Loading
Showing posts with label Novel Klasik. Show all posts
Showing posts with label Novel Klasik. Show all posts

Ibu Sinder - Pandir Kelana

WARUNG CLIMEN

Tidak jauh dari Pasanggrahan Ambarukmo, di tepi jalan raya antara Yogya dan Sala, berdiri sebuah bangunan rumah setengah batu yang tampaknya masih agak baru, dihuni oleh  seorang wanita berusia lewat setengah abad. Bagian depan rumah yang berbentuk Joglo itu sudah diubah menjadi sebuah warung sederhana, lengkap dengan papan nama berhuruf Jawa berbunyi "Warung Climen", yang artinya warung sederhana. Keistimewaan warung itu adalah hidangan opor bebeknya. Orang yang semula apriori menolak daging bebek, setelah mencoba opor bebek "Warung Climen", berubahlah seleranya. Ia menjadi penggemar masakan daging bebek.

Letak rumah kediaman yang telah menjadi restoran kecil itu memang agak menyendiri, jauh dari tetangga dan tidak terlalu dekat dengan jalan raya. Halamannya luas, disediakan untuk tempat parkir kendaraan. Perabot-perabot warung seperti meja, kursi, lincak, tempat  sendok-garpu, tempat abu rokok, semuanya terbuat dari bahan bambu tutul. Ruangan tampak bersih, terawat, rapi dan teratur, mampu memberikan suasana akrab-santai kepada pengunjungpengunjungnya.

Tidak hanya hidangan masakannya saja yang menjadi buah bibir, tapi si pemilik warung pun mengundang perhatian orang. Hal itu bukan tanpa alasan, sebab "Warung Climen" oleh penduduk desa dan kampung di sekitarnya diberi julukan "Warung Ndoro Ayu". Karena  salah dengar, tersebar luas menjadi "Warung Ayu". Orang lalu mengira pemiliknya seorang wanita muda yang cantik menggiurkan.

Munculnya seorang wanita usia senja misterius di tempat itu sendiri, sudah menimbulkan  tanda tanya. Kabut teka-teki menyelubungi kehadirannya. Siapa sebenarnya wanita itu?  Pribadinya memang sangat menarik. Setua itu ia masih tampak cekatan, langsing berisi, dan atraktif. Ia selalu mengaku sebagai orang desa biasa, tapi wajah cantik, mata  membelalak dengan sorotnya yang berwibawa itu, sulit menyembunyikan asal-usulnya. Tingkah laku dan sikapnya tak ubahnya seperti kebanyakan pemilik warung—sopan-santun, grapyak (ramah tamah), andapasor (merendah)—namun, wibawa yang memancar dari Wajah yang menarik itu memaksa orang untuk menaruh hormat kepadanya.

Berbagai cerita dan kisah bermunculan. Ada yang berkata bahwa wanita itu masih kerabat Keraton. Ada juga desas-desus, bahwa ia janda seorang bupati daerah pesisiran. Lain  orang, lain ceritanya. Namun pemilik "Warung Climen" itu membiarkan saja cerita khayal bertebaran, sebab hal itu malah meningkatkan jumlah pengunjung yang berdatangan. Bahkan akhirnya pemilik warung itu menerima panggilannya yang tetap. Ia terkenal sebagai Ibu Climen.
 
Pagi itu Ibu Climen sedang menikmati pemandangan indah di belakang rumahnya. Di kejauhan, kebiru-biruan, berdiri megah Gunung Merapi, gagah, perkasa, penuh misteri. Asap tebal menjulang tinggi keluar dari puncaknya yang tajam, bermandi-mandi sinar matahari pagi.

Tampak di hadapannya desa dan dukuh, tenang dan damai dalam pangkuan kaki gunung yang sulit diramalkan kemungkinan erupsinya. Tanaman padi kememping (berbutir muda)  bergerakgerak, mengangguk-angguk, mengikuti arah embusan angin. Gumam wanita usia senja itu, 
 "Selamat jalan, Anak-anakku."

MADUGONDO
 
Bersandar pada tongkat kayu kesayangannya, seorang laki-laki berkulit putih, berambut pirang, tubuh tinggi, kokoh, kekar, berdiri mematung melepaskan pandangannya jauh ke ufuk timur.

Bulan berbentuk sabit yang sedang diamatinya, sudah agak tinggi letaknya di atas cakrawala. Angin kumbang meniup-niup berputar-putar, menggerak-gerakkan lautan daun kecoklat-coklatan, tanaman tebu yang hampir siap tebang. Tinggi di udara sekelompok burung bangau santai terbang menyongsong kehadiran sang bulan, seolah-olah mereka belum sadar, bahwa malam telah tiba. Bintang-bintang berkedip-kedip berhamburan di angkasa raya. "Indah, misterius, Insulinde, mijn tweede Vader-land (Indonesia, tanah airku yang kedua)," gumam lakilaki itu.

Sekonyong-konyong tanpa disadarinya, gambaran peristiwa besar yang sedang berlangsung di dunia Barat begitu saja mendesak penampilan keindahan alam yang sedang dikaguminya itu. 

Terbayang-bayang di hadapannya topan peperangan yang sedang menyapu bumi Eropa. Bohemia dan Moravia begitu cepatnya jatuh dalam kekuasaan Jerman Nazi. Sementara itu Polandia sedang mati-matian bertempur menghadapi Divisi-divisi Lapis Baja Adolf Hitler di front barat dan Divisi-divisi Artileri Joseph Sta-lin di front timur. Sebenarnya nasib Polandia sudah dapat diramalkan sebelumnya. Negeri yang patriotik itu akan bertekuk lutut dalam beberapa hari saja.

"Blitzkrieg, blitzkrieg... Quo Vadis, Europa (Perang kilat, perang kilat... akan ke mana Eropa)?" desahnya.

Van Hoogendorp, begitu nama orang itu, tergugah dari lamunannya ketika mendengar teguran, "Apa yang sedang kaupikirkan, Pap?"

Menoleh, melihat anak tunggalnya yang bernama Ivonne, Van Hoogendorp menjawab, "Kau, Ivo? Indie (Indonesia) begitu indah, ya?"Lalu ajak Ivonne, "Mari, Pap, pulang. Makan malam sudah siap."

"Mari, mari," tanggap ayahnya.

Melewati jalan inspeksi di tengah-tengah tanaman tebu, ayah dan anak santai berjalan menuju sebuah bangunan besar—megah dan anggun. Rumah kediaman resmi Administrator Perkebunan dan Pabrik Gula Madugondo. Rumah besar itu terletak tepat di  tengah-tengah kota Perang kilat, perang kilat... akan ke mana Eropa? Indonesia kecil yang juga bernama Madugondo. Lahan perkebunan itu merupakan bagian dari Tanah Partikelir, Particuliere Landerij Gondo Arum, milik sebuah perusahaan Belanda, CV. Gebroeders van Zanten.

Memasuki halaman luas berkerikil halus, diayomi oleh sepasang pohon regenboom (pohon trembesi) besar dan rindang, lima ekor anjing Dalmatia menyongsong kedatangan Jonkheer dan Freule van Hoogendorp. Anjing-anjing itu melonjak-lonjak kegirangan, seperti majikan-majikannya itu baru kembali dari suatu perjalanan yang jauh saja.

"Bimo, kom, kom, Bimo! Jangan nakal, ya!" tegur insinyur pertanian lulusan Wageningen itu sambil membelai kepala anjing yang terbesar di antara anjing-anjing yang lain. Sesudah lulus dari Landbouwkundige Hoge-school—Sekolah Tinggi Pertanian di Negeri Belanda, Hendrik van Hoogendorp yang berdarah biru itu langsung mengabdikan dirinya pada perkebunan gula. Berpindah-pindah dari pabrik gula yang satu ke pabrik gula yang lain. Administrator itu masih baru di Madugondo.

Nyonya Van Hoogendorp sudah menunggu kedatangan suaminya di pendapa rumah yang berlantaikan marmer Carara, putih bersih mengkilat, dengan saka-saka guru yang bergaya Yunani—mengenakan gaun panjang berwarna ungu muda. Dia seorang wanita Belanda-Indo, berwajah cantik, atraktif, namun memberikan kesan agak tinggi hati. Kalau sang suami pandai menyesuaikan diri dengan tradisi dan adat-istiadat lingkungannya, sebaliknya istrinya yang berdarah campuran Belanda-Jawa itu malah bertingkah laku kebelanda-belandaan yang berlebihan. Logat, lafal, gaya bahasanya meniru-niru ucapan Belanda totok yang baru saja menginjakkan kakinya di bumi Nederlands-Indie (Hindia-Belanda).

( Password : Novel I-One )

Sumber : ac-zzz.blogspot.com

Ali Topan Anak Jalanan - Teguh Esha

Pagi hari, Senin pertama bulan Juli 1977. Langit biru muda memayungi Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Matahari mencorong di Timur. Ali  Topan, Bobby, Dudung dan Gevaert menaiki motor masing-masing, ngebut di jalanan seputar Blok M.
Blok M adalah suatu blok perumahan dan pertokoan seluas kurang-lebih tiga kilometer persegi. Sebelah utaranya dibatasi lapangan Markas Besar Angkatan Kepolisian atau Mabak, sebelah timur dibatasi Jalan Iskandarsyah Raya, sebelah selatan dibatasi Jalan Melawai Raya, dan sebelah baratnya dibatasi Jalan Si Singamangaraja. Kebayoran Baru terdiri dari beberapa blok, dari A sampai S. Penduduknya umumnya pekerja dan pedagang kelas menengah dari luar Jakarta, yang berjumlah sekitar 400.000 orang.

Empat sekawan itu adalah murid-murid kelas III Pal - Pengatahuan Alam - satu SMA Bulungan I “Bulungan” yang terletak di ujung timur Jalan Mahakam, Blok C Kebayoran Baru, yang berbatasan dengan Jalan Si Singamangaraja. Mereka tertawa gembira, berdansa di jalanan, itu istilah untuk sport jantung menyelip-nyelipkan motor di sela-sela kendaraan yang melalu-lintas. Wajah-wajah tampan yang cerah, rambut-rambut yang  gondrong melambai kena angin, dan bercanda sepanjang jalan merupakan merupakan manifestasi sikap bebas aktif anak-anak muda itu. Oleh kaum tua yang sedikit pikun, mereka dinamakan berandalan atau krosboi, tapi mereka tak peduli.

Mereka ada di jalan Panglima Polim Raya. Lampu perempatan Jalan Pangporay —Panglima Polim Raya—dan Jalan Melawai Raya menyala kuning. Kemudian  merah. Kendaraan umum berhenti. Tapi Ali Topan dan kawan-kawannya langsung saja tancap gas membelok ke arah kiri, memotong kendaraan yang bergerak dari arah Blok M, langsung melaju ke Jalan Bulungan.
“He, bajingan!” seorang pengendara Toyota Corolla tahun 1973 warna kuning memaki Ali Topan yang hampir ditubruknya. Tapi Ali Topan tak menggubris cacian itu. Demikian pula kawan-kawannya. Mereka terlalu sering mendengar caci maki orang, jadi sudah kebal.

Ali Topan Cs tetap ngebut, membelok ke kanan di perempatan Jalan Bulungan—Jalan Mahakam, dan terus menggeblas lewat SMA Bulungan I yang tegak di ujung Jalan Mahakam. Beberapa teman yang ada di depan sekolah melambaikan tangan. Ali Topan Cs tak sempat membalas mereka.

Nama SMA Bulungan I yang terletak di Jalan Mahakam itu berasal dari riwayat dua SMA di Jalan Bulungan —yaitu SMA Bulungan Pagi dan SMA Bulungan Sore—yang dipisah menjadi dua karena dilokasi itu dibangun Gelanggang Remaja Jakarta Selatan oleh Pemerintah Daerah Khusus Istimewa Jakarta, atas inisiatif Gubernur Ali Sadikin yang beken dipanggil Bang Ali. SMA Bulungan Pagi menjadi SMA Bulungan I di jalan Mahakam, sedangkan SMA Bulungan Sore menjadi SMA Bulungan II di Jalan Bulungan. Gelanggang Bulungan—nama pop GRJS—diapit oleh dua SMA bersaudara itu.

Pada hari peresmiannya, seorang murid lelaki yang patah hati dengn guru perempuan menggambari dinding sekolah itu dengan lambang hati dan anak panah yang patah dan angka Bulungan pakai cat merah darah. Sejak saat itu nama sekolah itu beken dengan sebutan SMA
“Patah Ati” atau SMA Bulungan di kalangan remaja Kebayoran.

Pada formasi dua-dua mereka mengebut terus, memotong jalan raya, lurus menuju kawasan pertokoan Blok M. Sopir biskota, helicak, tuan-tuan di mobil mewah maupun rakyat kelas menengah di atas sadel motor masing-masing memaki kalang kabut, nyaris serempak, ketika para remaja itu seenak hati memotong jalan mereka.Hei! Anjiiiing!” seorang muda yang menyetir Mercedes memaki Ali Topan Cs.

“Sama, njiiiing!” Ali Topan balas memaki. Ia tampak paling tampan, paling gagah dan paling brandal di antara kawanan anak-anak muda bersepeda motor trail itu. Orang muda di belakang setir Mercedes itu mengacungkan tinju ke arah punggung Ali Topan Cs. Muka sopir itu lancip kayak muka tikus. Ali Topan dan Gevaert kebetulan melihatnya dari kaca spion. Tanpa kode etik lagi, kedua remaja itu me-rem motor mereka, dan mengepoti Mercedes itu. Tak sampai kesenggol moncong Mercedes, Ali Topan dan Gevaert menancap gas, langsung menggeblas ke depan sambil tertawa keras sekali.
 “Kurang ajaaar!” sopir Mercedes itu memaki. Wajahnya merah padam. Wanita menor berusia 45 tahun yang duduk di belakang menekan dadanya. Kaget. Seorang gadis remaja berwajah lonjong yang duduk di samping sopir Mercy itu menggigit bibir sedikit. Rambut panjangnya yag hitam lebat diberi pita merah muda, menjadikannya terlihat manis. Ia merasa geli mendengar makian “anjiiing” dan “kurang ajar” yang terlontar dari mulut tukang setir Mercy-nya.

“Sudah. Jangan digubris, Boy,” si nyonya yang duduk di belakang berseru. Suaranya rada serak, seperti suara orang sakit TBC. Ia mengusap tas kulit hitam berukiran nama: Ny. Surya. Wajahnya yang tirus dipoles bedak dan gincu kemerahan tampak masam.


Sopir mobil yang dipanggil Boy patuh. Matanya melirik ke arah gadis di sebelahnya. ”Anak-anak sekarang ini berandalan semua,” gerutunya. 


Nyonya Surya yang duduk di belakang bersuara lagi, “Jammu menunjukkan jam berapa, Anna?”
Gadis remaja yang manis itu melihat jam tangannya, lalu menjawab tanpa menoleh ke belakang, “Jam tujuh kurang sedikit, Mama....”


“Kurang sedikit itu berapa?” tanya Nyonya Surya. Sepasang mata Anna, putri nyonya Surya, melihat sekilas arloji emas di pergelangan tangan kirinya. “Jam tujuh kurang tiga menit dan beberapa detik, mama,” katanya.


“Toko buku di Blok M buka jam berapa?” tanya si nyonya lagi.
“Biasanya sih jam tujuh persis, Mama,” jawab Anna.
“Kalau tak biasa jam berapa?” Boy bertanya, iseng. Anna tak menjawab. Wajahnya cemberut. Sepasang matanya yang lebar dan cemerlang seperti pagi menatap lurus ke jalanan di depan. Samar-samar di kejauhan dilihatnya anak-anak bermotor tadi membelok ke arah Pasar Melawai, Blok M. Anna mengusap alisnya yang lebat dan indah.



Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma - Idrus

Memuat kisah-kisah zaman Revolusi, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma dibagi secara kronologis menjadi tiga bagian: Jaman Jepang, Corat-Coret di Bawah Tanah, dan Sesudah 17 Agustus 1945. Dari buku yang tipis ini, kita dapat melihat semacam evolusi Idrus dari gaya romantik ke gaya khas satir tragikomiknya yang belum banyak dianut saat itu. Ringkas, lincah, dan lugas, Idrus mengolok-olok Jepang, dan menjungkirbalikkan “kesakralan” heroisme revolusi.

Dua cerita di bagian pertama, Ave Maria dan Kejahatan Membalas Dendam, ditulis di awal perkenalannya dengan figur seperti Sutan Takdir Alisjahbana di Balai Pustaka, dan kental menunjukkan pengaruh romantis jaman itu. Namun di bawah pengawasan ketat sensor Keimin Bunka Shidoso atau Kantor Pusat Kebudayaan Jepang, kedua cerita itu mengalami nasib yang sama dengan majalah Pujangga Baru yang dibredel: dilarang beredar karena dianggap tidak mencerminkan semangat “ketimuran” (Judul “Ave Maria” dianggap kebarat-baratan!), bahkan dikatakan mengandung anasir propaganda untuk melawan Jepang.

Kendati demikian, Idrus dengan sembunyi-sembunyi tetap menulis, dan hasil catatan-catatan yang ia buat dengan rahasia ini, dirangkum dalam bagian Corat-Coret di Bawah Tanah. Di bawah judul yang sedikit mengingatkan kita pada Notes from the Underground Dostoyevsky, kita menemukan cerita-cerita tajam realistis humoris, berdasarkan apa yang disebut Jassin sebagai “kesederhanaan baru”. Yang menarik adalah, Idrus menulis sebagian karya-karya yang tajam ini, saat dia bekerja di Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa, yang berada di bawah Seksi Propaganda Sendenbu, setelah ia pindah dari Balai Pustaka karena tak puas dengan gajinya yang kecil. Dalam cerita Pasar Malam Jaman Jepang kita bisa membaca sedikit mengenai Sendenbu ini:

Semua orang telah mengerti arti Sendenbu. Sendenbu, barisan propaganda. Tapi mereka belum mengerti, mengapa Sendenbu itu selalu harus campur tangan. Sandiwara dengan bantuan Sendenbu, perkumpulan musik dengan bantuan Sendenbu, pertandingan dbola dengan bantuan Sendenbu.

Tapi mereka bergirang hati juga, sebab apa-apa yang dicampuri Sendenbu selalu menarik hati.

“Corat-coret” Idrus memberi kita gambaran gamblang mengenai kehidupan dan peristiwa-peristiwa yang terjadi saat itu. Menggelitik, acuh, kerap mencemooh, terkadang humoris, selalu tajam, Idrus menangkap apa yang disebut Jassin sebagai “sikap jiwa masa bodoh terhadap peristiwa-peristiwa yang dianggap besar di masa itu.”


Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, oleh Idrus (1948). No. Panggil: F IDR Ave

Dalam Fujinkai, kita melihat kehebohan Nyonya Sastra mempersiapkan rapat Fujinkai di kampung A, “repot betul, seperti hendak mengawinkan anaknya. Pinjam meminjam kursi, panggil memanggil anggota.” Dengan tajam kita membaca timpalan ejekan dan sinisme dari para peserta rapat, kekonyolan kehebohan sok resmi tanpa juntrungan yang jelas, sampai kemarahan peserta yang harus menghabiskan banyak waktunya mendengarkan omong kosong hapalan hanya untuk kemudian dimintai sumbangan seringgit demi membuat “kuwe-kuwe” untuk prajurit Nippon yang sakit. “Nyonya Sastra mengapus keringat di keningnya. Rapat bubar dengan selamat.” Kita tertawa (getir?) membacanya, mengingat hingga sekarangpun, situasi “rapat” birokratis sepertinya juga tidak banyak berubah.

Sikap mencemooh ini terus tertuang bahkan setelah Jepang angkat kaki, dalam bagian terakhir, Sesudah 17 Agustus 1945. Di sini kita dapati satu novelet Idrus yang sangat terkenal, mengusung peristiwa besar “Hari Pahlawan” di kota kita, bahkan menggunakannya sebagai judulnya,Surabaya. Seolah tak peduli dengan gegap-gempita revolusi, Idrus membabat habis gambaran heroisme 10 November. Para pemuda, diibaratkannya sebagai cowboy dan bandit. Mereka berjalan dengan dada membusung, revolver dan belati di pinggang: “Revolver-revolver guna menembak pencuri-pencuri sapi dan pisau-pisau belati… guna perhiasan.” Tapi pencurian sapi tidak pernah terjadi, dan bunyi letupan-letupan revolver, ternyata ditembakkan ke atas, “ke tempat Tuhan lama.”

Kekacauan kondisi kaum pelarian dengan segala kesengsaraan dan kekonyolannya, digambarkan dengan sinis dan tajam, terkadang kasar dan jenaka. Seorang pemuda menyamar menjadi orang tua, tertembak dan dihajar habis-habisan. Kedatangan wartawan mesum dari Jakarta dengan dada dan pantat tipis, teriakan trauma seorang ibu yang menjadi pemandangan sehari-hari dan ditinggal orang tidur, pemeriksaan badan yang semena-mena di stasiun-stasiun, hingga pelarian-pelarian perempuan yang “banyak dapat makanan dan cinta pengawal-pengawal”, dengan segala tukang catut dan “penyakit raja singa” (sipilis).

Seorang perempuan dihajar setengah mati atas tudingan mata-mata, karena ia mengenakan selendang merah, baju putih dan selop biru (yang ternyata, setelah ditilik lebih jeli, berwarna hitam!). Citra bambu runcing sebagai satu-satunya senjata perjuangan jaman itu pun, dipertanyakan, seiring dengan tindakan-tindakan semena-mena anggota tentara yang “banyak bertentangan dengan adat kesopanan”.

Novelet Surabaya pertama kali diterbitkan oleh Merdeka Press di tahun 1947, dan menimbulkan banyak kontroversi. Idrus dicap kontrarevolusi karena penggambaran karikatur (skeptis)nya mengenai pertempuran Surabaya (dan revolusi pada umumnya). Tapi memang, kisah-kisah bandit yang menjelma menjadi pejuang (dadakan) dan beraksi bak koboi di berbagai kota di Jawa, tercatat dalam sejarah hingga beberapa tahun setelah Surabaya terbit. Sesuai dengan sinisme massa yang meragukan janji-janji revolusi dan heroisme di tengah-tengah kemelaratan dan kesengsaraan jaman, bisa jadi Idrus hanya menggambarkan kisah dan keluhan yang kerap bersliweran saat itu.

“Di kala mana sedang revolusi berkobar dengan hebatnya dengan semboyan-semboyan yang berapi-api, pengarang telah melihat dan mengeritik berbagai kekurangan yang dilihatnya,” tulis Jassin dalam pendahuluan buku ini. Tak jarang ia didamprat karena tulisan-tulisannya dianggap menghina revolusi. Idrus, dengan gaya prosanya yang tajam dan lugas, memberi kita banyak kritik dan laporan sejarah, untuk tidak tenggelam dalam sekedar simbol dan semboyan mendayu-dayu.




Layar Terkembang - Sutan Takdir Alisjahbana

Novel Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana adalah novel roman lama yang menjadi saksi sejarah dan perkembangan Bahasa Indonesia, sekaligus jejak pemikiran modern Indonesia.

Novel ini mengisahkan perjuangan wanita Indonesia dalam mencapai cita-citanya. Roman ini termasuk novel modern disaat sebagian besar masyarakat Indonesia masih dalam pemikiran lama (1936). Novel ini banyak memperkenalkan masalah wanita Indonesia dengan benturan-benturan budaya baru, menuju pemikiran modern. Hak-hak wanita, yang banyak disusung oleh budaya modern dengan kesadaran gender, banyak diungkapkan dalam novel ini dan menjadi sisi perjuangannya seperti berwawasan luas dan mandiri. Didalamnya juga banyak memperkenalkan masalah-masalah baru tentang benturan kebudayaan antara barat dan timur serta masalah agama.

kisah bermulai dari sosok kakak beradik yang berpengarai berbeda, Tuti dan Maria. Tuti seorang kakak yang selalu serius dan aktif dalam berbagai kegiatan wanita. Ia bahkan aktif dalam memberikan orasi-orasi tentang persamaan hak kaum wanita. Pada saat itu, semangat kaum wanita sedang bergelora sehingga mereka mulai menuntut persamaan dengan kaum pria. Sedangkan Maria adalah adik yang lincah dan periang sehingga semua orang yang berada di dekatnya pasti akan menyenangi kehadirannya. Di tengah-tengah dua dara jelita ini, muncullah Yusuf, seorang mahasiswa kedokteran, yang pada masa itu lebih dikenal dengan sebutan Sekolah Tabib Tinggi. Sejak pertemuannya yang pertama di gedung akuarium Pasar Ikan, antara Maria dan Yusuf timbul kontak batin sehingga mereka menjadi sepasang kekasih.

Sementara itu, Tuti yang melihat hubungan cinta kasih adiknya sebenarnya berkeinginan pula untuk memiliki seorang kekasih. Apalagi setelah ia menerima surat cinta dari Supomo, seorang pemuda terpelajar yang baik hati dan berbudi luhur.. Namun, karena pemuda itu bukanlah idamannya, ia menolak cintanya. Sejak itu hari-harinya semakin disibukkan dengan kegiatan organisasi dan melakukan kegemarannya membaca buku sehingga ia sedikit melupakan angan-angannya tentang seorang kekasih.

Setelah melalui tahap-tahap perkenalan, pertemuan dengan keluarga, dan kunjungan oleh Yusuf, diadakanlah ikatan pertunangan antara Maria dan Yusuf. Tetapi sayang, ketika menjelang hari pernikahan, Maria jatuh sakit. Penyakitnya parah, malaria dan TBC, sehingga harus dirawat di Sanatorium Pacet. Tidak lama kemudian, Maria menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sebelum ajal datang, Maria berpesan agar Tuti, kakaknya bersedia menerima Yusuf. Tuti tidak menolak dan dimulailah pertunangan antara Tuti dan Yusuf. Akhirnya tak lama kemudian keduanya menikah dan hidup selamanya.

Srikandi Belajar Memanah - Sunardi D.M

Jemari Srikandi yang meruncing halus itu tiada henti merangkai bunga gambir dan melati. Dia melihat hasil bunga yang dirangkainya dengan seksama, seulas senyum kecil tersungging di bibirnya. Berkatalah ia pada inang pengasuhnya “biyung emban siapakah kira-kira yang pantas memakai karangan bunga yang kususun sendiri ini biyung?”

Nyai emban melakukan sembah dan menjawab “siapa lagi kalau bukan adik paduka sendiri, Raden Drustajumna”

Mendengar jawaban itu Srikandi segera memotong “ah terlampau bagus untuknya, menurut perasaanku hanya Raden Arjuna dari madukara saja yang pantas memakai rangkaian bunga ini biyung”

Biyung emban pun berkata “tapi kenapa harus Raden Arjuna gusti putri? Bukankah Raden Drustajumna adalah adik kandung gusti putri? Sedangkan Raden Arjuna itu hanyalah kerabat saja, kekasih bukan apalagi suami juga pasti bukan”

Dengan nada tinggi Srikandi menjawab “jadi maksudmu aku tak pantas bersanding dengan Raden Arjuna? Gitu biyung!”

“loh memangnya gusti putri berniat menjadi istrinya Raden Arjuna?” tanya si emban dengan kaget.

Srikandi tersipu malu dan menjawab “memang kenapa kalau aku mau menjadi istri Raden Arjuna biyung? Apakah tidak boleh?”

“tentu saja tidak boleh gusti putri! Karena meskipun Raden Arjuna itu terkenal gagah dan tampan serta sakti mandraguna, tetapi sudah bukan rahasia lagi kalau Raden Arjuna itu bajul buntung yang suka menebar cinta dimana-mana, Istri dan kekasihnya berjibun dimana-mana. Aduh… aduh… aduh… pokoknya lupakan saja Raden Arjuna itu gusti putri. Lagi pula menurut kabar yang hamba terima, gusti putri akan segera dijodohkan dengan Prabu Jungkurmadea dari Paranggubarja”

Mendengar hal itu Srikandi sontak kaget dan langsung berdiri “dari mana kamu mendengar kabar itu biyung?”

“ampun gusti putri, hamba mendengar ini dari para penjaga yang mengatakan bahwa tadi pagi ada utusan dari Prabu Jungkumardea yang hendak melamar gusti putri”

Tak lama setelah emban mengatakan itu, nampaklah kedatangan Permaisuri Cempalareja Dewi Gandawati diiringi dengan dayang-dayangnya.

Melihat kedatangan ibundanya terebut Srikandi langsung berlari dan memeluk kaki ibunya. Sambil menangis dia berkata “Ampun kanjeng ibu, apa salah anakmu ini sehingga kanjeng romo dan kanjeng ibu mau menjodohkan aku dengan seorang yang tak dikenal?”

Melihat ulah anaknya itu Dewi Gandawati jadi terharu dan memeluk putrinya “ah tidak putriku romo dan ibundamu ini hanya merasa sudah waktunya kamu untuk memiliki seorang suami pendamping hidup dan kebetulan sekali Prabu Jungkumardea adalah seorang raja yang masih jejaka dari Kerajaan Paranggubarja ingin menjadikanmu sebagai permaisurinya, tentu saja Romo dan bundamu ini menerimanya dengan senang hati”.

“pokoknya putrimu ini tidak sudih, lebih baik jadi wadat tidak menikah seumur hidup, daripada harus menikah dengan orang yang tak dikenal” mendengar jawaban tersebut Dewi Gandawati berkata “aduh putriku, pikirkanlah nasib kerajaan ini jika engkau menolak lamaran Raja Paranggubarja itu, sudah pasti akan terjadi perang yang tentunya akan merugikan rakyat banyak, pikirkanlah tentng hal itu anakku”.

Srikandi diam sesaat seperti memikirkan sesuatu, kemudian dia berkata “baiklah ibu, berikanlah putrimu ini waktu selama tujuh hari untuk melakukan tapa brata agar bisa memikirkan hal ini dengan baik” sambil menghela napas panjang dan mengelus rambut p[utrinya Dewi Gandawati berkata “baiklah anakku pikirkanlah hal ini dengan baik, biar bundamu ini yang akan melaporkan pada romomu”

Setelah itu Dewi Gandawati pun pergi dan Srikandi kembali ke kamarnya, akan tetapi alih-alih bersiap-siap untuk melakukan tapa brata, Srikandi malah mengemasi pakaiannya dan diam-diam pergi keluar istana menuju Madukara untuk menemui Arjuna.

Setibanya di Madukara, Srikandi menyelinap masuk ke Taman Maduganda. Untuk menarik perhatian Arjuna, dipetiklah setiap bunga-bunga yang ada dan sebarkannya di setiap jalan yang dilewatinya.

Arjuna yang datang diiringi Semar, Gareng, Petruk dan Bagong memasuki taman Maduganda. Dia sangat terkejut serta marah melihat taman kesayangannya menjadi rusak dan bunga-bunga jatu berserakan di sepanjang jalan. Dengan marah dia berkata “siapa ini orangnya berani merusak tamanku, memetik bunga-bunga dan dibuang disepanjang jalan? Sungguh berani mati! Aku bersumpah kalau ia laki-laki akan kupotong lehernya, kalau perempuan biasa akan kupotong tangannya, dan jika ia perempuan cantik maka akan aku sekap selama tujuh hari tujuh malam dalam kamarku”.

Baru saja kata-katanya selesai diucapkan, dilihatnya ada seorang putri cantik berdiri tidak jauh dari situ “ee.. ternyata dinda Srikandi ptri ayu dari Cempalareja yang merusak tamanku. Apa boleh buat harus kena hukuman karena sudah menjadi sumpahku harus kusekap selama tujuh hari tujuh malam dalam kamarku.




 
Subscribe to Novel I-One

Enter your email address: