Loading
Showing posts with label Novel Perjuangan. Show all posts
Showing posts with label Novel Perjuangan. Show all posts

Kerja Upahan dan Kapital - Karl Marx

Dari berbagai pihak kami telah ditegur bahwa kami tidak menjadikan hubungan-hubungan ekonomi yang merupakan dasar material dari perjuangan-perjuangan klas dan perjuangan nasional dewasa ini. Kami sengaja menyinggung hubungan-hubungan ini hanya di mana hubungan-hubungan itu langsung menonjolkan diri ke depan dalam bentrokan politik.

Soalnya ialah, pertama-tama, mengusut perjuangan klas dalam sejarah yang sedang berjalan, dan membuktikan berdasarkan pengalaman dengan bahan-bahan sejarah yang sudah ada dan yang baru diciptakan setiap harinya, bahwa bersamaan dengan penaklukan atas klas buruh yang telah ditempa oleh Pebruari dan Maret,1 lawan-lawannya juga dikalahkan–kaum republiken burjuis di Perancis dan klas-klas burjuis dan petani yang sedang berjuang melawan absolitisme feodal di seluruh daratan Eropa; bahwa kemenangan “Republik jujur” di Perancis bersamaan itu pula merupakan keruntuhan bangsa-bangsa yang menyambut Revolusi Pebruari dengan peperangan kemerdekaan yang heroik; akhirnya, bahwa Eropa, dengan kalahnya kaum buruh revolusioner, telah jatuh kembali ke dalam perbudakannya yang lama yang berlipatdua, perbudakan Inggris-Rusia. Perjuangan Juni di Paris, jatuhnya Wina, tragi-komidi Berlin pada bulan Nopember 1848, usahausaha yang nekat di Polandia, Italia dan Hongaria, pelaparan Irlandia supaya tunduk–inilah faktor-faktor utama yang mencirikan perjuangan klas di Eropa antara burjuasi dan klas buruh, dan dengan mana kami membuktikan bahwa setiap pergolakan revolusioner, betapa pun juga jauh tujuannya nampaknya dari perjuangan klas, mesti gagal sebelum klas buruh revolusioner menang, bahwa setiap perubahan sosial tetap merupakan utopi sebelum revolusi proletar dan kontra-revolusi feodal mengadu anggar di dalam suatu perang dunia. Dalam uraian kita, sebagaimana dalam kenyataannya, Belgia dan Swiss adalah lukisan gaya tragi-komis yang mirip karikatur di dalam tablo sejarah yang besar, yang satu menjadi model negara monarki burjuis, lainnya model negara republik burjuis, kedua-duanya adalah negara-negara yang mengkhayalkan diri bebas dari perjuangan klas juga bebas dari revolusi Eropa.

Sekarang, sesudah para pembaca kami melihat perjuangan klas berkembang dalam bentuk-bentuk politik yang besar-besaran dalam tahun 1848, tibalah saatnya untuk mempersoalkan lebih dalam tentang hubungan-hubungan ekonomi itu sendiri yang menjadi dasar hidup burjuasi dan kekuasaan klasnya, serta juga dasar perbudakan atas kaum buruh.

Kami akan menguraikan dalam tiga bagian besar: 1) hubungan kerja-upahan dan kapital, perbudakan atas buruh, penguasaan oleh si kapitalis; 2) kehancuran yang tak dapat dielakkan dari klas-klas burjuis menengah dan apa yang dinamakan pangkat tani di bawah siseim dewasa ini; 3) penaklukan perdagangan dan penghisapan atas klas-klas burjuis dari berbagai bangsa Eropa oleh rajalela pasar dunia–Inggris.

Kami akan berusaha membuat uraian kami sesederhana dan sepopuler mungkin dan tidak akan menganggap sudah adanya pengertian yang elementerpun tentang ekonomi politik. Kami harapkan agar dimengerti oleh kaum buruh. Lagipula, di Jerman terdapat ketidaktahuan dan kekacauan pengertian yang paling mencolokmata mengenai hubungan-hubungan ekonomi yang paling sederhana, dari pembela-pembela resmi atas keadaan yang ada sampai kepada dukun-dukun ajaib sosialis dan zeni-zeni politik yang tidak diakui yang di Jerman yang terpecah-pecah itu lebih melimpah ketimbang pangeran-pangeran berdaulat. Sekarang, karenanya, soal yang pertama: Apakah upah itu? Bagaimana upah itu ditentukan?
 
Bila buruh ditanya: “Berapakah upahmu?” seorang akan menjawab: Saya mendapat satu mark sehari dari majikan saya,” lainnya, “saya mendapat dua mark” dan demikian seterusnya. Sesuai dengan lapangan-lapangan pekerjaan yang berbeda-beda yang mereka jalankan, mereka akan menyebut berbagai-bagai jumlah uang yang mereka terima dari majikannya masing-masing untuk pelaksanaan suatu pekerjaan tertentu, umpamanya penenunan satu meter kain lenan atau pen-set-an huruf suatu lembaran cetak. Walaupun berbagai macam pernyataannya, mereka semua akan setuju pada satu soal: bahwa upah adalah jumlah uang yang dibayar oleh kapitalis untuk waktu kerja yang tertentu atau untuk hasil kerja tertentu.

Pengen tahu kelanjutan ceritanya, silahkan download :

( Password : Novel I-One )


Aku Melawan Teroris - Imam Samudra

SEJAK Januari 1985, pengadilan-pengadilan di Indonesia menggelar persidangan puluhan perkara politik Islam. Selama 30 bulan tanpa henti perkara ini digelar guna mengungkapkan kasus dessident muslim terhadap rezim Soeharto, dengan menuduhnya seba-gai teroris dan fundamentalis. Bahkan selama berta-hun-tahun masyarakat dicekoki perasaan takut terha-dap siapa saja yang dipandang sebagai musuh peme-rintah atau gerakan yang mengarah kepada pemben-tukan "Daulah Islamiyah" di Indonesia.

Persidangan-persidangan yang digelar secara revo-lusioner menjadi bumerang, karena membuat kaum muslimin berubah sikap pada pemerintah. Rezim militer Soeharto termasuk rezim yang paling lama berkuasa di dunia. Di bawah rezim diktator ini, Indonesia dikuasai oleh pemerintahan dzalim yang sudah mendarah daging. Oposisi dalam bentuk apapun tidak diperkenankan, dan terus menerus melakukan intimi-dasi dan tekanan yang sangat hebat terhadap kemer-dekaan individu, penindasaan terhadap kebebasan, hak berbicara serta melakukan diskusi terbuka.

Adalah mengherankan, dalam kondisi tertekan justru muncul aktivis-aktivis keagamaan di semua lapisan masyarakat Indonesia, mereka melakukan diskusi-diskusi politik dan kebudayaan. Aktivitas ini diprakarsai oleh generasi muda muslim terpelajar. Sebagian dari mereka ada yang study ke luar negeri: Timur Tengah dan Eropa. Banyak di antara mereka yang terpengaruh oleh perkembangan-perkemba-ngan baru yang terjadi di dunia Islam. Semangat kebangkitan ini dimotivasi oleh para muballigh serta politikus-politikus muslim senior.

Organisasi-orgnisasi Islam resmi tidak ingin berkonfrontasi dengan gerakan yang mendukung demokrasi, juga dengan orang-orang yang mendesak kaum muslimin untuk menciptakan gerakan kebudayaan dan politik alternatif. Di tengah merajalelanya despotisme, banyak masjid berubah menjadi pusat-pusat halaqah, penerbitan buletin dan seminar; di samping sebagai tempat shalat berjama'ah serta aktivitas-aktivitas ke-Islaman lainnya. Selain itu bermunculan pula organisasi-organisasi baru di lingkungan perumahan-perumahan.

Dalam kondisi represif yang sengaja diciptakan pemerintah, adalah tidak mungkin melakukan kegiatan-kegiatan dengan cara lain untuk menggalakkan demokrasi dan keadilan.

Mulailah negara mengambil langkah-langkah keras, dengan menge-luarkan undang-undang yang mewajibkan asas tunggal Pancasila. De-wasa ini gerakan Islam dianggap sebagai bahaya laten atau ancaman potensial terhadap rezim militer, sehingga yang menjadi sasaran tindakan represif pemerintah adalah aktivis-aktivis muslim. Rezim Soeharto ber-sandar kepada keputusan hukum tahun 1965, saat terjadinya gelombang pembantaian massal. Dalam badai kemarahan ini, ratusan ribu orang yang dicurigai sebagai komunis dibunuh. Dan puluhan ribu lainnya dijeb-loskan ke dalam penjara dengan hukuman di atas 10 tahun, tanpa melalui proses pengadilan.

Setelah berlalu sepuluh tahun, pada pertengahan dasawarsa 1970-an muncullah perlawanan dari mahasiswa yang menuntut diadakannya perubahan politik dan iklim yang lebih demokratis. Para mahasiswa menghadapi rezim yang menguasai militer. Pada saat yang sama Indonesia melancarkan perang terhadap kaum pemberontak di Irian Barat, daerah yang sejak tahun 1963 telah menjadi bagian dari Indonesia. Disamping itu, Indonesia juga menghadapi perang perlawanan rakyat Timor Timur yang baru berintegrasi dengan Indonesia tahun 1975. Menghadapi pemberontakan bersenjata di kedua wilayah tersebut, militer Indonesia tidak mau bersikap lunak apalagi berkasih sayang dengan mereka yang menentang pemerintah. Peperangan ini pada akhirnya meninggalkan akibat yang parah berupa kematian, penyiksaan, pena-hanan dan pengawasan ketat. Dan orang-orang yang menentang peme-rintah orde baru di dalam maupun diluar negeri bertambah banyak.

Salah satu faktor yang menyebabkan rezim Soeharto mampu ber-tahan dalam waktu demikian lama, karena kehebatannya melibas lawan politik satu demi satu. Setiap kelompok masyarakat dipaksa untuk meng-hancurkan gerakan oposisi yang ada di dalam tubuh kelompoknya. Dengan lenyapnya gerakan oposisi yang terorganisasi dengan baik di dalam negeri, maka kekuatan yang menjadi sandaran para oposan tiada lain adalah dukungan serta bantuan dari luar negeri.

Tapol (Tahanan Politik) yang terdapat diberbagai penjara diseluruh wilayah Indonesia, yang terdiri dari politikus-politikus PKI dan kaum kiri, sebagian besar telah dibebaskan pada akhir dasawarsa tujuh puluhan. Dan masih tersisa sekitar 80 orang tapol, sedangkan 20 diantaranya dijatuhi hukuman mati. Sementara puluhan ribu orang yang dibebaskan itu, mengalami kematian perdata, dengan kehilangan hak-hak sipil serta politiknya.

Dewasa ini penghuni penjara-penjara di Indonesia telah berubah, diganti oleh generasi baru yang terdiri dari tahanan politik muslim, mereka adalah politikus yang menyuarakan aspirasi Islam. Mayoritas dari mereka ini, dahulunya mendukung militer menumpas PKI pada tahun 1965.

Juru bicara rezim Soeharto tidak jemu-jemunya mengingatkan orang, bahwa terdapat dua kelompok ekstrim yang senantiasa mengancam stabilitas nasional. Pertama, kelompok ekstrim kiri, yaitu sisa-sisa PKI setelah pemberontakan tahun '65 beserta organisasi pendukungnya. Dan organi-sasi ini seluruhnya terlarang sejak rezim militer memegang kekuasaan. Kedua, kelompok ekstrim kanan, adalah golongan Islam fundamentalis.


( Password : Novel I-One )


Malam Terakhir - Leila S Chudori

Malam terakhir adalah kumpulan cerpen Leila S Chudori. Seorang penulis kawakan. Sebagai seorang penggemar cerpen, buku ini sangat besar. Hampir semua cerpennya bagus dan banyak bercerita tentang wanita.

“Leila bercerita tentang kejujuran, keyakinan, tekad, prinsip dan pengorbanan…Banyak idiom dan metafor baru di samping padangan falsafi yang te…more “Leila bercerita tentang kejujuran, keyakinan, tekad, prinsip dan pengorbanan…Banyak idiom dan metafor baru di samping padangan falsafi yang terasa baru karena pengungkapan yang baru. Sekalipun bermain dalam khayalan lukisan-lukisannya sangat kasat mata.”



H.B.Jassin, pengantar Malam Terakhir Edisi Pertama


“Dalam cerpen ‘Air Suci Sita’, ditulis di Jakarta 1987, Leila memulai ceritanya dengan kalimat:’Tiba-tiba saja malam menabraknya.’ Sebuah kalimat padat yang sugestif dan kental…Dengan thnik bercerita yang menarik, Leila berhasil mengangkat gugatan mengapa hanya kesetiaan wanita yang dipersoalkan, bagaimana dengan kesucian para pria? (…) Sebagaimana awal dari perjalanan panjang Leila sebagai salah seorang penulis di masa depan, kumpulan ini penuh janji.”





Kearifan Pelacur - Elizabeth Pisan


Buku ini adalah sebuah buku non fiksi, namun kita tidak akan disuguhkan dengan uraian-uraian teoritis dengan seabrek data-data kering dengan bahasa yang sulit dimengerti . Buku ini bisa dikatakam merupakan campuran antara memoar dan berbagai analisis kebijakan penanganan HIV di berbagai negara di dunia termasuk Indonesia. Selain itu pembaca juga diajak menyelami pergolakan batin penulisnya. Itulah yang menjadikan buku ini tak hanya kaya akan data dan informasi, tetapi juga realistis dan sangat membumi, bahkan beberapa hal sangat praktis untuk dapat diterapkan. Pengalaman Elizabeth yang pernah bekerja sebagai jurnalis Reuters sangat berpengaruh dalam menyajikan tulisan yang enak dibaca dan sangat informatif ini.



Walau buku ini bukan buku tentang AIDS di Indonesia, namun karena Elizabeth banyak berkiprah di Indonesia, maka banyak dari apa yang diceritakannya dalam buku ini terjadi di Indonesia. Khusus mengenai Indonesia, berdasarkan analisanya, Elizabeth mengemukakan bahwa Indonesia memiliki dunia perdagangan seks yang besar dengan tingkat penggunaan kondom yang sangat rendah dan tingkat penularan penyakit seksual yang amat tinggi. Ini merupakan resep paling mujarab bagi penyebaran HIV/AIDS.

Pada tahun 1992, seorang peneliti Amerika Serikat bernama Mike Linnan menerbitkan sebuah laporan berjudul , “AIDS di Indonesia : Badai yang Akan Datang”, yang menyebutkan bahwa gelombang penularan penyakit ini akan segera menyapu Indonesia. Laporan ini membuat Bank Dunia pada tahun 1996 memberikan hampir 25 juta dolar kepada pemerintah Indonesia untuk menangani masalah ini. Sayang proyek ini mengalami ‘kesalahan pengelolaan’ hingga akhirnya tak memberikan pengaruh berarti pada penanganan virus AIDS di Indonesia. Untunglah dana-dana bantuan baik dari Amerika Serikat maupun Australia terus mengalir sehingga berbagai usaha pencegahan penyebar virus mematikan ini masih dapat terus berlangsung.

Mengenai dana-dana besar berjumlah puluhan milyar dolar yang digelontorkan berbagai negara termasuk Bank Dunia ini, Elizabeth mengandaikannya bagaikan semut dalam semangkuk gula, dimana dana yang besar ini menjadi rebutan baik pemerintah maupun LSM-LSM yang saling sikut untuk memperoleh bagiannya.

Dalam buku ini Elizabeth mengungkapkan bahwa ada beberapa golongan yang dianggap sebagai kendaraan penyebaran virus HIV, yaitu : para PSK, waria, kaum homoseksual, dan pemakai jarum suntik. Karena di Indonesia tingkat penggunaan kondom yang rendah, maka waria dan kaum homoseksual sangatlah beresiko tinggi dalam penyebaran virus HIV di Indonesia. Ironisnya mereka tak memiliki pengetahuan yang cukup tentang bahaya HIV/AIDS sehingga resiko tertular yang dihadapinya semakin besar.

Di Indonesia sendiri tingkat penyebaran virus HIV kini sudah dalam taraf mengkhawatirkan, beberapa daerah telah dinyatakan sebagai epidemi. Banyak versi berapa jumlah data penderita HIV di Indonesia, yang tertinggi hingga bulan Semptember 2008 penderitanya telah mencapai 270 ribu orang. Jika hal ini tidak ditangani dengan serius maka badai AIDS akan menyapu Indonesia. Karenanya kini kampanye anti HIV yang khususnya dilakukan oleh LSM-LSM semakin gencar antara lain kampanye safe sex dengan mempopulerkan penggunaan kondom dan penggunaan jarum suntik baru. Sayangnya kampanye ini banyak ditentang oleh masyarakat, dinilai tidak etis karena seolah melegalkan dan mendorong seseorang untuk melakukan seks bebas dan narkoba.

Dibanding kampanye penggunaan kondom, sebagian masyarakat dan pemerintah tampaknya memilih cara lain dalam mengerem laju virus HIV pada pemakai narkoba dan industri seks. Salah satunya dengan menutup kompleks lokalisasi pelacuran. Cara ini dikritik oleh Elizabeth, usaha pemerintah yang serta merta menutup kompleks lokalisasi, kemudian mendirikan tempat ibadat di bekas kompleks tersebut tidaklah efektif dalam penanganan penyebaran virus HIV/AIDS.

Beberapa wanita pekerja seks yang sumber kehidupannya dirampas, memilih pulang kampung dengan membawa penyakit mereka. Beberapa yang lain kembali beroperasi di jalanan tanpa pemeriksaan berkala dari dinas kesehatan seperti saat mereka bekerja di lokalisasi. Akibatnya penyakit yang dibawanya menyebar tak terkendali dan jika ada diantara mereka yang mengidap HIV maka penyebaran virus tersebut menjadi semakin liar.

Apa yang dilakukan pemerintah Indonesia ini berbeda dengan yang dilakukan oleh pemerintah Thailand yang tekenal dengan industri seksnya dan pernah memiliki tingkat penyebaran HIV yang tinggi di Asia. Pemerintah setempat tak menutup pusat-pusat lokalisasi, melainkan dengan melakukan kontrol yang ketat terhadap kesehatan para pekerja seksnya, selain itu pemerintah Thailand juga mengharuskan semua aktivitas seks di lokalisasi tersebut menggunakan kondom. Jika ketahuan tidak menggunakan kondom atau diketahui bahwa virus HIV/AIDS berasal dari kompleks tersebut, barulah izin usaha mereka dicabut.

Mana yang efektif dalam menangkal penyebaran virus HIV?. Yang pasti data menunjukkan bahwa kebijakan tersebut berhasil mengerem laju epidemi HIV di industi seks komersial Thailand dibanding Indonesia. Hal ini mengajarkan pada kita bahwa lebih mudah meningkatkan penggunaan kondom daripada mengukung industri seks dalam menekan penyebaran HIV.

Dalam hal penyebaran HIV melalui jarum suntik. Penulis dengan tegas menyatakan bahwa penggunaan jarum suntik secara bergantian adalah salah satu cara yang paling efektif bagi virus HIV untuk terjun bebas berpindah dari tubuh seseorang ke seseorang lainnya. Peperangan melawan Narkoba dengan memenjarakan para pemakai barkoba tidaklah efektif . Penjara merupakan tempat yang bagus untuk belajar menjadi penyuntik. Dengan tegas penulis menyatakan bahwa di Indonesia penjara tak ubahnya pabrik HIV. Hasil risetnya membuktikan bahwa lonjakan penularan HIV ternyata bukan ditemukan dalam industri seks, melainkan di antara para tahanan. Bahkan satu diantara enam orang yang ditahan di penjara yang berada persis di seberang jalan kantor program AIDS Depkes RI telah tertular HIV! Jadi jika sebelumnya para tahanan itu masuk dalam keadaan sehat, sekeluar dari penjara mereka sudah tertular HIV.

Selain kampanye penggunaan jarum suntik steril yang disinggung dalam buku ini, Elizabeth juga mengulas cara terbaru yang terbukti efektif untuk pencegahan HIV di antara para pecandu heroin suntik yaitu dengan terapi Methadon. Methadon adalah sebuah obat sintesis yang meniru efek dari obat-obatan sejenis heroin. Obat yang berbentuk sirup ini secara bertahap dapat menghilangkan ketergantungan pada heroin tanpa harus mengalami sakau. Dan yang menggembirakan obat ini sangat murah, satu dosisnya seharga beberapa ribu rupiah saja dan kini sudah mulai dijual di klinik-klinik.

Dalam buku ini juga akan terungkap bahwa usaha untuk melawan virus mematikan ini terdapat dua kubu yang berperang dengan caranya masing-masing. Yang satu berperang dengan cara membagikan kondom dan jarum suntik baru. Di lain pihak ada yang berperang dengan menganjurkan berpantang seks. Keduanya kadang saling menyalahkan, pihak yang menganjurkan berpantang seks berpendapat bahwa membagikan kondom dan jarum suntik adalah tindakan amoral karena seolah menganjurkan seks bebas dan narkoba. Sementara pihak lain mengklaim bahwa metode berpantang seks hanya efektif bagi orang yang dengan teguh mengikuti pantangan ini dan metode ini memiliki tingkat kegagalan yang tertinggi. Melihat hal ini Elizabeth di akhir paragraf buku ini menganjurkan agar para dua kubu yang berperang dalam caranya masing-masing hendaknya mau meninggalkan egonya masing-masing dan bersatu padu dalam satu barisan untuk melawan penyakit ini agar dapat membuat bumi kita ini menjadi lebih baik lagi.

Masih banyak fakta-fakta yang menarik dan bermanfaat dalam buku ini baik mengenai penyebaran HIV, penanggulangannya, bagaimana cara kerja virus ini dalam tubuh seseorang, berbagai metode pengobatan, intrik-intrik dalam industri AIDS, dan sebagainya. Karenanya buku ini dapat dijadikan semacam buku panduan tak resmi bagi para pengambil keputusan, praktisi sosial, atau bagi mereka yang ingin terjun dalam bidang HIV baik itu sebagai relawan maupun bagi mereka yang bekerja di lembaga resmi pemerintah. Bagi mereka yang awam yang tadinya hanya tahu sedikit mengenai AIDS, buku ini akan membuka cakrawala kita lebih dalam lagi mengenai apa dan bagaimana sebenarnya virus ini bisa menyebar dan bagaimana penanganannya yang efektif.






Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma - Idrus

Memuat kisah-kisah zaman Revolusi, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma dibagi secara kronologis menjadi tiga bagian: Jaman Jepang, Corat-Coret di Bawah Tanah, dan Sesudah 17 Agustus 1945. Dari buku yang tipis ini, kita dapat melihat semacam evolusi Idrus dari gaya romantik ke gaya khas satir tragikomiknya yang belum banyak dianut saat itu. Ringkas, lincah, dan lugas, Idrus mengolok-olok Jepang, dan menjungkirbalikkan “kesakralan” heroisme revolusi.

Dua cerita di bagian pertama, Ave Maria dan Kejahatan Membalas Dendam, ditulis di awal perkenalannya dengan figur seperti Sutan Takdir Alisjahbana di Balai Pustaka, dan kental menunjukkan pengaruh romantis jaman itu. Namun di bawah pengawasan ketat sensor Keimin Bunka Shidoso atau Kantor Pusat Kebudayaan Jepang, kedua cerita itu mengalami nasib yang sama dengan majalah Pujangga Baru yang dibredel: dilarang beredar karena dianggap tidak mencerminkan semangat “ketimuran” (Judul “Ave Maria” dianggap kebarat-baratan!), bahkan dikatakan mengandung anasir propaganda untuk melawan Jepang.

Kendati demikian, Idrus dengan sembunyi-sembunyi tetap menulis, dan hasil catatan-catatan yang ia buat dengan rahasia ini, dirangkum dalam bagian Corat-Coret di Bawah Tanah. Di bawah judul yang sedikit mengingatkan kita pada Notes from the Underground Dostoyevsky, kita menemukan cerita-cerita tajam realistis humoris, berdasarkan apa yang disebut Jassin sebagai “kesederhanaan baru”. Yang menarik adalah, Idrus menulis sebagian karya-karya yang tajam ini, saat dia bekerja di Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa, yang berada di bawah Seksi Propaganda Sendenbu, setelah ia pindah dari Balai Pustaka karena tak puas dengan gajinya yang kecil. Dalam cerita Pasar Malam Jaman Jepang kita bisa membaca sedikit mengenai Sendenbu ini:

Semua orang telah mengerti arti Sendenbu. Sendenbu, barisan propaganda. Tapi mereka belum mengerti, mengapa Sendenbu itu selalu harus campur tangan. Sandiwara dengan bantuan Sendenbu, perkumpulan musik dengan bantuan Sendenbu, pertandingan dbola dengan bantuan Sendenbu.

Tapi mereka bergirang hati juga, sebab apa-apa yang dicampuri Sendenbu selalu menarik hati.

“Corat-coret” Idrus memberi kita gambaran gamblang mengenai kehidupan dan peristiwa-peristiwa yang terjadi saat itu. Menggelitik, acuh, kerap mencemooh, terkadang humoris, selalu tajam, Idrus menangkap apa yang disebut Jassin sebagai “sikap jiwa masa bodoh terhadap peristiwa-peristiwa yang dianggap besar di masa itu.”


Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, oleh Idrus (1948). No. Panggil: F IDR Ave

Dalam Fujinkai, kita melihat kehebohan Nyonya Sastra mempersiapkan rapat Fujinkai di kampung A, “repot betul, seperti hendak mengawinkan anaknya. Pinjam meminjam kursi, panggil memanggil anggota.” Dengan tajam kita membaca timpalan ejekan dan sinisme dari para peserta rapat, kekonyolan kehebohan sok resmi tanpa juntrungan yang jelas, sampai kemarahan peserta yang harus menghabiskan banyak waktunya mendengarkan omong kosong hapalan hanya untuk kemudian dimintai sumbangan seringgit demi membuat “kuwe-kuwe” untuk prajurit Nippon yang sakit. “Nyonya Sastra mengapus keringat di keningnya. Rapat bubar dengan selamat.” Kita tertawa (getir?) membacanya, mengingat hingga sekarangpun, situasi “rapat” birokratis sepertinya juga tidak banyak berubah.

Sikap mencemooh ini terus tertuang bahkan setelah Jepang angkat kaki, dalam bagian terakhir, Sesudah 17 Agustus 1945. Di sini kita dapati satu novelet Idrus yang sangat terkenal, mengusung peristiwa besar “Hari Pahlawan” di kota kita, bahkan menggunakannya sebagai judulnya,Surabaya. Seolah tak peduli dengan gegap-gempita revolusi, Idrus membabat habis gambaran heroisme 10 November. Para pemuda, diibaratkannya sebagai cowboy dan bandit. Mereka berjalan dengan dada membusung, revolver dan belati di pinggang: “Revolver-revolver guna menembak pencuri-pencuri sapi dan pisau-pisau belati… guna perhiasan.” Tapi pencurian sapi tidak pernah terjadi, dan bunyi letupan-letupan revolver, ternyata ditembakkan ke atas, “ke tempat Tuhan lama.”

Kekacauan kondisi kaum pelarian dengan segala kesengsaraan dan kekonyolannya, digambarkan dengan sinis dan tajam, terkadang kasar dan jenaka. Seorang pemuda menyamar menjadi orang tua, tertembak dan dihajar habis-habisan. Kedatangan wartawan mesum dari Jakarta dengan dada dan pantat tipis, teriakan trauma seorang ibu yang menjadi pemandangan sehari-hari dan ditinggal orang tidur, pemeriksaan badan yang semena-mena di stasiun-stasiun, hingga pelarian-pelarian perempuan yang “banyak dapat makanan dan cinta pengawal-pengawal”, dengan segala tukang catut dan “penyakit raja singa” (sipilis).

Seorang perempuan dihajar setengah mati atas tudingan mata-mata, karena ia mengenakan selendang merah, baju putih dan selop biru (yang ternyata, setelah ditilik lebih jeli, berwarna hitam!). Citra bambu runcing sebagai satu-satunya senjata perjuangan jaman itu pun, dipertanyakan, seiring dengan tindakan-tindakan semena-mena anggota tentara yang “banyak bertentangan dengan adat kesopanan”.

Novelet Surabaya pertama kali diterbitkan oleh Merdeka Press di tahun 1947, dan menimbulkan banyak kontroversi. Idrus dicap kontrarevolusi karena penggambaran karikatur (skeptis)nya mengenai pertempuran Surabaya (dan revolusi pada umumnya). Tapi memang, kisah-kisah bandit yang menjelma menjadi pejuang (dadakan) dan beraksi bak koboi di berbagai kota di Jawa, tercatat dalam sejarah hingga beberapa tahun setelah Surabaya terbit. Sesuai dengan sinisme massa yang meragukan janji-janji revolusi dan heroisme di tengah-tengah kemelaratan dan kesengsaraan jaman, bisa jadi Idrus hanya menggambarkan kisah dan keluhan yang kerap bersliweran saat itu.

“Di kala mana sedang revolusi berkobar dengan hebatnya dengan semboyan-semboyan yang berapi-api, pengarang telah melihat dan mengeritik berbagai kekurangan yang dilihatnya,” tulis Jassin dalam pendahuluan buku ini. Tak jarang ia didamprat karena tulisan-tulisannya dianggap menghina revolusi. Idrus, dengan gaya prosanya yang tajam dan lugas, memberi kita banyak kritik dan laporan sejarah, untuk tidak tenggelam dalam sekedar simbol dan semboyan mendayu-dayu.




Layar Terkembang - Sutan Takdir Alisjahbana

Novel Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana adalah novel roman lama yang menjadi saksi sejarah dan perkembangan Bahasa Indonesia, sekaligus jejak pemikiran modern Indonesia.

Novel ini mengisahkan perjuangan wanita Indonesia dalam mencapai cita-citanya. Roman ini termasuk novel modern disaat sebagian besar masyarakat Indonesia masih dalam pemikiran lama (1936). Novel ini banyak memperkenalkan masalah wanita Indonesia dengan benturan-benturan budaya baru, menuju pemikiran modern. Hak-hak wanita, yang banyak disusung oleh budaya modern dengan kesadaran gender, banyak diungkapkan dalam novel ini dan menjadi sisi perjuangannya seperti berwawasan luas dan mandiri. Didalamnya juga banyak memperkenalkan masalah-masalah baru tentang benturan kebudayaan antara barat dan timur serta masalah agama.

kisah bermulai dari sosok kakak beradik yang berpengarai berbeda, Tuti dan Maria. Tuti seorang kakak yang selalu serius dan aktif dalam berbagai kegiatan wanita. Ia bahkan aktif dalam memberikan orasi-orasi tentang persamaan hak kaum wanita. Pada saat itu, semangat kaum wanita sedang bergelora sehingga mereka mulai menuntut persamaan dengan kaum pria. Sedangkan Maria adalah adik yang lincah dan periang sehingga semua orang yang berada di dekatnya pasti akan menyenangi kehadirannya. Di tengah-tengah dua dara jelita ini, muncullah Yusuf, seorang mahasiswa kedokteran, yang pada masa itu lebih dikenal dengan sebutan Sekolah Tabib Tinggi. Sejak pertemuannya yang pertama di gedung akuarium Pasar Ikan, antara Maria dan Yusuf timbul kontak batin sehingga mereka menjadi sepasang kekasih.

Sementara itu, Tuti yang melihat hubungan cinta kasih adiknya sebenarnya berkeinginan pula untuk memiliki seorang kekasih. Apalagi setelah ia menerima surat cinta dari Supomo, seorang pemuda terpelajar yang baik hati dan berbudi luhur.. Namun, karena pemuda itu bukanlah idamannya, ia menolak cintanya. Sejak itu hari-harinya semakin disibukkan dengan kegiatan organisasi dan melakukan kegemarannya membaca buku sehingga ia sedikit melupakan angan-angannya tentang seorang kekasih.

Setelah melalui tahap-tahap perkenalan, pertemuan dengan keluarga, dan kunjungan oleh Yusuf, diadakanlah ikatan pertunangan antara Maria dan Yusuf. Tetapi sayang, ketika menjelang hari pernikahan, Maria jatuh sakit. Penyakitnya parah, malaria dan TBC, sehingga harus dirawat di Sanatorium Pacet. Tidak lama kemudian, Maria menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sebelum ajal datang, Maria berpesan agar Tuti, kakaknya bersedia menerima Yusuf. Tuti tidak menolak dan dimulailah pertunangan antara Tuti dan Yusuf. Akhirnya tak lama kemudian keduanya menikah dan hidup selamanya.

Memoar Seorang Dokter Perempuan - Nawal El Saadawi

Tidak apa-apa jika kamu takut. Saat dirimu ketakutan, serahkan tanggung jawab pada yang lain. Mintalah pertolongan. Tidak ada yang lebih buruk dari seorang dokter yang lebih mementingkan egonya di atas keselamatan pasien".

Seorang dokter muda yang melakukan pembedahan pertamanya dan diejek oleh gurunya. Seorang wanita tua diselamatkan dari kematian, sedangkan dia tidak ingin hidup lebih lama lagi. Seorang dokter bedah terkenal mengalami stres akibat tumor otak yang ganas. Seorang ibu dari seorang anak penderita leukimia yang mulai merasa putus asa ...

Dalam memoar yang ditulis dengan detial dan indah ini, Mohamed Khadra menceritakan kisah-kisah dari kehidupannya sebagai seorang dokter bedah, dari tahun-tahun menjalani pelatihan melelahkan sampai malam-malam menguras tenaga untuk memenuhi panggilan tugas. Dia mengenang kembali para dokter dan pasien yang telah membentuk kariernya: keberanian, kesedihan, kekaguman, dan kebencian yang telah berlalu di bawah pisau operasinya: dan kehidupan para dokter yang hancur, terkalahkan oleh tekanan dari pekerjaannya.

Dengan memberontak melawan rintangan-rintangan dari keluarga dan masyarakat, seorang perempuan muda bangsa Mesir memutuskan untuk studi ilmu kedokteran, dan menjadi satu-satunya perempuan dalam kelas. Keterlibatannya dengan mahasiswa lainnya –demikian pula dengan mayat laki-laki maupun perempuan di ruang otopsi- mengintensifkan pencarian identitas dirinya. Disadarinya bahwa kaum lelaki bukanlah nabi, seperti yang diajarkan ibunya. Tetapi juga bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat menjelaskan setiap hal, dan bahwa ia tidak dapat dipuaskan dengan hidup dalam suatu kehidupan yang semata-mata mengandalkan pada pemikiran saja.

Setelah perkawinannya yang singkat dan tidak bahagia, ia lebih menekuni profesinya, dan menjadi dokter yang sukses dan kaya-raya. Akan tetapi pada saat yang bersamaan, ia makin menyadari ketidakadilan dan kemunafikan yang hidup dalam masyarakat. Ia akhirnya mendapat penyelesaian bukan melalui pengasingan diri, melainkan melalui hubungan dengan orang lain.


Samurai - Anthony.J.Bryant

Dalam buku ini kita akan melihat kebudayaan, persenjataan, serta latihan kaum samurai dalam Zaman Pertempuran (1550-1600). Periode ini sangat menentukan peta geopolitik dan taktik peperangan di Jepang masa itu, menyusul masuknya senjata api.

Buku ini menampilkan dampak masuknya senapan api pada kebudayaan samurai sampai ke kehidupan mereka sehari-hari. Ditambah foto-foto dan ilustrasi penuh warna, buku ini memberi informasi kepada siapa saja yang ingin menyingkap kabut misteri seputar samurai.

Samurai yang dikenal juga sebagai bushi adalah golongan bangsawan militer Jepang dan mereka mengalami masa kejayaan pada zaman pertempuran atau periode pertempuran antar negeri.



Laskar Mawar - Barbara Victor

Kalian adalah laskar mawarku yang akan meluluhlantakkan tank-tank Israel!” seru Yasser Arafat pada pagi 27 Januari 2002.

Sore harinya, untuk pertama kalinya seorang perempuan melakukan aksi bom bunuh diri. Perlawanan rakyat Palestina memasuki babak baru.

Dalam derita penjajahan Israel, telah lama perempuan Palestina menjadi pejuang yang tangguh dan tabah. Mereka adalah anak yang menyaksikan ayahnya ditawan, istri yang merelakan suaminya hilang tanpa jejak, ibu yang menguburkan putranya. Namun, sejak hari itu, sebagian perempuan Palestina menempuh jalan perjuangan baru. Mereka memilih meledakkan diri sebagai “laskar mawar”.

Barbara Victor, seorang jurnalis spesialis Timur Tengah dan isu-isu perempuan, mengajak kita menyelami kehidupan perempuan-perempuan pelaku bom bunuh diri itu. Dia meninjau berbagai aspek yang sering tenggelam dalam sensasi berita: kultur, psikologis, dan sosiologis perempuan Palestina.

Barbara membawa kita menyimak kisah-kisah getir dan konflik-konflik yang membuat “mawar-mawar” ini memilih untuk menggugurkan kelopak mereka sendiri dalam sebuah dentuman yang menyentakkan dunia yang tak mengizinkan mereka mekar.

Judul Laskar Mawar : Drama Perempuan-Perempuan Pelaku Bom Bunuh Diri di Palestina (Edisi baru)
No. ISBN 9789794335147
Penulis Barbara Victor
Penerbit: Mizan
Tanggal: terbit Juni - 2008
 
 
 
Subscribe to Novel I-One

Enter your email address: