Loading
Showing posts with label Novel Percintaan. Show all posts
Showing posts with label Novel Percintaan. Show all posts

Novel Summer in Seoul - Ilana Tan


SEKARANG aku masih di jalan… Mm, baru pulang kantor… Aku juga tahu sekarang sudah jam sepuluh… Ya, jam sepuluh lewat delapan belas menit. Terserahlah.” 
 Sandy melangkah perlahan. Sebelah tangannya memegang ponsel yang ditempelkan ke telinga, dan tangan yang sebelah lagi mengayun-ayunkan tas tangan kecil merah. Ia mengembuskan napas panjang dengan berlebihan dan mengerutkan kening. Saat ini orang terakhir yang ingin diajaknya bicara adalah Lee Jeong-Su, tapi laki-laki itu malah meneleponnya dan bersikap seperti kekasih yang protektif. 
“Jeong-Su, sudah dulu ya? Aku lelah sekali,” Sandy menyela ucapan Lee Jeong-Su dan langsung menutup telepon. Sekali lagi ia mengembuskan napas panjang, lalu menatap ponselnya dengan kesal. 
Kenapa hari ini muncul banyak masalah yang tidak menyenangkan? Tadi pagi ia sudah bermasalah dengan salah satu klien perusahaan, kemudian diomeli atasannya dan akhirnya harus lembur sampai selarut ini. 
 Sandy semakin kesal begitu mengingat apa yang sudah dialaminya sepanjang hari. Tapi ia terlalu lelah untuk marah-marah. Seluruh tulang di tubuhnya terasa sakit dan otaknya sudah tidak bisa disuruh berpikir. Lagi-lagi ia mengembuskan napas panjang. 
Ini bukan pertama kalinya Sandy harus bekerja sampai larut malam, tapi hari ini ia sudah memutuskan akan berhenti bekerja untuk perancang busana itu. Pekerjaannya sungguh-sungguh memakan waktu dan tenaga sehingga tidak ada lagi tenaga yang tersisa untuk berkonsentrasi pada kuliahnya di pagi hari.
 Ia berhenti melangkah dan mendesah. “Bisa gila aku,” gumamnya pada diri sendiri.

Sandy memandang sekelilingnya. Kota Seoul masih belum menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Bangunan-bangunan di sepanjang jalan seakan sedang berlomba-lomba menerangi seluruh kota, membujuk orang-orang untuk menikmati indahnya suasana malam musim panas di ibukota Korea Selatan yang menakjubkan itu. Meskipun sudah bertahun-tahun menetap di Seoul, Sandy masih terkagum-kagum pada suasana kota ini. Jam memang sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat, namun jalanan masih dipenuhi pejalan kaki dan mobil-mobil yang berlalu-lalang. Aroma makanan tercium dari restoran Jepang di depan sana, lagu disko terdengar samarsamar dari toko musik di sampingnya, suara orang-orang yang berbicara, berteriak, dan tertawa.

Tiba-tiba Sandy merasa kepalanya pusing. Lalu pandangannya berhenti pada toko makanan kecil di seberang jalan. Setelah merenung sesaat, ia mengangguk dan bergumam, “Baiklah,” seolah menyerah pada perdebatan yang dia lakukan seorang diri.
 Sandy menyeberangi jalan dengan langkah cepat, secepat yang mungkin dilakukan sepasang kaki yang belum beristirahat selama delapan jam terakhir, dan masuk ke toko itu. Setelah memberi salam kepada bibi pemilik toko yang sudah lama dikenalnya, Sandy langsung berjalan ke rak keripik. 
“Nah, Soon-Hee, ada masalah apa lagi di kantor?” tanya bibi pemilik toko setelah melihat lima bungkus besar keripik kentang yang diletakkan Sandy di meja kasir.
 Sandy tersenyum malu. “Ah, tidak ada. Saya hanya sedikit stres.” Ia membuka tas tangannya dan mencari dompet. Ke mana dompet itu? 
 “Sebentar, Bibi. Saya yakin sekali sudah memasukkan dompet tadi…” Sandy mengaduk-aduk isi tas tangannya, lalu menumpahkan seluruh isinya ke meja kasir. Kini, selain lima bungkus keripik kentang, di sana ada sisir kecil, buku kecil yang agak lusuh, bolpoin yang tutupnya sudah hilang, bedak padat, lipgloss, kunci, payung lipat, tiga keping uang logam, saputangan merah, ponsel, dua lembar struk belanja yang sudah kusam, bungkus permen kosong, dan jepitan rambut. 
 “Kenapa tidak ada?” Sandy bergumam sendiri sambil terus mencari. Ketinggalan di rumah? Berarti seharian ini ia tidak menyadari ia tidak membawa dompet? 
 Tiba-tiba ia mendengar dering ponsel. Sandy melirik ponselnya yang tergeletak di meja kasir. Oh, bukan ponselnya yang berbunyi. “Kau sudah sampai di rumah? … Ya, sebentar lagi aku ke sana.” 
Sandy menoleh ke arah suara bernada rendah itu. Suara itu milik pria bersetelah putih yang berdiri di belakangnya. Rupanya bunyi tadi adalah bunyi ponsel pria tersebut. Sekarang Sandy melihat orang itu menutup ponsel dan memasukkannya ke saku celana panjangnya. Sebelah tangannya memegang keranjang kecil berisi lima botol soju*. Pria berkacamata itu masih muda, mungkin usianya sekitar akhir dua puluhan atau awal tiga puluhan, wajahnya tampan dan penampilannya rapi sekali seperti seseorang yang mempunyai kedudukan penting di perusahaan besar. 
Pria itu memandang Sandy, lalu tersenyum ramah. O-oh. Baru pertama kali Sandy melihat senyum yang begitu menarik. Senyum itu membuat rasa lelahnya seakan menguap tak berbekas. Senyum itu sangat menawan, sangat… 
Sandy menggeleng untuk menjernihkan pikiran dan kembali memusatkan perhatian pada barang-barangnya yang berserakan di meja kasir. 
 Tiba-tiba Sandy merasa tangannya ditepuk-tepuk. Ia mengangkat wajahnya dan melihat bibi pemilik toko sedang tersenyum kepadanya dan berkata, “Soon-Hee, bagaimana kalau tuan itu membayar belanjaannya duluan?” 
 Sandy memandang bibi pemilik toko, lalu berpaling ke arah pria yang berdiri di belakangnya. “Oh, ya. Maaf.” Sandy menyingkir ke samping dan pria itu melangkah maju.
 “Berapa?” tanya pria itu sambil meletakkan keranjang yang dipegangnya di meja. Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel lagi. 
Kepala Sandy mulai terasa sakit seperti ditusuk-tusuk. Ia sudah sangat lelah dan sekarang bunyi ponsel pria itu nyaris membuatnya lepas kendali. 
 Pria itu mengeluarkan ponsel dari saku celana dan meliriknya sekilas. Lalu ia meletakkan ponsel itu di meja dan merogoh saku yang sebelah lagi. Ia mengeluarkan ponsel yang berbeda, ternyata ponsel yang kedua itulah yang sedang berbunyi nyaring. 
 Astaga, cepat jawab teleponnya! Satu ponsel saja sudah bikin pusing, kenapa harus punya dua? pikir Sandy sambil memijat-mijat pelipisnya. 
 Pria itu membayar belanjaan sambil tetap berbicara di ponsel, lalu berjalan ke pintu. Tiba-tiba ia berbalik dan mengambil ponsel satu lagi yang tadi diletakkan di meja kasir. “Maaf,” gumamnya sambil tersenyum kepada bibi pemilik toko dan Sandy. Lagi-lagi senyum itu, senyum yang bisa menghangatkan hati yang beku sekalipun. 
Tunggu, kata-kata apa itu tadi? Sandy memejamkan matanya kuat-kuat dan ketika ia membuka mata kembali, pria itu sudah berjalan ke luar dan masuk ke mobil sedan putih yang diparkir di depan toko. 
 Karena Sandy tetap tidak bisa menemukan dompetnya, bibi pemilik toko mengizinkannya membayar besok. Sandy mengumpulkan kembali barang-barangnya yang berserakan di meja kasir sambil berkali-kali membungkukkan badan dalam-dalam sebagai tanda terima kasih sekaligus permintaan maaf. 
Begitu keluar dari toko, Sandy langsung membuka sebungkus keripik dan mulai makan. “Sekarang pulang ke rumah,” katanya pada dirinya sendiri. 
 Selesai berkata begitu, ponselnya berbunyi. Saat itu juga ia mengutuk hari ponsel diciptakan. Sebenarnya ia tidak ingin menjawab ponselnya karena merasa harus menghemat tenaga untuk perjalanan pulang, tapi benda tidak tahu diri itu terus menjerit minta diangkat. Akhirnya Sandy menyerah dan mengaduk-aduk tasnya dengan ganas untuk mencari ponsel sialan itu sebelum ia sendiri yang bakal menjerit histeris di tengah jalan.
 “Haaloo!” Sandy ingin marah, tapi suaranya malah terdengar putus asa. 
Tidak terdengar jawaban dari ujung sana. Orang itu bisu atau apa? 
 “Halo? Siapa ini? Silakan bicara… Halo? HALOO?” 
Sandy baru akan memutuskan hubungan ketika terdengar suara seorang pria yang ragu-ragu di seberang sana. 
“Maaf… bukankah ini ponsel Tae-Woo?” Siapa lagi orang ini? 
 “Anda salah sambung. Ini ponsel Han Soon-Hee,” ujar Sandy ketus dan langsung menutup flap ponselnya dengan keras. 
Sandy menatap ponselnya sambil menggigit bibir penuh rasa dongkol. “Tidak bisakah kaubiarkan aku tenang sedikit?” Ia baru akan mencabut baterai ponsel itu ketika ia merasa harus menelepon ibunya untuk memberitahu ia akan segera sampai di rumah. Walaupun Sandy tinggal di Seoul dan orangtuanya di Jakarta, mereka sering menelepon dan mengecek keberadaannya. Tadi ibunya malah sudah sempat menelepon untuk menanyakan kenapa Sandy belum sampai di rumah. 

Ikuti Cerita Selanjutnya......!!!


( Password : Novel I-One )


Cahaya Bintang - Bios





Di tengah hamparan rumput yang luas, seorang pemuda tampak asyik terlentang di atas jok sepeda motornya. Kedua matanya yang bening tampak memandang ke langit lepas, memperhatikan pesona malam yang begitu indah. Saat itu, ribuan bintang yang dilihatnya seolah menghibur, memberi ketenangan pada hatinya yang lara. Dalam renungannya dia tak mengerti, kenapa gadis yang begitu dicintainya lebih memilih pemuda lain? Padahal dia sendiri begitu tampan, bahkan sifatnya pun penuh dengan kasih sayang. 




“Duhai bintang yang gemerlap, duhai malam yang menyelimutiku. Kalian adalah teman sejatiku, yang senantiasa menemaniku di dalam keresahan ini. Ketahuilah... Hatiku hancur berkeping-keping ketika dia mengatakan tak bisa bersamaku. Saat itu juga harapanku punah seketika, berganti dengan segala penderitaan yang amat sangat. Kini aku tak punya gairah untuk hidup, sepertinya kehidupanku ke depan akan selalu dipenuhi dengan segala kesepian yang kian hari memang sudah terasa sepinya.

Kini pemuda itu teringat kembali dengan gadis pujaannya, betapa dia tak mungkin sanggup jika hidup tanpanya. Tiba-tiba saja, ingatan pemuda itu buyar seketika lantaran deru motor yang kian bertambah dekat. Dilihatnya sorot lampu yang menyilaukan terus melaju, menuju ke tempatnya berada. Namun pemuda itu mencoba tak mempedulikannya, dalam hati dia sudah bertekad, siapa pun yang datang tidak akan membuatnya bergeming dari posisinya sekarang, yang kini sedang asyik merenung dan mengadu pada malam berbintang. Kini pemuda itu sudah tak mendengar lagi deru motor yang semula mengganggunya, bahkan ingatan sudah kembali tertuju ke berbagai peristiwa yang kian membuatnya bertambah sedih.

“Malam yang indah ya?” ucap seorang gadis tiba-tiba.

Seketika pemuda itu menoleh, memperhatikan seorang gadis yang kini duduk bersantai di atas sepeda motornya seraya terus memandangnya. Wajah gadis itu tak kelihatan jelas, hanya berupa siluet yang disebabkan oleh efek sinar rembulan. Kini pandangan gadis itu sudah beralih ke langit lepas, memperhatikan keindahan gemerlap bintang yang bercahaya.
“Aku sungguh tidak menduga, ternyata ada juga manusia yang berprilaku sama sepertiku,” kata gadis itu lagi.

Saat itu, pemuda yang bernama Bobby tidak mempedulikan kata-katanya, dia malah memalingkan pandangannya pada bintang-bintang seperti semula.

“Kau sedang ada masalah?” tanya gadis itu padanya.
Bobby tidak menjawab, dalam hati dia sempat bertanya-tanya, ”Emm... Apa sebenarnya keperluan gadis itu datang ke mari? Apakah dia juga sedang sedih dan mengadu pada malam berbintang?”

“Kau salah, aku memang sedang sedih. Namun aku tidak mengadu pada malam berbintang, melainkan pada Tuhan yang menciptakannya,” jawab gadis itu tiba-tiba. Bobby terkejut mengetahui gadis itu menjawab apa yang ada di pikirannya, “Ka-kau bisa membaca pikiranku?” tanyanya tergagap. 

“Entahlah, aku juga tidak tahu? Kenapa tiba-tiba aku ingin bicara seperti itu,” jawab gadis itu lagi.
“Hmm... Siapa sebenarnya dia?” Tanya Bobby dalam hati. “Eng… Ja-jangan-jangan...”
“Kau tidak perlu takut!” pinta gadis itu tiba-tiba, kemudian dia melanjutkan kata-katanya. “Aku ini juga manusia sepertimu, hanya jenis kelamin kita saja yang berbeda.”

Lagi-lagi Bobby terkejut, sebab gadis itu kembali mengetahui apa yang ada di benaknya. Namun karena gadis itu mengatakan kalau dia tidak perlu takut, akhirnya dia berani untuk tidak mempedulikannya. “Hmm… Biarpun gadis itu hantu atau dedemit, pastilah dia itu hantu atau dedemit yang baik hati. Tapi... Apa iya ada hantu atau dedemit yang sedih dan mengadu pada Tuhan? Tuhan...???” tiba-tiba  Bobby tersentak menyadari sesuatu. “Ya, pantas saja selama aku tidak pernah mendapat jawaban. Sungguh aku telah salah memilih tempat mengadu. Padahal, sejak kecil aku sudah dikenalkan perihal Tuhan, namun entah kenapa Tuhan selalu aku nomor dua kan. Sejak kecil aku juga sudah diajarkan ilmu agama, namun entah kenapa ilmu yang kudapat itu selalu kupandang dengan sebelah mata. Apakah semua ini karena pengaruh lingkungan yang senantiasa mempengaruhiku dengan berbagai ajaran materialistis sehingga nilai spiritual menjadi aku kesampingkan?“ Tanya Bobby tersadar. 

Kini Bobby teringat kembali akan bayang-bayang gadis yang begitu dicintainya. Parasnya cantik dan begitu manis. Tubuhnya pun tampak indah dan menggugah selera. “Ya Tuhan, kenapa aku selalu memikirkannya. Apakah aku memang sudah begitu terobsesi dan sulit untuk keluar dari jerat cinta yang begitu mendalam. Cinta... Terdengar manis dan membahagiakan. Itulah yang selalu kubayangkan bersama gadis yang begitu aku cintai, aku bahagia bersamanya di dalam kesepian yang memang selalu hadir. Bahkan di dalam anganku dia selalu memanjakanku dengan segala kasih sayangnya, kemudian membelaiku dengan begitu mesra. Padahal pada kenyataannya, dia itu sudah menjadi kekasih orang. Ya Tuhan, sungguh aku tak sanggup lagi hidup tanpanya?”

Kini pemuda itu terbayang kembali dengan narkoba yang dulu pernah menjadi sahabat setianya. Dia sempat berpikir untuk menggunakannya kembali, dengan alasan untuk mengembalikan gairahnya yang kini terkubur.

“Jangan biarkan dirimu termakan oleh godaan setan yang senantiasa hadir di benakmu. Betapa setan sangat menginginkanmu untuk selalu murung dan terus merana. Dan jika kau sampai menggunakan benda laknat itu sebagai jalan keluar, maka setan akan bersorak di atas penderitaanmu,” kata gadis yang sejak tadi selalu berhasil membaca pikiran Bobby.

Mendengar itu, Bobby langsung tersadar. Semua itu memang sebuah bisikan sesat yang akan membawanya kembali menggunakan barang haram itu. Untuk sementara Bobby bisa menyingkirkan pikiran sesat yang semula begitu menggebu-gebu. Namun tak lama kemudian keinginan itu sudah kembali lagi, dia benar-benar sulit menahan sugesti yang sudah sekian lama mendarah-daging.

“Menyesallah kalau kau pernah menggunakan barang haram itu, dan berdoalah kepada Tuhan agar kau segera dijauhkan dari pikiran sesat yang terus menghantuimu!” kata gadis itu kembali memperingati.

Bobby pun segera menurut, hingga akhirnya pikiran itu kembali lenyap dan berganti dengan pikiran yang lain. Saat itu di benaknya ada sebuah harapan yang begitu gemilang. Bahkan dia sempat terperanjat ketika hal itu mampu membuka pintu hatinya, dan hal itulah yang membuatnya ingin terus bertahan hidup. Sebuah keinginan untuk menjadi manusia yang menjalankan misinya dengan penuh keridhaan Illahi.


Ikuti Cerita Selanjutnya ....!!!
( Password : Novel I-One )
Reff. ac-zzz.blogspot.com

Akhir Sebuah Penantian - Wardhina Ayu Wakhidatun


  Aku hidup bukan untuk menunggu cintamu.
Sulit ku terima semua keputusan itu.
Yang kini hilang tersapu angin senja.
Masih sulit pula untuk ku lupakan.
Suram dan seram jika ku ingat kembali.
Mungkin harus ku biarkan semua kenangan itu,
agar abadi oleh sang waktu.
 

Pagi ini cerah, hangat mentari yang bersinar dan sejuk embun di pagi itu membuat semangat untuk menuntut ilmu makin bertambah. Ku percepat langkahku. Seusai sekolah, ada ekstrakulikuler seni tari dan aku pun mengikutinya. Masih belum beranjak dari tempat duduk ku. Dari arah belakang terdengar suara yang memanggilku.
“Idaaa, tunggu !”

Aku pun melihat ke belakang “Kamu Raff, ada apa kok sampai tergesa-gesa ?” tanyaku penasaran.

“Emmm, ada yang mau kenalan sama kamu !”

“Tapi Raff, udah mau masuk kelas seni tarinya”

“Ya telat dikit kan gakpapa”.

Aku tidak menjawabnya. Aku bergegas pergi menuju kelas seni tari. Aku simpan kata-kata Raffi tapi aku tidak memikirkannya disaat aku sedang mengikuti seni tari.

***

Hari ini aku sengaja berangkat pagi, aku ingin menikmati udara pagi, walaupun jarak antara rumah dan sekolah dekat. Sewaktu istirahat aku kembali ingat dengan kata-kata Raffi kemarin siang. Siapa dia? Anak mana? Namanya siapa? Berbagai pertanyaan mulai bermunculan di benakku. Hingga aku tak sadar jika aku sedang melamunkannya.

“Heyhey, mikirin siapa sih kamu?” Tanya Ega yang membuyarkan lamunanku.

“Ha? Aku gak mikirin apa-apa tuh!”

“Kok ngelamun sih? Haaa, masih keinget ya sama kata-kata Raffi kemaren?”

“Ehh, apaan sih, mentang-mentang pacar Raffi trus kalian ngejek gitu, ahh gak asyiik”

“Yaya, Cuma bercanda kok”

Tiba-tiba Raffi datang menemuiku. Entah apa lagi yang akan ia sampaikan kembali. Aku sendiri tidak berharap jika kata-kata itu lagi yang akan ia sampaikan.

“Daa, ikut yuk, dia mau ketemu kamu, tuh udah ditunggu di kantin” ajak Raffi.

“Ahh, engga ahh, biarin aja dia samperin”

“Kok gitu? Ya udah deh, ini kesempatan loh, kok malah kamu sia-siain” Ucapan Raffi didengar oleh Layla, yang juga saudara Raffi.

“Ehh, ada apaan nih, keliatannya seru! Ada apa sih Raff, kok gak bilang-bilang?”

“Gak ada apa-apa, udah nanti aku ceritain”

Bel masuk kelas pun berbunyi, aku segera masuk kelas. Dan aku mengikuti pelajaran yang berlangsung hingga usai. Pulang sekolah biasanya aku jalan sendiri, jarak rumah deket.

“Ciiye Idaa” goda Layla

“Ada apa sih?” tanyaku penasaran.

“Tuh, orang yang di depan gerbang pake tas item ada corak biru, itu orang yang mau ketemu kamu.”

“Ha? Siapa dia? Namanya siapa?”

“Dia Tyo, anaknya pendiem banget, dia sahabat karib Raffi sama Adi”

Tanpa kata-kata apapun aku bergegas pulang, dalam perjalananku aku memfikirkan semua hal yang Layla beritahu tadi. Yah, Tyo, aku masih tidak menyangka kenapa dia mau bertemu, kenapa harus lewat temennya? Ah mungkin dia malu. Ya udahlah.

***

Hari ini mulai muncul kabar buruk, banyak yang menyangka bahwa aku ini adalah pacar Tyo, padahal bukan sama sekali. Aku kenal sama dia aja baru kemarin. Di sela-sela pelajaran aku gunakan untuk menuliskan sebuah kata-kata. Sepertinya aku memang benar-benar jatuh hati pada Tyo, “ahhh, kenal langsung aja belum kayaknya mustahil deh” kata itu selalu muncul di benakku.

Saat jam istirahat, aku selalu melewati kelasnya. Aku selalu melihat tingkah lakunya, yang terkadang membuatku tersenyum-senyum sendiri. Oh mungkin inikah cinta? Aku pernah merasakannya tetapi aku tak ingin merasakannya lagi untuk saat ini.

Setelah kita kenal begitu lama, aku mengenal dia dengan ramah, dengan baik, walaupun diantara kita tak pernah ada satu perkataan. Tiba-tiba semua perasaanku menjelma, berubah entahlah seperti apa isi otakku. Aku menyukainya, aku menyayanginya. Aku yakin dia pun begitu, tapi aku tidak pernah pecaya itu, aku tidak pernah percaya bila ia menyukaiku juga, aku hanya berharap begitu banyak padanya.

Hari ini ekstra pramuka sebenarnya, aku sama Tyo mau bicara tapi dia tetap tidak mau. Dia tetap tak membuka kesempatan untuk perasaan kita. Tapi aku masih yakin bila dia benar-benar mencintaiku. Sore itu aku hanya pulang dengan semua mimpi ku yang telah pupus. Aku tak membawa secuil harapan lagi untuk rasaku ini.

***

Malam ini aku tulis surat untuk nya. Aku harap ada sedikit respon darinya. Dan respon itu tidak membuatku patah hati dan patah semangat. Aku tahu Tuhan pasti mengerti disetiap mimpi dan harapanku.

Setelah selesai aku pun tidur. Hari ini aku sengaja bangun pagi, selain aku piket aku juga ingin melihatnya lebih awal, hehe. Aku datang pertama di sekolah, datang pertama juga di kelas, aku langsung piket, bersihkan semuanya. Setelah selesai, aku kasih surat itu langsung ke dia. Aku tak pernah mengira hal buruk apapun akan menimpa kita setelah surat itu kau baca. Tiba-tiba Imma datang mengetuk pintu kelasku. Dia meminta ijin dahulu, lalu memanggilku untuk menemuinya. Aku yang bingung, langsung saja aku menurut.

“Nich surat dari Tyo!” kata Imma sambil memberikan surat dari Tyo.

“Apa ini? Jawaban suratku tadi pagi ya?”

“Iyaa, baca aja, dia bilang dia minta maaf kalo udah nyakitin perasaan kamu, dia gak bermaksud kayak gitu, ya udah baca aja.”

“Iyaa, makasiih udah ngaterin suratnya, aku titip salam buat dia”

Seketika aku menangis, air mata ini sudah tak bisa ku tahan lagi. Tetes demi tetes mulai membasahi wajahku. Lalu ku hapus lagi begitu pun seterusnya. Aku masuk kelas dan aku lanjutkan pelajaran yang sempat tertunda, aku anggap saja ini semua tidak pernah terjadi.

“Ada apa sih, Yuk?” Tanya Ega.

“Di.. dia.. dia udah jawab semuanya” kataku terbata-bata

“Jawab apa? Bukannya diantara kalian itu tak pernah ada apa-apa?”

“Dia gak suka aku Ga, aku sih fine tapi kenapa sih yang nganter harus Imma, dulu pas kamu sama Raffi putus, Imma juga kan yang nganter?”

“Iya ya, kok aku lupa ya? Ya udah deh, kamu yang sabar aja, cowok itu gak Cuma satu kok, gak Cuma dia doang”

“Iyaa Ga, makasiih” jawabku sambil mengusap air mataku

“Iya sama-sama”

***
Sulit menjalani hari tanpanya lagi, walaupun kita hanya sebatas gebetan, tapi ternyata hal itu membuat kita menjadi bersahabat. Berbulan-bulan aku nanti jawabanmu lagi. Tapi ternyata jawaban itulah yang sudah kamu tetapkan. Aku hanya pasrah, aku menangis, bagaimana tidak jika seseorang yang aku sukai ternyata telah membuatku menangis.

Aku berharap suatu saat nanti Tuhan mempertemukan kita, dan Tuhan izinkan kita bersama. Jika Tuhan tidak mentakdirkan kita bersama biarlah perasaan itu menjadi sebuah kenangan masa SMP kita.


*THE END*
Reff. cerpen.gen22.net

Cerpen Kasih Tak Sampai - Karya Devi Nurmalasari


Haii...hari ini aku baru saja mulai tahun ajaran baru,sekarang aku duduk di kelas 1 SMP swasta d daerah ku. Aku adalah seorang anak bungsu dari 4 bersaudara...nama ku Dera! hari ini,bulan juli 2004,aku mulai MOPD di sekolah baru ku. setelah 2 hari aku melalui masa MOPD,aku merasa tidak ada yang aneh...semuanya berjalan lancar,namun di hari ke 3 aku menjalani MOPD,aku mulai merasakan hal yang aneh..aku bertemu dengan seorang kakak kelas ku...dia sekarang duduk di bangku kelas 3. waktu itu,para peserta MOPD,harus mengumpulkan sebanyak-banyaknya tanda tangan dari kaka kelas. aku pikir,itu akan mudah..namun ternyata tidak semudah yang aku bayangkan. kakak kelas yang akan aku mintai tanda tangan,tidak begitu saja memberikan tanda tangan mereka dengan percuma,mereka menyuruh ku bernyanyi,membaca puisi,mengatakan cinta,atau apa pun yang mereka ingin kan. sampai suatu ketika,aku berjalan menuju kantin sekolah,aku berniat meminta tanda tangan kepada kerumunan kaka kelas laki-laki yang sedang asik bermain gitar. "kak..maaf gangu,boleh gk minta tanda tangannya?"

Sejenak,mereka berhenti memetik gitar mereka. kemudian mereka tertawa...sungguh malunya aku ketika itu. memang,aku akui,mereka sangat good looking,apa lagi yang satu itu...dia sangat mencuri perhatianku,seorang pria dengan postur badan yang tinggi,kurus,hidung mancung,pokoknya TAMPAN...namanya BAYU.

"boleh kok..boleh banget,tapi ada syaratnya"...kata salah seorang dari mereka yang aku tahu namanya itu niko..

"apa kak syaratnya?? aku mau deh,asal kakak-kakak mau ngasih tanda tangan buat aku" jawab ku. "gampang kok,elu harus nyanyi sambil main gitar! gimana?? mau?" aku terkejut mendengar ucapan dari niko,kata orang-orang,suara ku cukup enak di dengar jika bernyanyi,jadi aku tidak keberatan jika di suruh bernyanyi,tapi yang membuat aku terkejut adalah...BERMAIN GITAR,aku sama sekali tidak bisa bermain gitar..."oh god,gimana ini??" jerit batin ku. "tapi kak,aku gk bisa main gitar,aku nyanyi aja yah...ga apa-apa kan??" pinta ku.

"gk bisa dong..mana enak nyanyi tanpa musik!?" jawab niko...melihat aku yang kebingungan,bayu merebut gitar yang d pegang niko. "udah lah ko,kasian dia...biar gw aja yang maenin gitar buat dia! oh iya,nama kamu siapa?" aku tekejut,dengan membalas uluran tangannya,aku menjawab "makasih kak..nama aku dera. kaka beneran mau maenin gitar buat aku?? makasih banget yah kak..aku bakalan nyanyi lagu kesukaan kaka deh....kaka pngn aku nyanyi apa??" bayu tersenyum melihat tingkah ku yang sangat kekanak-kanakan..
"kamu tau lagu slank yang judulnya KU TAK BISA?" tnya bayu.."tau banget kak,kaka pngn aku nanyi itu??" bayu mengangguk. aku pun bernyayi dengan diiringi petikan gitar bayu.

Niko dan teman-temannya takjub mendengar suara ku. "waaaahhh...suara lu bagus banget der..hebaaatt deh,sini gw kasih tanda tangan!" kata niko. ketika niko memberi tanda tangan di buku ku,teman-temannya pun ikut memberikan tanda tangan mereka. bayu tesenyum kepada ku...senyumannya maniiiis sekali. tuhaannn...jantung ku rasanya mau copot melihat senyumannya. "suara kamu bagus." kata bayu.

Hari itu pun berlalu..akhirnya masa MOPD telah selesai,kini hari pertama ku mengenakan seragam putih biru. waktu itu adalah pengumuman kelas,hasil dari pengumuman itu,aku akhirnya duduk di kelas 7-3,seketika itu,aku dan sahabat ku fitri berhambur masuk kedalam kelas. aku memilih duduk di bangku depan di depan pintu,aku terkejut ketika melihat ke atas,ternyata bayu duduk di deretan bangku paling belakang,dia sangat terlihat jelas. aku senang,ternyata kelas ku dan kelas bayu bersebrangan. setiap hari,aku memperhatikan bayu dari balik jendela kelas. suatu hari,aku cerita tentang perasaan yang selama ini kau pendam kepada sahabat ku fitri.."serius lu der?? emang iya sih..bayu itu ganteng banget,tapi kan cowo ganteng itu pasti banyak yang suka,mustahil banget dia belum punya pacar..secara tampangnya itu loh der...ganteeeng banget,bisa-bisa nanti lu di labrak kaka kelas kalo mereka tau lu naksir sama dia!"

"gw gk peduli fit..yg jelas,gw suka banget sama dia,gw baru ngerasain ini fit..mungkin ini yang di sebut FIRST LOVE yah fit??" jawab ku.
"iya...gw ngerti der. ya udah deh,gw dukung lu. tapi lu harus berani dong ngomong sama dia kalo lu suka sama dia!"

Mendengar ucapan fitri,aku berfikir. aku berencana untuk memberikan hadiah valentine untuk bayu.setidaknya dia tahu kalo selama ini aku mengaguminya.
"fit...hari ini kan valentine,lu tau gk?? gw udh nyiapin hadiah buat bayu." fitri kaget,"nekad lu yah der,ya udah,nanti istirahat,gw panggil bayu buat nemuin lu d depan toilet sekolah!"
yah..itu lah fitri,dia selalu mendukung apa yang aku mau. dia memang shabat yang baik. setelah istirahat tiba,fitri menepati janjinya untuk membawa bayu kedepan toilet sekolah untuk menemuiku.
"dera?? kamu manggil kaka? ada apa?" aku gugup,kaget,senang,bercampur aduk rasa ku saat itu. "eh kak bayu...hhehe. iya kak,aku cuma mau ngasih ini buat kaka." aku menyerahkan bungkusan yang berisi coklat untuknya. "buat apa? kaka kn gk ulang tahun!" aku malu sekali saat itu,dengan gugup aku menjawab,"itu hadian buat kaka,hari ini kan hari kasih sayang,jadi dera cuma mau ngasih hadiah buat org yg dera sayang aja. dera sayang sama kak bayu." sekuat tenaga aku mengerahkan tenaga ku,menyingkirkan rasa malu ku hanya untuk mengatakan itu kepada bayu. tapi reaksi bayu hanya tesenyum. "makasih ya der!" aku kaget...MALU gara-gara melihat reaksi bayu.

Dengan perasaan kacau,aku masuk ke dalam kelas,disana sudah ada fitri yang menunggu cerita ku. aku menangis,aku merasa sangat malu karena aku telah melakukan hal yang bodoh dalam hidup ku.

Hari-hari pun berlalu,ternyata bayu menunjukan perubahan sikapnya terhadapku,dia sangat baik dan perhatian terhadapku. hampir setiap jam dia menelpon ku,aku sangat senang dengan keadaan yang seperti ini,walaupun kini aku dan bayu hanya menjalani hubungi tanpa status,namun gosip yg beredar di sekolah kalau aku dan bayu itu berpacaran,awalnya aku merasa nyaman dengan gosip seperti itu,karena mungkin dengan begitu,tidak akan ada yang berani menggoda bayu,karena yang mereka tahu,dia adalah milik ku. namun pikiran ku salah besar,tidak aku duga,ternyata ada seorang kaka kelas wanita ku,namanya rani,dia melabrak ku dan mengatakan kalau dia sudah lama mengincar bayu. "ya udah sih kak,kita bersaing secara sehat aja!" jawab ku seakan menantang dia. "berani lu sama gw? oke..jangan nyesel kalau nanti bayu ninggalin lu!" kata-kata rani sangat membuat ku sakit hati dan sedih,aku benar-benar takut kehilangan bayu,sangat takut.

Singkat cerita,akhirnya bayu pun lulus dari sekolah kami. aku sedih,sangat sedih karena aku tahu,tidak akan ada lagi sosok bayu di sekolah ku,tidak akan ada lagi sosok yang akan melindungi ku dari ancaman kaka kelas ku,rani.

"kamu jangan sedih dera,kaka janji kok bakalan tetep telponin kamu tiap hari." ucap bayu. aku cukup merasakan ketenangan ketika mendengar kata-kata bayu. tahun pertama dia masuk SMA,dia memang rutin menelepon ku hanya untuk menanyakan keaadaan ku,tapi setelah tahun kedua,bayu menghilang,tidak ada kabar darinya,handphonenya tidak bisa di hubungi,aku kalang kabut mencari tahu tentang bayu. bertahun-tahun aku tidak tau keberadaan bayu,dan juga aku tidak pernah tau kabarnya seperti apa.
 Sampai suatu hari,ketika aku sudah masuk SMA,aku mulai menemukan titik terang tentang keberadaan bayu,ternyata selama ini dia pindah keluar kota.

"dera..udah dong jangan mikirin bayu aja! udah 3 taun lu mikirin dia terus,sekarang lu udah tau kan dia ada di luar kota? jadi udah..jangan harepin dia lagi!" ujar fitri ketika melihat keadaan ku yang sedang sakit. memang,akhir-akhir ini aku sering masuk rumah sakit,tapi aku sendiri tidak tau penyakit apa yang menyerang ku,orang tua ku bilang,aku hanya demam dan anemia biasa,sehingga aku sering merasakan sakit kepala.

Suatu hari,ketika aku sudah merasa sehat,aku mulai kembali masuk sekolah. ketika aku sampai di rumah,mama ku memberi kabar bahwa tadi ada seorang pria yang mencariku,dia hanya menitipkan sepucuk surat untuk ku. setelah aku buka surat itu,aku sangat terkejut,ternyata bayu...dia meninggalkan nomer handphonenya untuk ku. tanpa pikir panjang,aku langsung menelpon dia.
"haloo...kak bayu?"
"iya...dera yah?"
"iya kak..kaka kemana aja? kenapa gk ngabarin dera? mna janji kaka yg bilang mau nelpon dera tiap hari? dera kangen banget sama kak bayu! tadi kak bayu ke rumah yah?"
"iya dera...kaka minta maaf,waktu itu handphone kaka ilang,jadi kaka gk bisa ngabarin dera,mau ke rumah kamu juga gk sempet!"

Kurang lebih 2 jam aku melepaskan rinduku pada bayu lewat telpon,akhirnya kami berjanji untuk bertemu,sekedar melepas rindu. kami bertemu di salah satu mall d daerah ku. "kita mau kemana kak??" tanya ku pada bayu, "kita nonton aja yu?" ajak bayu. dengan semangat,aku mengikuti ajakan bayu.

Selama di dalam bioskop,pandangan ku tidak pernah lepas dari bayu,sungguh,aku sangat mencintai sosok pria yang ada di hadapan ku. ketika aku tengah asik ngobrol dengan bayu,ponselnya pun berbunyi,setelah aku lihat,ternyata tertulis "my love rani memanggil" ada panggilan masuk untuk bayu,dan itu pasti dari wanita,sesaat bayu meninggalkan ku untuk menerima telpon dari wanita yang bernama rani itu. "telpon dari siapa kak? kok pake ada kata-kata my lovenya?" tanya ku pada bayu. "itu pacar kaka der!"
duuuaaarrr...hati ku bagai di serang petir di tengah hari bolong.

"itu namanya rani kak? bukan rani kaka kelas aku waktu di SMP kan kak?" tanya ku dengan berusaha agar tetap tegar. "bukan der..kaka gk mungkin pacarin cewe yang udah nyakitin kamu,yang udh ngusik hidup kamu dera...kaka janji" bayu mencoba menenangkan aku. tapi bukan kata-kata itu yang aku harapkan kaluar dari mulut nya. jujur saja,aku sangat ingin menjerit saat itu,aku sangat terpukul ketika tahu bahwa dia telah mempunyai kekasih,itu artinya penantian aku selama ini sia-sia. "ya udah,gak apa-apa kok kak,sebagai adik,dera cuma pengen yang terbaik buat kaka,selama ini,dera cuma anggap kak bayu kaka dera sendiri kok!" ucap ku membohongi diri dan perasaan ku sendiri. "makasih banget yah dera.." jawab bayu.

Tiba di rumah,aku berdiam diri di kamar,aku menangis,aku tak kuasa menahan rasa kecewa ku..ingin sekali aku membenci bayu yang selama ini tidak menghargai perasaan ku. tapi aku tidak bisa membencinya.

Suatu hari, sepulang sekolah, aku tidak langsung pulang,aku mampir ke toko buku untuk membeli novel kesukaan ku,disana aku melihat bayu sedang asik membaca komik kesukaannya. "kak bayu..ngapain disini? asiik..dera bisa nebeng pulang dong?" canda ku kepada bayu. "eh dera...." bayu tampak kaget ketika dia tahu kalau aku ada di tempat yang sama dengan dia.
"eh anak kecil..ngapain lu disini??" suara itu mengejutkan aku..betapa terkejutnya aku ketika tahu bahwa suara itu adalah RANI,musuh terbesar ku selama aku di SMP. "lu sendiri ngapain disini?" tanya ku ketus.
"gw nemenin pacar gw beli buku,pacar gw itu bayu!"
duuuuaarr...petir kembali menyambar ku...aku kembali kecewa untuk kesekian kalinya kepada bayu..dia berjanji untuk tidak menjalin hubungan dengan rani,tapi ternyata dia telah menjalin hubungan dengan orng yg paling aku benci. apa maksud semua ini?? aku sangat bingung,kecewa,dan sakit hati. Aku berlari meninggalkan mereka,aku pikir,bayu akan mengejar ku,ternyata tidak. bayu sama sekali tidak mempedulikan aku.

Sampai di rumah,aku mengurung diri di dalam kamar,aku tidak berhenti menangis,sampai aku tertidur karena lelah menangis. sore harinya,aku terbangun dari tidur ku,aku keluar kamar dengan mata yang sembab,ketika aku mulai keluar dan ingin menghirup udara di luar,bayu datang. "dera..kamu kenapa tadi pergi gitu aja?" tanya bayu pada ku. "gk apa-apa kok,dera cuma cape,pengen pulang! kaka mau ngapain kesini?"

"kaka mau ngasih kamu sesuatu,kaka harep,kamu bakalan suka!" aku tersenyum mendengar kata-kata bayu,aku mencoba menebak,apa yang akan bayu berikan pada ku. ternyata bayu memberikan ku surat undangan pernikahan. "siapa yang nikah kak?" tanya ku pada bayu

Setelah aku buka,ternyata bayu akan segera menikah dengan wanita itu..wanita yang sangat aku benci,dan dia juga membenci ku. "kaka mau nikah sama si rani?"
"iya der,kamu harus dateng yah!"

Tanpa menghiraukan bayu,aku masuk kedalam rumah. disana,aku kembali menangis..bayu akan segera menikah,dan itu artinya penantian,perasaan ku selama ini untuknya sangaat sia-sia....entah kenapa,saat itu aku merasakan sakit yang luar biasa pada kepala ku,sampai akhirnya aku jatuh pingsan. entahlah,aku mengira saat itu aku hanya terlalu lelah menangis,ternyata semua salah. selama ini orang tua ku membohongi tentang penyakitku,aku bukan hanya sekedar anemia,tapi aku mengidap penyakit kanker otak. satu minggu belakangan ini aku berada di rumah sakit,aku ingat bahwa besok adalah pernikahan bayu. ingin sekali aku datang untuk mengucapkan selamat untuknya,tapi aku takut tidak dapat membendung air mata ku di hadapan bayu. ketika aku sedang memikirkan bayu,tiba-tiba rasa sakit di kepala ku menyerang begitu hebat,aku rasa aku tidak dapat bertahan lagi saat ini. aku sudah tidak mampu melawan rasa sakit ini,saat itu aku melihat sosok makhluk berbaju putih tersenyum pada ku. saat itu juga aku yakin bahwa aku telah sampai di akhir usia ku.

Yaah...aku meninggal dunia karena kanker otak yg selama ini bersarang d tunbuh ku. aku meniggal tepat ketika bayu menikahi rani..wanita yang sangat membenci ku.

Tapi...FIRST LOVE NEVER DIE,aku membawa pergi rasa cinta ku kepada bayu..aku yakin,rasa cinta ini akan selamanya ada dalam pikiran ku,meskipun jasadku sudah tidak ada dalam bumi ini.


The End


Karunia Mutiara Cinta - Bois

Malam terlihat cerah, di depan gerbang sebuah rumah besar, dua orang pemuda tampak sedang berbicara dengan seorang pembantu yang bekerja di rumah itu.

"Selamat malam, Mbak. Kami temannya Lisa. Boleh kami bertemu dengannya?" pinta Bobby  perihal maksud kedatangannya.

"Betul, Mbak. Bukankah dia menginap di sini?" timpal Randy yang sudah tak sabar ingin berjumpa dengan kekasihnya.

"O... kalau begitu, tunggu sebentar ya!" pinta si pembantu seraya bergegas masuk. 

Tak lama kemudian, si pembantu sudah kembali dan mempersilakan keduanya menunggu di beranda. Saat itu Randy langsung duduk seraya menyalakan sebatang rokok, sedangkan Bobby masih berdiri—memperhatikan sebuah patung aneh yang ada di situ. 
 
Beberapa menit kemudian, Lisa sudah keluar bersama Nina—sahabatnya yang tinggal di rumah besar itu. Lisa yang mengetahui maksud kedatangan Randy segera mengajaknya menuju ke kursi taman, sedangkan Bobby dan Nina menunggu di beranda. Sambil menunggu, mereka berbincang-bincang, mengingat semua kenangan manis yang mereka alami.
 
Maklumlah, sudah lama sekali mereka tidak bertemu, dan terakhir bertemu ketika mereka masih anak-anak, saat itu Nina dan keluarganya pergi keluar negeri untuk waktu yang cukup lama.
 
"Nin... kau masih ingat saat kita main pengantinpengantinan?" kata Bobby membuka pembicaraan sambil memberanikan diri memandang wajah Nina yang sedang tertunduk, sungguh tampak manis dan mempesona. Dalam hati, pemuda itu merasa takjub,

"Nin.. Aku tidak menyangka, kalau sekarang kau sudah menjadi gadis dewasa," katanya membatin.
 
Namun belum sempat pemuda itu menarik pandangan, tiba-tiba Nina sudah menatapnya. Sebuah tatapan yang dirasakan Bobby begitu hangat dan membuat jantungnya kian berdebar kencang. Lantas dengan segera keduanya mengalihkan pandangan sambil meninggalkan kesan di benak masing-masing, yaitu perasaan bahagia yang begitu mendalam. Saat itu Bobby mengalihkan pandangannya ke arah taman, sedangkan Nina tampak tertunduk malu.
 
Sementara itu di kursi taman, Randy dan Lisa masih membicarakan masalah mereka. Keduanya tampak saling berpandangan dengan tangan saling berpegangan.

"Lis... Benarkah kau mau memaafkanku?" tanya Randy memastikan.

"Iya, Kak. Aku menyadari kalau itu memang bukan salahmu."
"Terima kasih, Lis," ucap Randy seraya meremas tangan Lisa dengan lembut.

"Janji ya, kau tidak akan memberi kesempatan padanya untuk menemuimu lagi !" pinta Lisa seraya membalas remasan tangan pemuda itu. 
 
Randy mengangguk, kemudian dia segera mencium kening Lisa dengan penuh kasih sayang. Setelah pertemuan malam itu, Bobby sering berkunjung ke rumah Nina, hingga akhirnya mereka saling menyatakan cinta. Malam minggu pertama terasa begitu indah, bagaikan bunga warna-warni yang senantiasa harum mewangi. Tiada perasaan yang terucap selain cinta dan sayang, dan tiada perasaan yang terungkap selain peluk dan cium.

Bahkan keduanya sudah berjanji untuk saling menyayangi dan mencintai dengan sepenuh jiwa. Dan di setiap malam Minggu, mereka selalu menyempatkan diri untuk bertemu dan saling berbagi.
 
"Nin… Aku sangat mencintaimu. Cintaku padamu setinggi langit dan sedalam lautan," ucap Bobby seraya membelai rambut Nina yang panjang sebahu.

"Begitu pula aku, Kak. Setiap yang ada pada dirimu merupakan bagian dari diriku, rasanya... aku ingin selalu berada di sisimu," ucap Nina seraya merapat di pelukan pemuda itu.

"Nin ! Bolehkah aku menciummu sebagai ungkapan rasa cintaku!" pinta Bobby seraya menatap mata kekasihnya dengan hangat.

Nina tidak menjawab, saat itu dia terus menatap Bobby dengan tatapan penuh cinta. Lalu dengan perlahan kedua matanya tampak terpejam—tanda yang biasa diutarakan atas kesediaannya dicium oleh Bobby. Kemudian dengan perasaan cinta yang bergelora, keduanya tampak berciuman dengan mesranya. Sungguh saat itu keduanya sudah terjerat oleh cinta yang membutakan, sehingga apa yang mereka lakukan itu seakan ungkapan saling mengasihi, padahal apa yang mereka lakukan itu justru saling meracuni hati. Sementara itu di sebuah taman yang berada di tengah kota, Randy tampak sedang mengejar Lisa yang berlari sambil mengucurkan air mata. 
 
"Lis! Lisa…! Tunggu Lis! Mengapa kau tidak mau mengerti? Apa lagi yang harus kujelaskan padamu?" teriak Randy dengan nafas terengah-engah.

Lisa tidak menghiraukan teriakan itu, dia terus berlari dan berlari—berusaha menghindar dari kejaran pemuda yang sudah begitu dibencinya. Ketika sampai di sebuah tikungan, tiba-tiba gadis itu menghentikan larinya, kemudian melangkah menghampiri Randy. "Kak, sepertinya aku memang harus bicara padamu," katanya kepada Randy yang kini sudah berdiri dihadapannya.
 
"Syukurlah, Lis…! Akhirnya kau mau mengerti juga," kata Randy dengan mata berbinar.

"Ia, Kak. Kini aku telah mengerti dan menyadari kekeliruanku," kata Lisa seraya menghapus air matanya. "Ke-ketahuilah, Kak! Sesungguhnya kita memang sudah tidak cocok dan tak mungkin bisa bersatu lagi," sambungnya kemudian dengan kedua mata yang menatap Randy dengan penuh kebencian.
 
"Ini! Kukembalikan tanda cinta darimu, dan jangan pernah engkau menemuiku lagi!" larangnya seraya melemparkan kalung dan cincin yang pernah diberikan padanya sebagai tanda kesungguhan cinta Randy, kemudian gadis itu segera berpaling dan berlari meninggalkan pemuda itu.
 
Pada saat yang sama, Randy hanya terpaku memperhatikan kepergian Lisa, di dadanya bergejolak perasaan sedih yang begitu mendalam, terasa sesak dan menyakitkan.


( Password : Novel I-One )


Lupus, Tragedi Sinemata - Hilman Hariwijaya

Hahaha, buku ini sungguh kocak. Meski kocaknya zaman dulu sih. Buku ini terbit pertama kali tahun 1987. Wah, aku saja belum lahir! Pantas saja ada kata-kata zaman dulu, seperti ’kece’ (kurasa kata ini sudah diganti ’keren’ dalam novel-novel yang baru), atau ’ogut’ dan ’nginyem’. Aku tak tahu arti kata nginyem, tapi kelihatannya sih seperti diam keki atau malu begitu. Kayaknya loh.

Oya, buku ini bercerita tentang seorang anak SMA bernama Lupus (namanya aneh ya). Lupus ini orangnya lucu banget. Teman-temannya juga lucu banget, misalnya Boim yang norak, Gusur yang gendut, nggak kece, tapi sok nyastra, Fifi Alone yang ngartis.

Nah, dalam buku ini diceritakan kisah lupus yang kebanyakan konyol, misalnya waktu dia apel ke rumah ceweknya yang bernama Rina. Bapak si Rina ini galak banget. Lupus dan Rina sering banget digangguin sama si Bapak ini.

Ada juga kisah Lupus yang dendam sama adiknya Lulu, gara-gara Lulu nyolong coklatnya Lupus. Lupus memasang broklak (obat pencuci perut yang mirip coklat) untuk menjebak Lulu. Tapi yang makan broklak itu justru Gusur. Gusur akhirnya lemes gara-gara diare, hahaha.

Sampai sekarang Lupus masih populer. Menurutku sih karena sebenarnya masalah remaja itu sama saja dari waktu ke waktu. Nggak jauh-jauh deh dari masalah sekolah, orang tua, teman, cinta. Lupus misalnya mencontek rambut John Taylor. Aku tidak tahu siapa itu John Taylor, pastinya selebritis zaman dulu. Sekarang anak-anak cowok mencontek gaya rambut Giring Nidji. Jadi yah, sama saja.

Lupus, anak nakal yang doyan permen karet itu, ternyata malah sering dikangeni. Hadirnya dia di tengah-tengah teman-temannya membuat hidup remaja lebih berkelir. Penuh warna-warni indah. Padahal, apa sih kelebihan yang dimiliki Lupus? Gaya bicaranya yang ceplas-ceplos? Penampilannya yang berkesan santai? Atau justru sikapnya yang kadang-kadang nakal?

Nggak tau ya. Yang jelas tiada hari ceria tanpa kehadiran dirinya (taela!). Tiada rasa rindu tanpa canda ria bersamanya. Itu kata mereka sendiri : remaja. Sedang Lupus sendiri menanggapi dengan cuwek bebek aja "Ah, enggak enak dikangeni itu. Kalo kebetulan berhalangan hadir, suka ditanya-tanya terus. Repot, kan...," katanya sambil cengar-cengir.

Tapi tentang keberhasilan Lupus jadi idola remaja ini, penulisnya cuma bisa ngerendahin diri, ninggiin mutu,"Ah, itu kan cuma karena selera saya memang sama dengan selera remaja pada umumnya. Jadi apa yang disukai remaja, biasanya saya juga suka."

Dan judul keempat dalam seri Lupus : Tragedi Sinemata ini tetap akan memuaskan kamu semua. Soalnya, selera kita kan memang sama. Jadi, mau apa lagi?
 
 
 
( Password : Novel I-One )
 
Subscribe to Novel I-One

Enter your email address: