!!!! Ember-ember bunga terguling di sana-sini. Bunga-bunga yang berwarna-warni itu pun berserakan ke mana-mana. Iris mengelus-elus lutut dan sikunya yang lecetlecet.

Ia meringis kesakitan. Orang-orang mengerubunginya. Tiba-tiba seseorang menyeruak kerumunan itu,
“IRISSSSS!!! ASTAGA IRISSSS!!!” Eta memegangi pipinya sendiri dengan panik.
“LU NGGAK PA-PA KAN???? ASTAGAAA!!!” “Kan gue udah bilang taaa, gue nggak lancar bawa matic..” sahut Iris masih sambil mengelus-elus lutut dan sikunya yang kini terasa sangat perih. Iris bersyukur ia tak lupa memakai helm tadi. Seorang petugas polisi datang dan membubarkan kerumunan orang yang menontoni kekacauan akibat kecerobohan Iris itu. Pria pemilik toko bunga tampak syok melihat bunga yang akan ia jual sudah menjadi sampah jalanan.

“Anda butuh ke rumah sakit, mbak?” si petugas polisi berjongkok di samping Iris. Eta menyingkirkan motor matic nya ke trotoar.

Iris menggeleng, “Enggak usah, pak.. nanti diobatin teman saya aja..” katanya. “Pak, bunga-bunga saya nasibnya gimana ini?” pria pemilik toko bunga tiba-tiba bersuara. Petugas polisi yang berjongkok di samping Iris menoleh ke arahnya. “Diselesaikan secara kekeluargaan saja, pak..” kata petugas polisi itu, ia melirik Iris, “gimana, mbak?” Iris bengong. Eta menoleh ke arahnya. Mulutnya komat-kamit tanpa suara, gue enggak ada duit.. Iris merasakan bulir keringat mengalir dari dahi ke dagunya. “Duh, maaf Pak..untuk sekarang saya lagi enggak ada uang.. saya anak kosan, Pak..” Iris meratap, melirik ke arah si pemilik toko bunga, seorang pria berambut pendek dengan kumis dan janggut tipis seperti habis dicukur kasar. Cukup tampan jika dilihat dari jarak sedekat ini. Cu-kup. Pria itu menggeleng, “Terus nasib bunga saya gimana, Mbak? Saya pasti rugi kalau enggak diganti..”

Iris menggigit bibir bawahnya sedikit. Bingung. Dia tak mungkin menghubungi orang tuanya di rumah dan minta uang untuk ganti rugi. Ibunya pasti akan sangat marah sekali. Tapi, dia sendiri juga tak ada uang lebih untuk mengganti bunga-bunga yang ia lindas barusan.

“Begini saja Pak, Mbak, ” si petugas polisi tampaknya memahami posisi Iris yang seorang anak mahasiswi kosan berkantong pas-pasan, “Mbak bisa meninggalkan identitas Mbak ke Bapak ini biar gampang dihubungi, selebihnya mau bagaimana, bisa mbak dan bapak bicarakan lagi baik-baik nanti.. kondisi mbak juga kan sedang kurang baik seperti ini ya.. ini sih sekadar saran saja dari saya, bagaimana, Mbak? Pak?”

Iris melirik Eta yang langsung angguk-angguk kepala tanda setuju. Ia beralih ke si pemilik toko bunga yang tampak berpikir. Lantas pria itu mengangkat bahunya,

“Ya sudah, mau bagaimana lagi.. saya rasa cuma itu satu-satunya jalan keluar untuk saat ini..”

Iris lalu mengeluarkan secarik kertas dan pulpen dari dalam tasnya, menuliskan nama dan nomor ponselnya di sana. Ia menyerahkan kertas itu pada si pemilik toko bunga, “Maaf banget ya, Pak.. pasti saya ganti kok, Pak.. sekali lagi, maaf ya, Pak..”

Petugas polisi memapah Iris untuk berdiri, “Lain kali hati-hati, Mbak..” Kali ini, Eta yang mengendarai motor sementara Iris duduk di belakangnya.

Kata „maaf‟ masih keluar dari mulutnya. Ia merasa sangat tidak enak hati. Eta menyalami petugas polisi dan pemilik toko bunga, “Maaf Pak, atas kecerobohan teman saya ini..mari..” Dari kejauhan, Iris sempat melirik lagi ke arah si pemilik toko bunga itu. Pria itu masih memperhatikannya. Tampan..

Ikuti Cerita Selanjutnya....!!!!


Password : Novel I-One




Penakluk Ujung Dunia - Dewi KZ


Satu-satu para lelaki keluar rumah, memenuhi panggilan suara gong yang dipalu sesekali dekat unggun api yang ada di halaman perkampungan. Wajah para lelaki yang bermunculan di mulut pintu, memancarkan rasa marah dan mendendam. Senja baru saja berlalu. Di langit bintang gemerlapan. Tapi, tidak ada bulan. Hingga cahaya unggun api yang samar, cukup punya arti. Nyalanya meliuk ditiup angin. Para lelaki itu membentuk lingkaran seputar unggun api. Tapi, di sebelah hulu, belum seorang pun mengambil tempat. Sengaja dikosongkan. 

Angin pegunungan berhembus. Lebih dulu meliukkan pucuk bambu duri yang ditanam orang sekitar kampung, langsung menjadi pagar kampung. Bambu duri itu, ditanam melingkar. Mengikuti lingkaran rumah dan di tengah dikosongkan. Halaman kampung menjadi luas, tempat penghuni kampung selalu berkumpul di saat yang perlu. Di saat Kerajaan Marga yang mendiami kampung itu mengadakan musyawarah.

Wajah para lelaki tambah jelas kelihatan, setelah cukup dekat unggun api. Wajah yang cukup matang dan keras, yang dimasak kerasnya hidup sehari-hari, wajah yang menampung sinar matahari penuh. Dan, memecahkan tanah batu untuk dijadikan persawahan. 

Gong masih dipalu sesekali. Para lelaki tambah banyak berkumpul. Tapi, satu sama lain, tampaknya saling diam. Dari jauh kedengaran suara ratap para perempuan. Kemudian kelompok manusia itu menjadi tambah hening, tidak ada yang berkerisik, sewaktu enam orang lagi lelaki datang mendekat. Salah seorang di antaranya menyandang ulos-batak ragi-hidup, kepalanya dibeliti bolat-an berwarna tiga jalin-menjalin: merah, putih, dan hitam. Tangan kanan memegang tungkotpanaluan, yang hulunya berukirkan wajah dan kepala manusia, serta dihiasi rambut manusia. Di pinggang, terselip pisau gajah-dompak. Pertanda dia Raja Panggonggom, yang memegang kekuasaan adat dan hukum tertinggi di perkampungan itu, di marga yang mendiami kampung itu. Yang berjalan di sebelah kanannya, memakai bolatan juga.

Tapi, warnanya hanya merah dan putih berjalinan, pertanda dia Raja Ni Huta. Juga dia menyandang ulos-batak, tapi raginya berbeda dengan yang dipakai oleh Raja Panggonggom. Raja Ni Huta yang memakai bolatan ini, pengerah tenaga rakyat, dan langsung memimpin para Raja Ni Huta dari kampung lain, yang masih semarga dengan mereka. 

Di sebelah kiri Raja Panggonggom, berjalan seseorang yang memakai bolatan warna merah saja, pertanda dia Raja Nabegu, pemegang pimpinan para panglima dan para hulubalang perkasa. Dia juga menyandang ulos-batak, tapi raginya berbeda dengan ragi yang disandang fyaja Panggonggom dan Raja Ni Huta. Sedang di tangannya, tergenggam tombak yang hulunya berukirkan kepala manusia. 

Di belakang mereka bertiga, mengiring pula Raja Partahi, Raja Namora, dan Datu Bolon Gelar Guru Mafla-sak. Raja Partahi dan Raja Namora, memakai bolatan warna putih, pertanda mereka pemegang perbekalan marga. Sedang Datu Bolon Gelar Guru Marlasak menyandang kulit monyet yang sudah kering, sedang mulutnya terus-terusan menguyah sirih dan meludah. Mereka mengambil tempat di sebelah hulu, yang sejak tadi dikosongkan. Tempat mereka lebih tinggi dari yang lain. Di tangan kiri Raja Panggonggom, tergenggam sebilah pisau yang ujungnya berlumur darah merah. Sebelum duduk, lebih dahulu dia menancapkan tungkotpanaluan ke tanah. Semua mata diarahkan padanya berusaha mengikuti gerak-geriknya. Kuping sudah, siap mendengar yang hendak diucapkannya.

Setelah mengangkat tangan kanan, dia mengaju tanya, "Apakah sudah semua lelaki hadir di sini?"

Setiap suku kata ditekankan kuat-kuat. Suaranya yang beruntum keluar dengan cepat, pewarta bahwa dia sedang marah. Matanya merah nyala. Sedang dari kejauhan, tetap kedengaran sesayup sampai ratap perempuan, yang meratap kan kepiluan hati, hati yang berduka. Ratap inilah yang. membuat wajah para lelaki itu bermuraman, muram mengandung marah yang menuntut dibalaskan. Cepat saja diketahui bahwa tidak seorang pun perempuan hadir di antara para lelaki yang mengitari unggun api itu. "Sudah semua," sahut seseorang, yang langsung berdiri dari duduknya, kepalanya memakai bolatan warna hitan, tangannya menggenggam tombak berukirkan kepala manusia, tapi tidak berhiaskan rambut, pertanda dia panglima marga atau hulubalang marga. 

"Apakah sudah berkumpul semua pemuda di sini?" tanyanya pula melanjut.
"Belum," sahut seseorang, yang juga memakai bolatan warna hitam, dan menggenggam sebuah tombak, tapi bolatannya lebih kecil dari orang pertama. Pertanda dia, hulubalang muda.
"Siapa yang belum hadir?" tanya raja. "Si Ronggur."
"Si Ronggur belum hadir? Ke mana dia pergi?" Tidak ada yang menyahut. Raja Panggonggom lalu mengatakan, "Ayoh, pergilah salah seorang dari kamu memanggilnya. Apakah harus aku yang pergi memanggilnya?"

Hulubalang Muda cepat berdiri. Terus pergi melaksanakan perintah. Dia berlari dengan langkah yang panjang dan cepat.

Kembali Raja Panggonggom duduk. Tongkat panaluan, pusaka nenek moyang turun-temurun dielusnya seketika. Tubuhnya yang sudah tua itu masih membayangkan bekas bentuk tubuh yang tegap di masa muda, disaputi kulit hitam  yang cukup matang. Wajahnya yang berkerut-kerut, keningnya yang lebar, dan sinar matanya masih tetap bercahaya, bernadakan kepercayaan akan diri sendiri. Para lelaki yang duduk di sampingnya, juga sudah agak tua. Di hadapannya, para lelaki yang masih muda, punya otot tubuh yang tegap dan masih berada di puncak kekuatan. Walau ada di antara mereka yang agak kecil, namun garis di wajahnya, ototnya, kulitnya yang hitam, segumpal daging yang dapat dipercaya kesehatan dan kekuatan yang terkandung di dalamnya. Sedang para pemuda, yang tubuhnya setiap hari masih terus membentuk sebuah tubuh yang wajar, dan dari wajahnya memancar kebeningan tapi bercampur-baur dengan kematangan, sesuatu pertanda ketangkasan. 

Sambil duduk, Raja Panggonggom menggerutu, "Kita harus menunggu anak itu lagi."

Tidak seorang pun yang berani menambahi cakapnya. Tapi, wajah Raja Nabegu, yang duduk sejajar dengannya, menjadi merah padam, seperti merasakan sesuatu kesalahan, kenapa Ronggur t idak bisa hadir sebelum golongan raja hadir di sana. Dari jauh kelihatan dua orang pemuda mendekat. "Apakah kau tidak mendengar gong dipalu? Apakah kau tidak mengetahui, apa arti gong yang dipalu dengan pukulan satu-satu? Apakah kau harus diajar untuk mendengar dan mengartikannya lagi? Bukankah kau sudah diajari Raja Nabegu?" tanya Raja Panggonggom cepat, ma-nyambut kehadiran mereka.

"Aku dapat mendengar dan mengartikannya, Paduka Raja," jawab pemuda itu.
"Kenapa kau tidak terus mematuhi panggilan? Kenapa kau melalaikannya? Apakah tubuhmu itu tidak dialiri darah merah yang diwariskan Almarhum ayahmu lagi?"
"Masih, Paduka Raja." "Tahukah kau bahwa ayahmu tidak pernah mengabaikan panggilan gong pusaka ini? Terlebih bila gong dipalu satusatu?

Ataukah dengan sengaja kau melambatkan kedatanganmu karena kau bukan seorang lelaki? Jawab pertanyaanku dengan jujur. Supaya para arwah nenek moyang dan dewata tidak marah."
"Paduka Raja, dalam tubuhku mengalir darah yang diwariskan ayahanda almarhum. Kupingku mendengarkan suara gong pusaka, malah langsung membakar semangatku." "Kalau begitu, kenapa kau terlambat datang? Atau, kau memang sengaja mengabaikan panggilannya?" "Aku tidak mengabaikannya, Paduka Raja. Tapi, aku sedang memikirkan, bagaimana aku harus melaksanakan perintah yang akan ditugaskan padaku. Dan apa yang harus kuucapkan dalam pertemuan ini, bila saat musyawarah diadakan."
"Nah, kalau begitu dengar dulu kataku." Raja Panggonggom menebarkan pandang ke sekitar.

Menatap wajah demi wajah dengan pandang tajam, lalu, "Semua lelaki yang ada di hadapanku, yang pada tiap tubuhmu mengalir darah merah warisan nenek moyang, merahnya, api semangat yang tidak boleh dipadamkan. Barulah kau dapat dikatakan seorang lelaki yang menghormati nama baik nenek moyangmu, nama baik rajamu, nama baik kampung, margamu, dan marga kita. Dan, barulah pula kau wajar dihormati sebagai seorang lelaki." 

Orang terdiam mendengarkan. Pada tiap wajah makin jelas kelihatan pancaran sesuatu cahaya yang tidak mau dipadamkan. Mata tiap orang menjadi merah dan gusar. Tubuh mereka berkeringat olehnya. Otot yang tegap itu menjadi mengencang, dibakar perasaan dalam hati.

"Pada tangan sebelah kiriku," lanjut Raja Panggonggom, "tergenggam sebilah pisau, yang tadi pagi sengaja ditusukkan orang, orang dari marga lain, ke dada salah seorang dari antara kamu, dari antara kita, sehingga dia meninggal.

Mayatnya sekarang terlentang kaku di Sopo Bolon. Sekitar mayatnya duduk melingkar para perempuan. Meratap berkepanjangan. Tentu kamu turut mendengar ratap mereka, ratap yang menangiskan sebuah perpisahan, perpisahan yang timbul karena perbuatan orang lain. Para perempuan itu berduka. Tapi, bagi kita para lelaki, tidak saja kepiluan mendatangi diri. Yang menekan hati, lebih berat mendatang dari penghinaan yang dengan sengaja diarahkan marga lain yang membunuh Ama ni Boltung itu. Penghinaan yang harus ditantang dengan sikap jantan, dengan darah merah yang memancarkan cahaya semangat yang tak akan padam pada tiap wajah kita. Ketahuilah, ratap para perempuan itu, sesuatu yang mengharapkan penuntutan balas. Kita terkutuk, bila kita tidak menuntut balas. Dan, kita tidak berhak lagi disebut dan dihormati sebagai lelaki, bila penghinaan yang sangat nista ini kita terima begitu saja." 

Suara mendengung pada kelompok yang ada di depan raja. Berakhir dengan meledaknya ucapan, "Perintahkan dengan cepat, apa yang harus kami perbuat. Sebuah penghinaan harus segera dilenyapkan. Supaya orang lain tidak berani mengulanginya terhadap marga kita!" "Ya, memang untuk itu kita berkumpul malam ini." Ronggur berdiri. Matanya dilayangkan pada kelompok pemuda, kemudian pada kelompok para lelaki. Lalu tertumpu akhirnya ke tempat para raja.

"Ada yang hendak kau katakan?" tanya Raja Panggonggom.
"Ya. Kalau paduka raja mengijinkan aku berbicara," suaranya tegas dan pasti. Kuat meledak. "Bicaralah____"
"Paduka Raja, dapatkah Paduka Raja menceritakan pada kami, kenapa marga lain itu menancapkan ujung pisaunya ke dada Ama ni Boltung?" "Pisau itu mereka tancapkan ke dada Ama ni Boltung, karena persoalan pembagian air yang harus dialirkan ke sawah. Juga karena pertengkaran mengenai perbatasan sawah. Yang menyerang Ama ni Boltung, tidak seorang saja. Tidak kurang dari lima orang malah. Mereka menyerang sekaligus, hingga Ama ni Boltung yang sudah kita kenal keberanian dan ketangkasannya berkelahi, rubuh ke atas tanah. Tapi, janganlah kita beranggapan bahwa Ama ni Boltung terlalu lalai menghadapi musuhnya. Dia masih sempat membawa korban. Tidak kurang dari dua orang yang menyerang dirubuhkannya, dicabutnya nyawa mereka dengan ujung pisau. Dan, seorang lagi luka pada tangannya. Arwahnya tentu ditempatkan para dewata di tempat para hulubalang perkasa, tempat terhormat."

"Kuhormati kepahlawanan Ama ni Boltung," sahut Ronggur, "tapi yang paling perlu kita pikirkan sekarang, mula atau sebab timbulnya perkelahian itu. Dari keterangan Paduka Raja, dapatlah diketahui bahwa soalnya timbul karena pembagian air dan perbatasan sawah. Soal yang sudah terlalu sering menimbulkan pertengkaran, yang sudah terlalu sering mengakibatkan pecahnya perang antara satu marga dengan marga lain, antara satu lu hak dengan luhak lain. Yang menjadi pokok persoalan sekarang menurut pendapatku, hendaknya kita menelaah, kenapa persoalan begitu rupa tambah sering kita hadapi. Tambah sering mengganggu ketenteraman hidup? Mengganggu kerukunan hidup di pantai Danau Toba ini?" Semua terdiam. Juga raja.

Ronggur melanjutkan, "Soalnya, karena semakin sempitnya tanah yang dapat kita garap. Tadi siang, aku jalan-jalan sampai ke kaki bukit, yang tanahnya bercampur batu. Sudah sampai ke sana perluasan sawah. Tanah batu yang cukup keras itu mereka pecahkan dengan cangkul yang diayunkan kedua tangan mereka. Mereka melinggis pinggiran gunung
batu, membangun sebuah parit saluran air. Lihatlah, betapa sungguhnya tiap orang dan marga yang ada di sekitar danau ini mempertahankan hidupnya. Mereka orang yang berani hidup. Y ang taat melaksanakan pesan nenek moyang masingmasing, melanjutkan hidup keluarga dan marga."


Ikuti cerita selanjutnya.....!!!!


( Password : Novel I-One )


Novel Duka Lara - Bios

Di sebuah jalan tol dalam kota, sebuah sedan mewah melaju dengan cepat menembus gelapnya malam. Kedua penumpangnya yang masih muda tampak begitu bersemangat, berkendara bersama menuju ke rumah seorang gadis yang baru mereka kenal beberapa bulan yang lalu. Setelah menempuh perjalanan yang lumayan menyita waktu, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Kini keduanya tampak asyik berbincang-bincang dengan seorang gadis yang begitu cantik.

“Orang tuamu belum pulang, Ra?” tanya Randy perihal orang tua Lara yang diketahuinya pergi ke Amerika.
“Belum, malah mereka mau terbang ke Eropa,” jawab Lara seraya merubah posisi duduknya.
“Asyik dong, dengan begitu kau bisa lebih lama menghirup udara kebebasan.”
“Apanya yang asyik, aku justru merasa kesepian karena ditinggal mereka terlalu lama. Untung saja ada sepupuku yang menemaniku selama mereka di luar negeri.”
"O ya, Ra. Ngomong-ngomong, Nina ke mana?” tanya Bobby mengenai sepupu Lara yang menginap di rumah itu.
“Ada, di dalam,” jawab Lara singkat. “Ajak keluar dong! Biar kita ngobrol sama-sama!” pinta Bobby seraya tersenyum. “Maaf, Kak! Hari ini dia sibuk belajar, katanya besok ada ujian.” “Rajin juga ya dia. Dulu, ketika aku masih kuliah. 
 
Aku paling malas dengan yang namanya belajar. Kalau lagi ujian, aku biasa mencontek menggunakan secarik kertas kecil yang kusembunyikan di bawah lembaran soal. Dan kalau lagi ada pemeriksaan, contekan itu buru-buru kusembunyikan di celah lipatan bajuku.”
“Aku juga, Bob,” timpal Randy.
“Itu namanya kalian curang. Masih kuliah saja sudah berani tidak jujur, apalagi kalau jadi pejabat. Bisa-bisa kalian jadi koruptor kelas kakap.”
“Ya, untung saja aku tidak jadi pejabat,” kata Randy ringan.
“Tapi, kontraktor curang kelas kakap,” timpal Bobby.
“Huss! Jangan buka kartu dong! Lagi pula, aku melakukan itu karena terpaksa, dan itu pun sudah lama sekali. Sekarang ini aku sudah insyaf dan tidak mau mengulanginya lagi.”
“Maaf, Ran. Ini kulakukan demi kebaikanmu. Terus terang, aku peduli padamu. Jika kau memang sudah insyaf, lalu kenapa belum lama ini kau bisa dapat tender itu. Padahal, jika kulihat perusahaanmu sama sekali tidak memenuhi syarat.”
“Waktu itu lagi-lagi aku terpaksa, Bob. Sebab sainganku juga menggunakan cara curang. Kalau aku tidak melakukan hal yang sama, bagaimana mungkin aku bisa dapat tender. Kalau kerap kali seperti itu, kapan perusahaanku bisa maju.”

Lara yang sejak tadi diam, tiba-tiba ikut bicara. “Kak Randy! Setiap orang kan sudah ada rezekinya masing-masing, jadi kau tidak perlu curang untuk mendapatkannya.”
“Kau betul, Ra. Namun, aku terpaksa berbuat begitu karena sistem yang tidak mendukung. 
Terus terang saja, jaman sekarang jika ingin bersaing secara jujur diperlukan mental yang kuat dan waktu yang relatif lebih lama,” kata Randy memberi alasan.
“Tapi biar bagaimanapun, cara curang itu tidak sepatutnya dilakukan, Kak. Sekalipun kau mempunyai alasan yang paling masuk akal. Sesungguhnya cara curang itu bisa merugikan orang-orang yang jujur,” jelas Lara memberi pengertian.
“Betul itu, Ra. Sungguh kasihan orang-orang yang jujur, mereka harus berusaha lebih keras agar bisa menjadi orang yang sukses,” Bobby menimpali.
“Baiklah… Mulai hari ini aku berjanji untuk tidak mengulanginya. Terus terang, aku merasa berdosa karena telah menghilangkan kesempatan buat orang-orang yang jujur,” kata Randy menyesal.
“Syukurlah kalau begitu,” kata Bobby seraya berpaling memandang Lara. “O ya, Ra. Ngomong-ngomong, boleh aku menumpang ke belakang?” tanya pemuda itu kemudian.
"O, silakan saja, Kak! Pergi sendiri, ya! Kau kan sudah tahu kamar mandinya,” kata Lara seraya merubah posisi duduknya lagi.
“Tapi, Ra. Aku... ” “Sudahlah, tidak apa-apa! Anggap saja seperti rumah sendiri!” “Baiklah kalau begitu,” kata Bobby seraya beranjak ke dalam. Ketika dia melewati ruang tengah dilihatnya Nina sedang menari mengikuti gerakan penari di layar kaca. Saat itu gerakan Nina tampak begitu indah, lenggak-lenggok tubuhnya yang ramping serta gemulai tangannya menahan pemuda itu untuk terus memperhatikannya.
“Tarian yang indah!” ucap Bobby tiba-tiba. Mendengar itu, Nina pun seketika berpaling. “Ka-
Kak Bobby...!” ucap gadis itu tergagap sambil terus memperhatikan wajah tampan yang kini tersenyum padanya. “Se-sejak kapan kau berdiri di situ?“ tanya gadis itu kemudian.
“Kau tidak perlu malu, Nin! Terus terang, gerakanmu tadi indah sekali, dan aku sangat menyukainya. Kupikir cuma Lara saja yang pandai menari, ternyata kau juga begitu pandai,” kata Bobby terus terang.
"Hmm… sebenarnya apa keperluanmu masuk kemari, Kak?” tanya Nina heran.
"Eng... sebenarnya aku mau menumpang ke belakang. Tapi ketika melihatmu tadi, aku sempat terpana. Eng... kalau begitu, sebaiknya aku segera ke belakang. O ya, maaf kalau aku sudah mengganggumu!” Lantas dengan segera pemuda itu melangkah pergi.

Sementara itu, Nina tampak memperhatikan kepergiannya. “Hmm... dia terpana? Benarkah yang dikatakannya itu?” tanya Nina dalam hati seraya duduk di sofa dan kembali memandang ke layar kaca.

Tak lama kemudian, Bobby sudah kembali. Kemudian dia segera mendekati Nina yang dilihatnya asyik menonton sinetron. “Nin, kau sudah selesai belajar kan?” tanyanya kepada gadis itu. 
 
Mendengar itu, seketika Nina menoleh, memperhatikan wajah tampan yang lagi-lagi tersenyum padanya. "Iya, Kak. Sudah...” jawabnya kemudian.

“Kalau begitu, kita ngobrol di luar yuk!” ajak Bobby kepadanya.
“Maaf, Kak! Aku tidak punya waktu. Tadi saja aku belajar terburu-buru karena mau nonton sinetron ini,” tolak Nina memberi alasan.
“Eng, baiklah... Kalau begitu silakan diteruskan menontonnya. O ya, maaf kalau aku sudah mengganggumu!” ucap Bobby seraya melangkah pergi.
"Tunggu, Kak!” tahan Nina tiba-tiba. “Iya, Nin. Ada apa?” tanya Bobby seraya kembali
memandang ke arah gadis itu. “Eng, nanti seusai sinetron ini aku akan
menyusul,” Nina berjanji.


Ikuti Cerita Selanjutnya.....!!!


( Password : Novel I-One )


 
Subscribe to Novel I-One

Enter your email address: